Berusahalah sampai Allah tidak mungkin berkata tidak #rejeki

Copy paste dari twitter saya sendiri (@panjiprabowo) ditwitkan pada 18 April 2012. Baca dari bawah ke atas 🙂

@panjiprabowo
Sekian dulu twit ttg #rejeki . Dah beres periksanya #fkgunpad

‏@panjiprabowo
Sekali lagi, berusahalah sampai Allah tidak mungkin berkata tidak pada doa2 kita #rejeki

Prabowo ‏@panjiprabowo
Harus bener2 maksimal dan totalitas diusaha dan didoa. Baru #rejeki yg kita harap itu tercapai

@panjiprabowo
Malah ekstrim klo ibarat wudhu, basuh lengan ga sampe siku itu ga sah wudhunya. Bukan diitung setengah usaha. Dari : @gumi_rh #rejeki

@panjiprabowo
Klo ga maksimal : usaha cuma setengah, doa juga setengah. Hasilnya seperempat malah.. #rejeki

‏@panjiprabowo
Usaha dikali Doa itu baru #rejeki . Walo yg lain nilainya besar, Klo salah satu nol, hasilnya nol juga. Baca lebih lanjut

Makna Hukum Kirchoff

Masih ingat hukum Kirchoff 1?? Hukum yang ditemukan oleh Kirchhoff (yaialah…^^”). Sebelum cerita ke hukumnya, saya mau cerita tentang si kirchoff-nya dulu. Kirchoff, bernama lengkap Gustav Robert Kirchhoff(12 Maret 1824 – 17 Oktober 1887) adalah seorang fisikawan Jerman yang berkontribusi pada pemahaman konsep dasar teori rangkaian listrik, spektroskopi, dan emisi radiasi benda hitam yang dihasilkan oleh benda-benda yang dipanaskan. Dia menciptakan istilah radiasi “benda hitam” pada tahun 1862. Terdapat 3 konsep fisika berbeda yang kemudian dinamai berdasarkan namanya, “hukum Kirchhoff”, masing-masing dalam teori rangkaian listrik, termodinamika, dan spektroskopi.

Gustav Kirchhoff dilahirkan di KĂśnigsberg, Prusia Timur (sekarang Kaliningrad, Rusia), putra dari Friedrich Kirchhoff, seorang pengacara, dan Johanna Henriette Wittke. Dia lulus dari Universitas Albertus KĂśnigsberg (sekarang Kaliningrad) pada 1847 dan menikahi Clara Richelot, putri dari profesor-matematikanya, Friedrich Richelot. Pada tahun yang sama, mereka pindah ke Berlin, tempat dimana ia menerima gelar profesor di Breslau (sekarang Wroclaw). Baca lebih lanjut

Jujur atau Tidak

Dalam prespektif kemanusiaan, jujur atau tidaknya seseorang hanya tergantung sejauh mana kita mau percaya padanya.
Misalnya pada suatu hari anda bertemu dengan seseorang yang tak dikenal di kendaraan umum, lalu tanpa sengaja pembicaraan pun terjadi. Lalu dari pembicaraan itu Anda bisa tahu siapa nama orang tersebut, dari mana dan akan pergi kemana dia. Atau malah jika anda pandai berkomunikasi maka anda mungkin bisa tahu apa pekerjaannya, dimana rumahnya, berapa anaknya dsb. Menerima informasi tersebut Anda sama sekali tidak curiga, walaupun sebenarnya anda sama sekali tidak punya landasan yang mengatakan apakah semua informasi yang di share oleh orang tersebut benar atau tidak. Bisa saja, sedari awal dia berbohong, bahkan tentang namanya sendiri kepada anda. Baca lebih lanjut

4 skenario

Skenario 1
Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi. Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong tersebut. Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk menggoyang-goyangkan kaki. Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh. Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya kepada kita.

“Pak, handphone bapak barusan jatuh nih,” kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik kita.

Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut? Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.

