Jangan anggap remeh

Boleh jadi Anda sedang tidur lelap sedangkan pintu langit diketuk puluhan doa untuk Anda.

Doa dari seorang fakir miskin yang telah Anda bantu meskipun sedikit.
Doa dari orang yang telah Anda hibur dari kesedihannya.
Doa dari orang yang lewat di jalan yang telah Anda hadiahkan kepadanya senyuman tulus.
Doa dari seorang yang Anda antar dengan mobil atau motor.
Doa dari seorang kuli bangunan yang Anda buatkan teh tawar.
Doa dari seorang yang telah Anda tunjukkan kepadanya alamat yang dicarinya.
Doa dari seorang yang menitipkan oleh-oleh untuk anak-istrinya di luar kota.
dan sebagainya..

.: Janganlah menganggap remeh amal baik walau sekecil apapun.

-juga sebaliknya jangan anggap remeh amal buruk sekecil apapun-

Gelombang Ke-3 Indonesia

Analisis pak anis matta tentang sejarah, politik, dan gelombang ketiga Indonesia yang disampaikan pada Kongres Kebangsaan Forum Pemred kemarin ini sangat menarik bagi saya.

Ia membagi fase sejarah Indonesia jadi 3 gelombang. Gelombang pertama disebut gelombang “Menjadi Indonesia”, ditandai dengan berdirinya negara Indonesia. Lalu Gelombang kedua disebut gelombang “Menjadi Negara Bangsa Modern” ditandai dengan penguatan lembaga negara dan ekonomi.

Lalu Gelombang ketiga yakni babak baru yang akan kita hadapi sebagai bangsa. Dimana negara memiliki otoritas semakin sedikit, namun tanggung jawab semakin besar. Sehingga untuk dapat bekerja dengan baik harus memiliki ide dan kultur manajemen yang baik.

Lalu babak ketiga ini dicirikan dengan 5 hal, pertama Populasi dipenuhi oleh orang muda, kedua Pendidikan yang baik, ketiga Kelas menengah yang besar, keempat Well connected dan kelima Native Demokrasi (Warga negara asli demokrasi, yang lahir dan besar dalam sistem demokrasi). Baca lebih lanjut

Bisnis media : Business as usual

Dalam bisnis media, profesionalisme jurnalis sesungguhnya amat dibutuhkan. Dalam ilustrasi sederhana, profesionalisme “bagian produksi” itu dibutuhkan dalam bisnis apapun. Dalam bisnis roti, profesionalisme pembuat roti adalah kunci. Dia harus mampu menentukan jenis terigu, ukuran ragi, suhu pemangganan, agar menghasilkan roti yang menarik, lembut dan lezat. Apakah pemodal akan mencampuri urusan itu?

Profesionalisme jurnalisme secara teknis adalah sejauh mana para jurnalis menerapkan prinsip pemberitaan berimbang, cover both side, check and balance, berpihak pada kebenaran, dan mengedepankan kepentingan rakyat, bukan penguasa atau bahkan pemilik modal.

Jadi secara logis, apabila idealisme pers dijalankan dan karenanya kepentingan rakyat terperjuangkan. Media tidak akan kehilangan audiens. Dan itu sejalan dengan kepentingan bisnis, karena tujuan utama bisnis media adalah memiliki sebanyak mungkin audiens setia bagi medianya.

Jadi ya bisnis media adalah business as usual. Bisnis untuk kepentingan bisnis itu sendiri bukan untuk alat kepentingan lainnya. Dimana jurnalisme adalah bagian produksi dari bisnis ini, masih ada bagian pemasaran, distribusi, dsb.

-belajar dari Erick Thohir-

Jerman kali ini – Ep.3 Rhein dan Keabadian Cinta

Berhulu dari Pegunungan Alpen di Swiss, lalu mengalir turun setelah melewati perbatasan negara Leichtenstein, Austria, kemudian mengular melalui kota-kota di Jerman (mulai dari Mainz, Bingen, Bonn, Cologne, Dusseldorf, Duisburg), lalu menembus masuk ke Perancis, dan akhirnya bermuara di tepi North Sea dekat Rotterdam, Belanda. Itulah perjalanan panjang dari aliran Sungai Rhein.

Melewati berbagai, membuatnya memiliki beberapa perbedaan dalam penulisan nama. Rhine (Perancis), Rhein (Jerman), Rijn (Belanda), dan Rhenus (nama lainnya). Sebutan yang paling populer adalah versi Perancisnya, Rhine. Nama sungai ini sebenarnya berasal dari kata ‘renos’ yang ’mengalir jauh’. Ya, sungai ini mengalir jauh membelah Eropa, yaitu sepanjang kira-kira 1.320 km.

Lalu apa menariknya Sungai itu selain panjang dan membelah beberapa negara?

