Kemenangan Indonesia

Kemenangan Indonesia

Dimana Sang Saka?
Malah warna warni yang berkibar.
Kemana persatuan?
Malah perbedaan yang diangkat.

Saling serang, saling tikam.
Padahal katanya kita semua bersaudara.
Beri janji, tanpa bukti.
Padahal katanya kerja nyata.

Ada yang sudah deadline,
Jadi bilangnya kalau bukan sekarang kapan again.
Ada yang merasa bersih,
Tapi sebenarnya hanya sok suci.

Ada yang punya tivi sinetron,
Malah pindah karena ga diajak jadi calon.
Ada juga yang merasa hebat dapat mandat,
Awas Bung.. Hati-hati kualat..

Ingat selalu kawan..
Janji melahirkan harapan.

Meski kami rakyat sudah biasa kecewa,
Meski dikhianati sakit memang,
Tapi aku rapopo..
Kami tidak mau berhenti berharap..
Kami besok tetap mau memilihmu..

Namun ingatlah kawan..
Bukan untuk kemenangan partaimu.
Bukan untuk kemenangan capresmu.
Tapi untuk kemenangan rakyat.
Kemenangan Indonesia.

***
Dini hari tadi, 8 April 2014

#satir #antigolput

Iklan

Update Pemilu Rektor ITB

1. Adang Surahman, Prof.Dr.Ir., M.Sc : Wakil Rektor Bidang Akademik ITB, Dosen Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL)–ITB

2. Akhmaloka, Dr : Dekan Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA)– ITB

3. Deny Juanda Puradimaja, Prof.Dr.Ir., DEA : Ketua Satuan Penjaminan Mutu ITB, Ketua Kelompok Keilmuan Geologi Terapan, FITB, Kepala Bappeda Jawa Barat (co–assignment)

4. Indra Djati Sidi, Ph.D : Dosen Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL)–ITB, Ketua Dewan Pembina Klub Guru Indonesia

5. Suhono Harso Supangkat, Prof.Dr.Ir., M.Eng, CGEIT : Kepala Pusat Inkubator Bisnis dan Industri ITB, Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI)– ITB, Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika

lihat berita sebelumnya : 10 bakal calon rektor itb 2010-2014

10 Bakal Calon Rektor ITB 2010-2014

PRESS RELEASE

Majelis Wali Amanat ITB memutuskan 10 Bakal Calon Rektor ITB 2010-2014

Bandung, 12 September 2009.

Majelis Wali Amanat (MWA) ITB melalui sidang pleno yang diadakan pada tanggal 12 September 2009 Jam 09.00-11.00 telah memutuskan 10 nama Bakal Calon Rektor ITB 2010-2014 dari 22 Nomine. Sidang pleno dipimpin oleh Ketua MWA Yani Panigoro dan dihadiri anggota MWA yang terdiri dari wakil masyarakat, wakil mahasiswa, wakil pegawai, wakil Senat Akademik, wakil dari Gubernur Jawa Barat, dan Rektor ITB.

Kesepuluh Bakal Calon tersebut adalah :

1.       Adang Surahman, Prof.Dr.Ir. M.Sc

2.       Akhmaloka, Dr.

3.       Deny J.Puradimaja, Prof.Dr.Ir. DEA

4.       Ichsan Setya Putra, Dr.Ir.

5.       Intan Ahmad, Dr.

6.       Indra Djati Sidi, Ph.D .

7.       Irwandy Arif, Prof.Dr.DEA, MSc

8.       Isnuwardianto, Dr. Ir.

9.       Rizal Z. Tamin, Prof.Dr.Ir.

10.   Suhono H Supangkat, Prof.Dr.Ir. M.Eng, CGEIT

“Sidang pleno MWA berlangsung dengan sangat terbuka dimana para anggota MWA sangat proaktif dalam menyampaikan pendapatnya”, menurut Yani Panigoro.

