Beda “Perusahaan” Kaya dengan “Orang” Kaya

Beda “Perusahaan” Kaya dengan “Orang” Kaya*

Kata “Kaya” semakin banyak digunakan para motivator. Demikian juga buku-buku motivasi. Sayang sekali bila mereka menyamakan sukses dengan kaya, dan kaya adalah tujuan dalam melakukan apa saja, ya berwirausaha, ya berpolitik. Bahkan berbagi pun ditujukan agar mendapat imbalan, “kembalian yang lebih besar dari Allah”. Mari kita buka fakta-fakta berikut ini.

Kaya Raya, Banyak Harta
Ustad Jaya Komara,  tewas di sel tahanannya setelah ditangkap  2 bulan lalu di sebuah hotel melati di Purwakarta. Ustad Jaya adalah wirausaha sukses yang kaya raya.  Kekayaannya diduga polisi sebesar Rp. 6 trilyun, berasal dari 125.000 orang nasabah Koperasi Langit Biru. Caranya “sangat cerdas”, yaitu menawarkan cara cepat kaya dengan metode money game.  Menurut polisi, Ia memiliki banyak tanah dan sawah dan saat ditangkap sedang bersama istri mudanya.

Kedua, Inong Melinda Dee juga dikenal sebagai perempuan kaya saat bekerja di Citi Bank – Jakarta. Walaupun posisinya hanya Relationship Manager, ia bisa memiliki suami siri berusia baya dan membelikan mobil-mobil mewah (Ferrari Scuderia, Ferrari California dan Hummer) untuk suami barunya itu. Di luar, suami baru itu mengaku sukses  berwirausaha. Saya sempat heran  saat mendengar seorang “motivator” menyebutkan itulah bukti kerja cerdas.  Belakangan kita semua mengetahui, kekayaan itu hanya dapat diperoleh melalui jurus  membobol rekening nasabah Citibank. Malinda divonis 8 tahun penjara. Baca lebih lanjut

Cracking Zone “Sebuah Perubahan”

Sadarkah Anda bangsa ini telah mengalami perubahan yang sangat besar? Pertanyaan itulah yang mengawali cover preview buku Cracking Zone yang ditulis oleh Rhenald Kasali.

Perubahan sangat besar yang dimaksud oleh Rhenald adalah gejala-gejala ekonomi yang ditandai oleh empat pilar. Pertama, Pendapatan per kapita yang menyentuh US$ 3.000. Kedua,jumlah ponsel yang mendekati populasi, dan 50% di antaranya mempunyai kapasitas mengakses jejaring sosial. Ketiga, menguatnya gejala freemium dalam bisnis. Dan keempat, munculnya Gen C yang cepat berubah karena terhubung satu dengan lainnya.

Menurut Rhenald, dalam suasana transformatif itulah seorang craker lahir atau muncul. Cracker muncul untuk membuat suasana kompetitif yang jenuh menjadi lebih dinamis. Cracker menciptakan retakan-retakan perubahan. Cracker muncul bukan semata memperbaharui organisasi atau perusahaannya, melainkan industrinya.

Buku yang menjadi national best seller dalam waktu kurang dari tiga bulan ini terbagi menjadi empat bagian besar. Bagian pertama mengulas tentang fakta-fakta baru yang menandakan cracking zone. Bagian kedua mertajuk “Breaktrough” mengulas tentang banyak contoh personalcracker. Bagian ketiga mengulas tentang manajemen cracking zone. Dan bagian terakhir sebagai epilog menceritakan tentang crackership.

Inilah buku perubahan yang dicari banyak orang. Sebuah hasil kajian yang membuka mata dan membuat Anda ingin segera bertindak. Jika Anda seorang leader, maka itu tidak cukup, jadilah seorang cracker. (Pn)

Judul Buku      : Cracking Zone

Penulis             : Prof. Rhenald Kasali, Ph.D

Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit    : 2011

Tebal               : 356 halaman

(sumber : http://majalahinovasi.com)