Skenario 2

Handphone kita terjatuh dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya. Orang itu tahu handphone itu milik kita tetapi tidak langsung memberikannya kepada kita. Hingga tiba saatnya kita akan turun dari kereta, kita baru menyadari handphone kita hilang. Sesaat sebelum kita turun dari kereta, orang itu ngembalikan handphone kita sambil berkata, “Pak, handphone bapak barusan jatuh nih.”

Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?

Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut. Rasa terima kasih yang kita berikan akan lebih besar daripada rasa terima kasih yang kita berikan pada orang di skenario pertama (orang yang langsung memberikan handphone itu kepada kita).

Setelah itu mungkin kita akan langsung turun dari kereta.

Skenario 3

Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, hingga kita menyadari handphone kita tidak ada di kantong kita saat kita sudah turun dari kereta. Kita pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone kita, berharap ada orang baik yang menemukan handphone kita dan bersedia mengembalikannya kepada kita. Orang yang sejak tadi menemukan handphone kita (namun tidak memberikannya
kepada kita) menjawab telepon kita.

“Halo, selamat siang, Pak. Saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang,” kita mencoba bicara kepada orang yang sangat kita harapkan berbaik hati mengembalikan handphone itu kembali kepada kita.

Orang yang menemukan handphone kita berkata,

“Oh, ini handphone bapak ya. Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut. Biar bapak ambil di sana nanti ya.”

Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, kita pun pergi ke stasiun berikut dan menemui “orang baik” tersebut… Orang itu pun memberikan handphone kita yang telah hilang.

Apa yang akan kita lakukan pada orang tersebut?

Satu hal yang pasti, kita akan mengucapkan terima kasih, dan seperti nya akan lebih besar daripada rasa  erima kasih kita pada skenario kedua bukan?

Bukan tidak mungkin kali ini kita akan memberikan hadiah kecil kepada orang yang menemukan handphone kita tersebut.

Skenario 4



Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, kita turun dari kereta dan menyadari bahwa handphone kita telah hilang, kita mencoba menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat.

Sampai akhirnya kita tiba di rumah. Malam harinya, kita mencoba mengirimkan SMS
Bapak / Ibu yang budiman. Saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak / ibu sekarang.  Saya sangat mengharapkan kebaikan hati bapak / ibu untuk dapat mengembalikan handphone itu kepada saya. Saya akan memberikan imbalan sepantasnya.

SMS pun dikirim dan tidak ada balasan… Kita sudah putus asa.
Kita kembali mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di dalam handphone kita. Ada begitu banyak nomor telepon teman kita yang ikut hilang bersamanya.

Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone kita
menjawab SMS kita, dan mengajak ketemuan untuk mengembalikan handphone
tersebut..
Bagaimana kira-kira perasaan kita?

Tentunya kita akan sangat senang dan segera pergi ke tempat yang diberikan oleh orang itu.Kita pun sampai di sana dan orang itu mengembalikan handphone kita.

Apa yang akan kita berikan kepada orang tersebut?

Kita pasti akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepadanya, dan mungkin kita akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih berharga dibandingkan hadiah yang mungkin kita berikan di skenario ketiga).
Moral

Apa yang kita dapatkan dari empat skenario cerita di atas?

Pada keempat skenario tersebut, kita sama-sama kehilangan handphone, dan ada orang yang menemukannya.
Orang pertama menemukannya dan langsung mengembalikannya kepada kita. Kita berikan dia ucapan terima kasih.
Orang kedua menemukannya dan memberikan kepada kita sesaat sebelum kita turun dari kereta.
Kita berikan dia ucapan terima kasih yang lebih besar.
Orang ketiga menemukannya dan memberikan kepada kita setelah kita turun dari kereta.
Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah dengan sedikit hadiah.

Orang keempat menemukannya, menyimpannya selama beberapa hari, setelah itu baru mengembalikannya kepada kita. Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah hadiah yang lebih besar.

Ada sebuah hal yang aneh di sini.