Sebelum masuk ke Sidang Pleno MWA, 22 Nomine mengikuti proses diskusi panel yang dilaksanakan pada tanggal 8-10 September 2009. Panelis terdiri dari Prof. Hariadi P. Soepangkat (tokoh Senior ITB-mantan Rektor ITB 1980-1988), Prof. Hariono A. Tjokronegoro dan Prof. Enri Damanhuri (wakil Majelis Guru Besar ITB), Prof. Tommy Firman dan Prof. Alibasyah Siregar (wakil Senat Akademik ITB), Betti S. Alisjahbana dan HS. Dillon, PhD (wakil Majelis Wali Amanat ITB). Faktor-faktor  yang  di lihat dalam panel diskusi meliputi integritas, komitmen, kepemimpinan yang arif (termasuk keberpihakan)‏, jiwa kewirausahaan (termasuk kreativitas dan inovasi)‏, wawasan, kemampuan managerial, dan pengalaman memimpin lembaga pendidikan dan penelitian. Betti Alisjahbana, ketua panel diskusi, mengatakan bahwa proses berlangsung sangat kondusif. Banyak Nomine muda yang sangat luar biasa dan berpotensi menjadi pemimpin ITB masa depan.

Kesepuluh Bakal Calon Rektor tersebut akan mengikuti proses pemilihan rektor selanjutnya yang terdiri dari :

Proses di Senat Akademik (SA) 10–30 Oktober 2009
Interaksi masyarakat dengan Bakal Calon 10 Oktober 2009
Interaksi SA dengan Bakal Calon 17 Oktober 2009
Proses Seleksi di MWA 20 Nov–5 Des 2009

Info lebih lanjut :

Dapat dilihat di dokumen terlampir, situs: http://rektorkita. itb.ac.id, dan contact person Dr. Benno Rahardyan di 022–2510500 dan email panitia@rektorkita. itb.ac.id

Koalisi bukan bagi-bagi kekuasaan

13 april 2009.1pm.

Selepas Pemilu Legislatif Partai Politik sedang disibukkan dengan hitungan-hitungan angka, analisis strategi, koaliasi dengan siapa, aksi lobbi-lobbi atau juga yang sedang ngetren istilah “komunikasi politik”. Ya..semuanya berusaha mencari posisi yang paling tepat dan nyaman kedepannya, tentunya kalau bisa menang. Tentunya saya yakin sepenuhnya bahwa tujuan partai politik berusaha untuk menang adalah untuk memperjuangkan aspirasi yang diwakilinya, ideologi yang dibawanya, kemakmuran rakyat indonesia, bukan sekedar untuk meraih kekuasaan. Semoga saja..Aamiin…

Kemenangan Partai Demokrat, pada pemilu legislatif 2009 kemarin, membawa Partai Demokrat dan Susilo Bamabng Yudhoyono demikian kokoh dan gagah dalam bermanuver dan memposisikan dirinya, hampir semua partai berebut untuk mendekat kepada Partai Demokrat sekarang ini. Demikian gagah dibandign tahun 2004 lalu yang hanya memperoleh kurang- lebih 7%, yang untuk mengajukan SBY sebagai calon presiden, Partai Demokrat harus berkoalisi dengan banyak partai. Sehingga baru-baru ini SBY, dalam conferensi pers kemenangan partai demokrat, dengan tegas menyampaikan hal yang intinya bahwa kontrak politik atau komitmen untuk berkoalisi harus jelas dan diusahakan agar terpublish kemasyarakat luas. Wajar memang, dengan melihat pemerintahan selama 5 tahun terakhir, koalisis besar-besarran pada tahun 2004 lalu terlihat tidak kokoh bahkan saling tikam dibelakang, maka pernyataan tersebut tersirat mengatakan bahwa “sekarang gue menang, silakan koalisi ma gue, tapi lo nurut n kita buat kontrak yang jelas”. Gagah sekali bukan.

