Adang anak pengerajin tempe

[1]

Teng..Teng..Teng..
Lonceng sekolah terdengar menggema
Teredam dengan riuh ramai anak-anak yang keluar main
Riang..Gembira..

Sebagian berebut berlari ke tukang gameboy
Sebagian bermain kelereng di halaman sekolah
Tidak ada yang jajan, karena sekarang bulan puasa
Tapi toh mereka tetap bergembira bermain-main

Namun kontras ada pada satu anak
Ia tetap di dalam kelas
Mematung menelungkupkan kepalanya
kedekapan tangannya sendiri di atas meja Baca lebih lanjut

Siang hari diperempatan lampu merah

Siang hari diperempatan lampu merah
Anak-anak putus sekolah berdendang sengau
Serak suara mereka
Mencari tangan-tangan baik yang mau membagi receh
Yang nyatanya harus dipilah juga untuk jatah preman dan makan siang

Sementara ayah-ayah mereka tersungkur di sudut gang pasar
Masih tercium sisa alkohol ramuan sendiri, bekas tadi malam
Atau sebagaian yang lain sedang meringkuk dalam bui
memelas kepada sipir “saya tidak bersalah pak, keadaan yang memaksa”

Sementara ibu-ibu mereka tidur siang
Kelelahan menjadi penghangat bagi dinginnya malam,
Menjadi selimut bagi pejabat-pejabat busuk tak bermoral

Sementara pejabat busuk tak bermoral itu
Sedang ceramah di sebuah hotel mewah
Ceramah kepada orang-orang kaya negeri ini
Berbicara lancar tentang kemiskinan dan pendidikan
“wajib belajar  bagi seluruh anak negeri ini” teriaknya lantang
Kemudian memohon dengan senyum munafik
“untuk itu kami butuh bantuan dari bapak-bapak sekalian”

Meraka menjadi termarjinalkan
Meraka menjadi terasing
Mereka menjadi wajar ada di negeri ini
Mereka menjadi wajib ada di negeri ini
karena siapa,salah siapa..

***
Masih siang
Masih diperempatan lampu merah
Masih dengan anak-anak yang bernyanyi sengau
Jakarta 29 agustus 2009
Panji Prabowo

Destyana Cory Prastiti_4_anak-jalanan-gino(sumber gambar : http://e-pendidikan.depdiknas.go.id/eduReporter/images/Destyana%20Cory%20Prastiti_4_anak-jalanan-gino.jpg)

Kisah Siti Khoiyaroh*

Gedebuk! Tangis melengking Siti Khoiyaroh (4 tahun) terasa menyayat. Tubuhnya terempas ke aspal. Rombong bakso ibunya, Sumariah, jatuh terjungkal.

Tubuh mungil Siti melepuh tersiram kuah bakso mendidih dan bara arang. Sementara tubuh Sumariah tertahan jambakan tangan kasar petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya. Tangis Sumariah dan Mat Naki, suaminya, menjadi-jadi setelah menanti selama delapan hari, si mungil kesayangannya mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Dr Soetomo, Surabaya.

Nasib naas juga menimpa seorang pekerja seks komersial (PSK) di Tangerang. Takut dikejar petugas Satpol PP, ia menceburkan diri ke sungai, menyelamatkan diri. Perempuan malang ini tewas tenggelam.

Kekerasan negara

Itulah sejumput kecil deretan nasib rakyat miskin yang tersingkirkan dari jalanan kota di seantero negeri. Berbagai kekerasan negara terhadap kaum marjinal—rakyat yang melata mempertahankan hidupnya, yang tidak tahu pasti apa yang bisa dimakan esok—terus terjadi.

Khoiyaroh, si mungil yang melata di jalanan kota bersama ibunya mencari sesuap nasi, harus terenggut nyawanya akibat kekerasan negara melalui tindakan Satpol PP atas nama penertiban perda terhadap pedagang kaki lima yang dikategorikan liar, mengganggu keindahan kota. Begitu pula nasib malang sang PSK.

