Bisnis media : Business as usual

Dalam bisnis media, profesionalisme jurnalis sesungguhnya amat dibutuhkan. Dalam ilustrasi sederhana, profesionalisme “bagian produksi” itu dibutuhkan dalam bisnis apapun. Dalam bisnis roti, profesionalisme pembuat roti adalah kunci. Dia harus mampu menentukan jenis terigu, ukuran ragi, suhu pemangganan, agar menghasilkan roti yang menarik, lembut dan lezat. Apakah pemodal akan mencampuri urusan itu?

Profesionalisme jurnalisme secara teknis adalah sejauh mana para jurnalis menerapkan prinsip pemberitaan berimbang, cover both side, check and balance, berpihak pada kebenaran, dan mengedepankan kepentingan rakyat, bukan penguasa atau bahkan pemilik modal.

Jadi secara logis, apabila idealisme pers dijalankan dan karenanya kepentingan rakyat terperjuangkan. Media tidak akan kehilangan audiens. Dan itu sejalan dengan kepentingan bisnis, karena tujuan utama bisnis media adalah memiliki sebanyak mungkin audiens setia bagi medianya.

Jadi ya bisnis media adalah business as usual. Bisnis untuk kepentingan bisnis itu sendiri bukan untuk alat kepentingan lainnya. Dimana jurnalisme adalah bagian produksi dari bisnis ini, masih ada bagian pemasaran, distribusi, dsb.

-belajar dari Erick Thohir-

Media Oh Media

Sebagai orang yang bergerak di bidang media, perlu ada satu hal yang saya beri tahu, bahwa media itu seni sekaligus bisnis.

Kita perlu trafik, jadi iklan mau bayar mahal. Ini bisnis. Kalau ada konten yang menarik trafik pasti bakal diulas habis, digoreng sana sini. Tambahin bumbu-bumbu biar lebih dramatis. Ini seni.

Apalagi kalau konsepnya advertorial, bahasa gampangnya titip berita.

Makanya sebenarnya yang fair itu ya sosial media atau citizen journalist. Karena si sosial (siapapun) yang sharing konten, dan tanpa mencari profit.

Walopun kayaknya sekarang juga udah mulai banyak yang main rekayasa di media sosial. Haha..