Koalisi pada hakikatnya bukan sekedar bagi-bagi kekuasaan, seperti politik yang tujuannya bukan hanya memperoleh kekuasaaan. Jika partai politik yang ada sekrang memahami hal ini, maka niscaya kesejahteraan rakyatlah yang menjadi tujuan dan landasan geraknya. Artinya jika ternyata untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, bisa dengan merekonsoliasi ide dan pemikiran masing-masing partai politik, maka mengapa tidak. Jika pun paska pemerintahan nanti atau pemilu 2014 nanti rekonsoliasi ide ini tidak dianggap lebih baik daripada ide awal partai politik itu sendiri, maka itulah saatnya berpisah jalan. Tidak ada teman yang abadi dan tidak ada musuh yang abadi.

Berdasarkan hal tersebut, arah saya adalah menjelaskan landasan-landasan yang diperlu diperhatikan partai politik untuk berkoalisi. Pertama adalah kemiripan ideologis. Hal ini sangat penting adanya, karena kemiripan ideologis bisa membuat ide awal partai politik setelah rekonsoliasi tidak terpental begitu jauh, serta bisa mengokohkan jalannya pemerintahan kelak; Kedua adalah pencapaian partai poltik tersebut. Konkritnya saya berbicara tentang jumlah perolehan kursi atau persentase kemenangan. Hal ini juga penting, karena jika Gol utama adalah mensejahterakan rakyat dan jalannya adalah dengan memperoleh kemenangan, maka koalisi dengan partai politik yang besar, artinya perolehan suaranya besar adalah mutlak; Ketiga adalah komitmen. Bukan hanya untuk memperoleh kemenangan tapi untuk menjalankan pemerintahan bersama-sama selama 5 tahun, tidak menikam dari belakang, tidak talak 3 sebelum pemerintahan usai. Hal ini begitu sederhana namun begitu sulit; keempat adalah prediksi masa depan. Maksud saya disini adalah penjelasan ide ‘berpisah jalan’ di pemilu berikutnya yang pernah saya sebutkan sebelumny. Jika partai politik itu besar, secara kualitas dan kuantitas, maka ide memimpin bangsa tidak selesai hanya dalam satu perputaran pemerintahan. Secara konotatif ‘ingin menang’ atau ‘ingin berkuasa’ diputaran pemerintahan berikutnya. Karena itu, bagi partai politik menjadi penting untuk mengukur diri dan memprediksi masa depan sebelum berkoalisi dengan siapa, apakah diperputaran roda pemerintahan berikutnya bisa memimpin, jika berkoalisi dengan partai tersebut?

Analisis Instan Hasil Pemilu Legislatif 2009

Jakarta, 10 April 2009.10.50pm.

Pesta demokrasi Indoneisa baru saja diselenggarakan, dengan cukup sukses pada 9 april kemarin. Dengan hasil quick count LSI (per 10 januari,pukul 10.48pm) , 10 parpol besar seperti di bawah ini :

Partai Demokrat : 20.9%

PDIP : 14.6%

Golkar : 14.3%

PKS : 8.6%

PAN : 7.5%

PKB : 6.8%

PPP : 5.1%

Gerindra : 4.8%

Hanura : 3.5%

PKPB : 1.6%

Dari hasil diatas,ada beberapa poin yang menarik perhatian saya, diantaranya; meningkatnya partai demokrat menjadi 3 kali lipat dari perolehan popular vote di tahun 2004; munculnya 2 partai baru, Gerindra dan Hanura, yang dapat menembus 10 besar, bahkan melewati ambang batas parlementary tresshold; adanya 3 partai Islam, PKS, PKB dan PPP, dalam 10 peringkat teratas hasil quick count ini. Ketiga poin tersebut yang akan saya coba bahas, dengan presepsi saya sendiri tentunya, pada tulisan saya kali ini.

Meningkatnya Suara Partai Demokrat (PD)

Pencapaian suara partai demokrat kali ini memang sangat luar biasa, bila dibandingkan dengan pencapaian di pemilu 2004 yang hanya sekitar 7,6%, maka sekarang ini hampir 3 kalinya. PD berhasil melampaui 2 partai besar, yang memimpin pada tahun 2004, yaitu Golkar dan PDIP. PD hampir unggul di semua daerah pemilihan, hal ini membuktikan bahwa kemengan PD dalam pemilu legislatif kali ini adalah mutlak.

