Structural Transformation

Jürgen Habermas (sosiolog dari jerman) di dalam bukunya “The Structural Transformation of the Public Sphere : An Inquiry into a Category of Bourgeois Society” menyebutkan bahwa definisi dari Structural Transformation adalah Large scale transfer of resources from some sectors to others in a system, necessitated by fundamental changes in its policies or objectives. Hal tersebut sering kali disebutkan sebagai prasyarat dari tumbuhkembangnya ekonomi suatu negara.

Namun sayangnya, jika anda membaca tulisan ini dengan tujuan agar memperoleh pengetahuan yang lebih jauh tentang perkembangan ekonomi atau pembahasan mengenai structural transformation maka anda salah dan sebaiknya berhenti membaca. Karena pada tulisan ini saya hanya belajar membuka tulisan dengan cerdas dan menarik. Dan bila ternyata anda masih membaca sampai kalimat ini, ternyata saya telah berhasil.

Terimakasih anda 🙂

Jadi sebenarnya saya yang ingin saya bahas dalam structural transformation ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan definisi diatas melainkan perubahan struktural pada diri saya selama beberapa tahun terakhir, terutama struktur wajah. Singkatnya tingkat penggemukan wajah saya. hehehe..

Tidak perlu berpanjang lebar, langsung saja structural transformation pada diri saya dapat dilihat pada gambar-gambar di bawah ini.

(atas kiri terbaru, bawah kanan terlama)

Cracking Zone “Sebuah Perubahan”

Sadarkah Anda bangsa ini telah mengalami perubahan yang sangat besar? Pertanyaan itulah yang mengawali cover preview buku Cracking Zone yang ditulis oleh Rhenald Kasali.

Perubahan sangat besar yang dimaksud oleh Rhenald adalah gejala-gejala ekonomi yang ditandai oleh empat pilar. Pertama, Pendapatan per kapita yang menyentuh US$ 3.000. Kedua,jumlah ponsel yang mendekati populasi, dan 50% di antaranya mempunyai kapasitas mengakses jejaring sosial. Ketiga, menguatnya gejala freemium dalam bisnis. Dan keempat, munculnya Gen C yang cepat berubah karena terhubung satu dengan lainnya.

Menurut Rhenald, dalam suasana transformatif itulah seorang craker lahir atau muncul. Cracker muncul untuk membuat suasana kompetitif yang jenuh menjadi lebih dinamis. Cracker menciptakan retakan-retakan perubahan. Cracker muncul bukan semata memperbaharui organisasi atau perusahaannya, melainkan industrinya.

Buku yang menjadi national best seller dalam waktu kurang dari tiga bulan ini terbagi menjadi empat bagian besar. Bagian pertama mengulas tentang fakta-fakta baru yang menandakan cracking zone. Bagian kedua mertajuk “Breaktrough” mengulas tentang banyak contoh personalcracker. Bagian ketiga mengulas tentang manajemen cracking zone. Dan bagian terakhir sebagai epilog menceritakan tentang crackership.

Inilah buku perubahan yang dicari banyak orang. Sebuah hasil kajian yang membuka mata dan membuat Anda ingin segera bertindak. Jika Anda seorang leader, maka itu tidak cukup, jadilah seorang cracker. (Pn)

Judul Buku      : Cracking Zone

Penulis             : Prof. Rhenald Kasali, Ph.D

Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit    : 2011

Tebal               : 356 halaman

(sumber : http://majalahinovasi.com)