**

Pagi ke-5 di Jerman, tetiba saya ingin belanja oleh-oleh dan sight-seeing melihat-lihat keindahan kota Köln (Cologne). Cukup dekat dari Bonn, hanya sekitar 1 jam perjalanan dengan kereta regional. Terlebih dahulu saya janjian dengan kenalan saya (Simon namanya) yang bekerja di kantor Maskapai Lufthansa di Koln untuk memandu saya berkeliling di sana. Sebenarnya agak ga enak, karena baru kenal 2 hari sudah mau minta tolong yang agak merepotkan. Tapi untungnya dia lagi libur dan bersedia. Baca lebih lanjut

Jerman kali ini – Ep.2 Bonn Kotanya Beethoven

Terletak di Negara Bagian Nordrhein-Westfalen, Jerman, Kota ini ini pernah menjadi ibukota sementara Jerman Barat sejak tahun 1949 sampai 1990 dan menjadi pusat pemerintahan resmi Jerman setelah reunifikasi sejak tahun 1990 sampai 1999. Setelah itu pusat pemerintahan dipindah ke Berlin.

Kesan saya ketika pertama kali sampai di Bonn, “this is a very quite city“, kemudian saya baru tersadar, itu adalah hari minggu. Umumnya di Jerman memang hari minggu benar-benar day-off, banyak tempat perbelanjaan bahkan semacam minimarket pun ikut tutup pada hari minggu. Kebalikan di Indonesia ya.. Minggu justru pada rame di jalan.

Namun memang kota ini bukan tujuan untuk wisata belanja. Kota ini adalah kerjasama internasional, UN Campus (Kampus PBB) dan 18 institusi PBB ada di Kota ini, kantor pusat Deutsche Welle dan Deutsche Telekom juga ada di sini. Sehingga sudah menjadi biasa kota ini jadi tempat bebagai konferensi dan kegiatan internasional di Jerman. Baca lebih lanjut

Arkana

Engkau yang berhati terang
Kabut sunyi engkau telanjangi sendiri
Tak murung engkau melangkah dalam sepi
Membawa asa dan narasi rindu

Di sini aku tertinggal dalam hampa
Sampai tak sempat kucegah waktu
Hingga temaram datang di ujung mata
Tak juga engkau kembali tiba

Engkau yang berhati terang
Kutunggu saja engkau di atas cahaya
Sampai akhir bertemu masa

**
Bandung dini hari, 21 Oktober 2013

Jerman kali ini – Ep.1 Intro

Pertengahan Juni 2013 kemarin, saya kembali berkesempatan menginjakkan kaki di tanah Eropa. Tujuan utamanya memenuhi undangan menghadiri Global Media Forum yang diadakan oleh Deutsche Welle (DW), perusahaan media milik Jerman. Kebetulan 1 tahun terakhir saya baru mulai bergerak di industri media, dengan Majalah Inovasi, jadi ceritanya dateng sebagai start-up-business atau media independen gitu lah. Itu tujuan utamanya, tujuan lebih utamanya jalan-jalan pastinya. :p

Oia dibanding dengan perjalanan saya ke Eropa sebelumnya tahun 2011, pada perjalanan kali ini ada beberapa perbedaan yang cukup signifikan. Perbedaan pertama yang sangat saya sayangkan, kalau tahun 2011 lalu, di Eropa 2-3 bulan, kali ini hanya 2 minggu kurang. Perbedaan kedua, kalau yang lalu saya berombongan dari jakarta, yang kini single traveler. Perbedaan ketiga, kali ini saya sudah nikah, dan istri saya ga ikut.

Paling signifikan perbedaan yang terakhir T.T

Tapi gara-gara itu saya jadi punya akun skype sekarang -telat banget- 😀 Baca lebih lanjut

Inferno (Neraka) dari Dan Brown

inferno_dan_brown_panji_reviewBeli kemarin sore dan khatam sore ini, Dan Brown dengan Inferno-nya kali ini mengambil sebagian besar waktu libur hari raya saya.

Genre mystery thriller yang ditawarkan oleh Dan Brown dalam novelnya kali ini disajikan dengan apik. Deskripsi detil mengenai ikonik, sastra dan sejarah seni dalam menguak teka-tekinya lumayan menantang otak.

Dan seperti novel-novel Dan Brown sebelumnya, novel ini juga syarat dengan konspirasi. Kali ini mengenai wabah senjata biokimia yang dapat mengatasi masalah tersebesar di dunia ini (katanya) yakni over populasi. Organisasi yang menjalankan operasi-operasi rahasia yang ada di dunia ini dan juga WHO ikut menyemarakan narasi novel ini.

Plot awalnya Robert Langdon tetiba terbangun di sebuah rumah sakit dan syok berada di Itali, padahal ingatan terakhirnya dia berada di Amerika. Kebingungan, dan selanjutnya terjadi kekacauan di RS tersebut, dokter yang merawatnya di bunuh, dan Ia pun melarikan diri, tanpa tahu kenapa harus ada pembunuh yang mengejarnya. Twistnya dan reveal di bagian akhir novel juga cukup mengagetkan.

Walo endingnya saya kurang begitu suka, dan kontroversi serta nilai yang coba ditanamkan (seperti novel-novel sebelumnya) juga saya tidak begitu suka. Tapi tetap penilaian pribadi, RECOMMENDED lah ini novel.

Oia penggambaran keindahan arsitektur dan tautan sejarah dari setting novel ini yang ada di Florence, Venice dan Istanbul bikin “ngiler” bikin pengen jalan-jalan ke tempat-tempat itu. Baru 1 dari 3, Semoga bisa ke sana.