The End Is Another Begining

Tahun baru 2014 sudah berjalan hampir satu minggu. 2013 makin tertinggal sedikit demi sedikit. Tapi apa sih sebenarnya yang berganti di tahun baru? Selain kalender yang mesti diganti, kehidupan rasanya berjalan seperti sediakala, tidak tiba-tiba berubah dalam 1 malam seperti keajaiban dalam film-film Disney.

Lalu apa yang dirayakan pada malam tahun baru itu? Apa banyaknya prestasi yang diperoleh ditahun 2013. Tidak juga. Rasanya yang paling benar adalah harapan akan kehidupan yang lebih baik, harapan akan hidup baru. Makanya berbondong-bondong orang membuat target-target dan resolusi-resolusi.

Tidak mesti tahun baru. Memulai hidup baru tidak perlu menunggu tahun baru. Proses tranformasi terjadi setiap hari. Ketika tahun berganti baru, maka hiduplah di hari ini, ucapkan selamat tinggal pada masa lalu, dan terima apapun yang telah terjadi. Hadapi hari dengan semangat baru, semangat perubahan.

Hidup tak akan maju ketika kita masih terperangkap di masa lalu. Kecuali anda seorang sejarawan yang memang menjalani kehidupan dan mencari penghidupan dengan melihat ke masa lalu. Melihat kebelakang melalui spion waktu mengendarai mobil juga tidak boleh terus-menerus, lihatlah ke depan.

Bila masih ada luka, rasa sakit, rasa salah, rasa tidak puas, Let it go. Maafkanlah. Ikhlaskanlah. Berterimakasihlah pada Tuhan atas pengalaman apapun yang terjadi, karena ada masa lalu, maka kita ada hari ini.

-entah ngomong apa, yang penting- Selamat tahun baru 2014, Selamat bertransformasi jadi lebih baik.

Iklan

Dialog Hari Buruh Hari Pendidikan

Setelah hari buruh, hari pendidikan. Ada apa ini? Mungkin cita-citanya agar buruh itu menjadi terdidik. atau yang terdidik itu menjadi buruh.

Mengenai yang kedua, ada diskusi menarik tadi siang. Seorang kawan bicara menyalahkan para sarjana-sarjana terdidik yang menjadi “buruh” perusahaan asing. Dia bilang percuma saja, ga nasionalis, mentalnya pragmatis.

Lalu saya tanya seharusnya bagaimana? Dia bilang lebih baik merintis usaha. Bisnis katanya. Buka lapangan kerja katanya.

Saya tanya, lalu apa gunanya kuliah kalau ilmunya ga dipakai? Dia bilang itu membentuk pola pikir saja. Baca lebih lanjut

Islamic Art Museum – Malaysia

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Akhir november kemarin ceritanya saya sempat mengunjungi Islamic Art Museum di KL. Dan itu luar biasa banget. Miniatur-miniatur Masjid dan detil arsitekturnya. Baju-baju perang. Pakaian-pakaian kebesaran. Keagungan sejarahnya dan sebagainya.

Sangking kagumnya,sampai-sampai saya dan istri punya cita-cita ingin buat museum sejenis di Indonesia. Notabene Indonesia adalah muslim terbesar di dunia. Jadi toh wajar dan bisa dikatakan “kalau mau belajar Islam ya ke Indonesia”.

Dicicilah tahun depan punya gedungnya dulu lah. Isinya nanti patungan. Kira-kira 5 tahun ke depan jadi museumnya. Amiin..

Cuma ada selikas pikiran yang ga mengenakkan sih mengenai museum tersebut atau juga museum atau pameran Islam lain, seperti http://www.1001inventions.com/ contohnya. Yakni itu semua adalah karya dari masa lalu. Jadi kalau mau melihat suksesnya Islam itu di masa lalu. Masa sekarang gimana? dimana?

Mudah-mudahan kita umat muslim, terutama saya sendiri tidak terjebak dan hanya terkagum-kagum saja dengan kenangan masa lalu. Tapi juga berusaha mewujudkan kembali jayanya Islam di masa kini dengan karya.