Tindak kekerasan Satpol PP Kota Surabaya bukan hanya terhadap Khoiyaroh. Belum lama ini, istri seorang jurnalis sebuah surat kabar di Surabaya mengalami naas, terkena operasi penertiban kartu tanda penduduk (KTP). Sang istri wartawan didapati tidak membawa KTP. Tanpa ampun, dia diangkut ke Kantor Satpol, dituduh sebagai PSK yang sedang mencari mangsa.

Sang suami pun mencak-mencak. Penjelasan bahwa perempuan itu istrinya dengan bukti KTP yang beralamat sama tidak digubris petugas Satpol PP. Bisa dibayangkan aib yang suami-istri ini terima. Kasus ini memicu unjuk rasa wartawan Surabaya terhadap Satpol PP dan pemerintah kota. Meski telah dilaporkan ke polisi, kelanjutan perkara ini tak jelas juntrungan-nya.

Berbagai tindakan ala premanisme petugas Satpol PP dalam melaksanakan penertiban di sejumlah kota akhir-akhir ini sungguh mencuatkan ironi. Nasib Khoiyaroh adalah gambaran telanjang sebuah tragedi wong cilik, pada saat semua politisi di negeri ini menepuk dada sebagai pejuang dan pembela ekonomi kerakyatan. Bahkan, semua calon presiden dan wakil presiden yang akan bertarung Juli mendatang pun pidato berbusa-busa mengukuhkan diri sebagai pembela ekonomi kerakyatan, membela wong cilik, antineoliberalisme.
Siti Khoiyaroh yang melata bersama ibunya dari subuh hingga larut malam menapaki jalanan kota, berjualan bakso, adalah pelaku ekonomi kerakyatan. Merekalah rakyat yang benar-benar rakyat, yang mengalami ketidakberdayaan akibat termarjinalisasi, terdevaluasi, terampas, dan mengalami pembungkaman.

Tewasnya Siti Khoiyaroh akibat tindak kekerasan ”polisi perda” adalah paradoks, sekaligus ironi terhadap pembelaan ekonomi kerakyatan. Penyingkiran wong cilik dari denyut ekonomi kerakyatan di jalanan kota adalah sama dengan memberikan stempel pada dahi mereka, ”Anda adalah pesakitan karena bukan bagian dari pasar”. Bukankah ini sikap neolib?

Terampas dan terbungkam

Para pedagang kaki lima, pekerja sektor informal, bahkan PSK, pun adalah segelombang rakyat yang berjuang keras untuk bertahan hidup dari hari ke hari tanpa berniat merecoki negara. Namun, atas nama peraturan daerah dengan misi ketertiban dan keindahan kota, atas nama ekonomi pasar, supermarket, hipermarket, mal, para aktor ekonomi kerakyatan itu adalah borok yang harus disingkirkan.

Sumariah, ibu Siti Khoiyaroh, mengalami keterampasan dan pembungkaman atas nasibnya. Ia tidak saja kehilangan rombong bakso tumpuan hidupnya, tetapi juga putri semata wayangnya. Inikah bukti ekonomi kerakyatan yang dipidatokan para pemimpin? Di manakah suara pembela wong cilik yang dikampanyekan para politisi itu?

Saat semua orang berseru, singkirkan neoliberalisme dari visi dan misi para calon pemimpin negeri, Satpol PP di seantero negeri secara telanjang justru menunjukkan, mereka adalah ujung tombak penegakan neoliberalisme, paham yang mendewakan ”fundamentalisme pasar” sebagai hukum yang paling hukum. Sedangkan pelaku ekonomi kerakyatan—pedagang kali lima, pekerja sektor informal di jalanan kota—bukan bagian dari pasar.

Di benak mereka, pasar sebenarnya adalah mal, supermarket, hipermarket, dan sejenisnya. Itulah yang harus dibangun, dilindungi pemerintah, dan diberi tempat terhormat. Lantas, Sumariah, si pedagang bakso dan berlaksa-laksa pedagang jalanan lain yang merayapi penjuru kota, cuma sejenis kutu yang dianggap mengganggu keindahan dan ketertiban kota. Di manakah gaung pidato pembela ekonomi kerakyatan para pemimpin itu harus dirumahkan? Mungkinkah pidato itu berumah di rombong Sumariah?
*Penulis :

Hotman M Siahaan-Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga, Surabaya