Keberhasilan PD kali ini, bisa dikatakan sebagai tanggapan positif dari masyarakat terhadap pemerintahan kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan juga kemampuan PD yang berhasil meyakinkan masyarakat bahwa kesuksesan pemerintahan adalah keberhasilan dari PD semata. Bukan bermaksud menafikan kedekatan caleg-nya dengan masyarakatnya atau pun kekuatan partainya, tapi melihat karakteristik umum masyarakat Indonesia, yaitu melihat tokoh atau figur, maka bisa saya katakan 80% kemenangan PD kali ini, dipegang oleh Susilo Bambang Yudhoyono.

Gerindra dan Hanura

Fenomena PKS dan PD pada tahun 2004 sebagai partai yang melejit, dari tataran partai kecil menjadi partai menengah, kembali terulang pada 2 partai lain pada pemilu 2009 kali ini, yakni Gerindra dan Hanura. Sekalipun tidak sesignifikan PKS dan PD pada tahun 2004, yang mendapat 7% lebih. Namun tetap saja fenomenal, karena menurut saya, ketokohan 2 pimpinan partai ini, yakni Prabowo Subianto dan Wiranto adalah tokoh-tokoh yang mampu menandingi ketokohan Susilo Bambang Yudhoyono. Dan juga hal ini membuktikan eksistensi Gerindra dan Hanura sebagai partai baru, tapi memiliki mesin politik dan kader yang cukup kuat.

Pada pemilu 2009 kali ini, ada sistem parlementary tresshold, yakni sistem dimana yang memberlakuakan bahwa parpol harus melebihi perolehan 2.5%, untuk bisa mengirimkan caleg-nya ke gedung DPR-MPR. Dan luar biasanya Gerindra dan Hanura, sebagai partai baru mereka, bisa mengungguli 17 partai lama, yang perolehannya dibawah 2.5%. Dengan sistem parlementary tresshold ini juga memungkinkan perolehan Gerindra dan Hanura meningkat saat dikonversi menjadi kursi di DPR.

Partai Islam

Jika melihat penjumlahan 3 partai islam 10 besar, yakni PKS, PKB dan PPP, serta partai Islam yang dibawah peringkat 10 besar, seperti PBB dan juga PKNU, maka perolehan partai Islam sekitar 21% lebih. Yang ingin saya cermati disini adalah bahwa keprcayaan masyarakat terhadap partai-partai Islam bahkan jauh lebih besar dari kepercayaan masyarakat terhadap kesuksesan pemerintahan 2004-2009 yang direpresentasikan oleh kemenangan PD. Hal ini yang harusnya bisa diperhatikan oleh para pemimpin partai Islam tersebut, bahwa kemengangan umat Islam bisa terwujud bila Islam bersatu.

Sedangkan secara umum hasil pemilu legislatif 2009 kali ini, menurut saya membuktikan 1 hal, yaitu kecenderungan masyarakat Indonesia untuk memilih adalah berorientasi pada partai-partai besar yang sudah menokoh dan mungkin memiliki idealisme tertentu. Sehingga partai-partai kecil yang kurang menokoh akan tersingkir juga, lebih lagi sekarang setelah ada sistem parlementary tresshold, yang akan membuang partai yang pencapaiannya dibawah 2.5%.

Sehingga saran dan prediksi saya mungkin, ditahun-tahun mendatang partai politik di Indonesia jumlahnya di bawah 10, yang membedakan hanya idealisme yang dipegang partai tersebut, tidak seperti sekarang, hampir tidak bisa dibedakan idealisme yang satu dengan yang lain. Mungkin juga 9 partai yang lolos parlementary tresshold sekarang itu adalah partai-partai Indonesia mendatang.

Wallahu’alam…