Cobalah pikirkan, di antara keempat orang di atas, siapakah yang paling baik? Tentunya orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada kita, bukan? Dia adalah orang pada skenario pertama. Namun ironisnya, dialah yang mendapatkan reward paling sedikit di antara empat orang di atas.

Manakah orang yang paling tidak baik? Tentunya orang pada skenario keempat, karena dia telah membuat kita menunggu beberapa hari dan mungkin saja memanfaatkan handphone kita tersebut selama itu. Namun, ternyata dia adalah orang yang akan kita berikan reward paling besar.

Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

Kita memberikan reward kepada keempat orang tersebut secara tulus, tetapi orang yang seharusnya lebih baik dan lebih pantas mendapatkan banyak, kita berikan lebih sedikit.
OK, kenapa bisa begitu?

Ini karena rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap skenario. Pada skenario pertama, kita belum berasa kehilangan karena kita belum sadar handphone kita jatuh, dan kita telah mendapatkannya kembali. Pada skenario kedua, kita juga belum merasakan kehilangan karena saat itu kita belum sadar, tetapi kita membayangkan rasa kehilangan yang mungkin akan kita alami seandainya saat itu kita sudah turun dari kereta. Pada skenario ketiga, kita sempat merasakan kehilangan, namun tidak lama kita mendapatkan kelegaan dan harapan kita akan mendapatkan handphone kita kembali. Pada skenario keempat, kita sangat merasakan kehilangan itu. Kita mungkin berpikir untuk memberikan sesuatu yang besar kepada orang yang menemukan handphone kita, asalkan handphone itu bisa kembali kepada kita.
Rasa kehilangan yang bertambah menyebabkan kita semakin menghargai handphone yang kita miliki.

Saat ini, adakah sesuatu yang kurang kita syukuri?

Apakah itu berupa rumah, handphone, teman-teman, kesempatan berkuliah, kesempatan bekerja, atau suatu hal lain. Namun, apakah yang akan terjadi apabila segalanya hilang dari genggaman
kita. Kita pasti akan merasakan kehilangan yang luar biasa. Saat itulah, kita baru dapat  mensyukuri segala sesuatu yang telah hilang tersebut.
Namun, apakah kita perlu merasakan kehilangan itu agar kita dapat bersyukur?

Sebaiknya tidak. Syukurilah segala yang kita miliki, termasuk hidup kita, selagi itu masih ada.

Jangan sampai kita menyesali karena tidak bersyukur ketika itu telah lenyap dari diri kita. Jangan pernah mengeluh dengan segala hal yang belum diperoleh. Bahagialah dengan segala hal yang telah diperoleh. Sesungguhnya, hidup ini berisikan banyak kebahagiaan. Bila kita mampu memandang dari sudut yang benar.

Teriak Saat Marah?

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya;

“Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan  marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?”

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab;

“Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak.”

“Tapi…” sang guru balik bertanya, “lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?”

 

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan.

 

Sang guru lalu berkata; “Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat.

Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara ke duanyapun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”

 

Sang guru masih melanjutkan; “Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil.

Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?” Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.

“Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”

 

Sang guru masih melanjutkan; “Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda.

*Because …, You Are So Special*

*Because …, You Are So Special*

(Oleh Syarif Niskala, *also blogged at* syarifniskala.com)

Di bumi yang hijau ini, jutaan tahun silam berkeliaran makhluk-makhluk
raksasa. Yang paling terkenal keganasannya adalah *Tyrex*. Yang paling besar
dikenal *Brontosaurus*. Yang paling unik dikenal *Stegosaurus*. Makhluk
angkasa yang menyeramkan *Pterodactyl*. Walau informasinya sangat sedikit,
seperti habitat lautan masa kini, diyakini penghuni lautan prasejarah jauh
lebih banyak dan beragam. Struktur alam lautan yang tak terjangkau adalah
selimut misteri purbakala.

Prosesi kepunahan dinasti Dinosaurus pelan tapi pasti mulai terungkap. Telah
terjadi ‘kiamat’ akibat badai meteor yang hebat di masa lalu sehingga
makhluk-makhluk yang sangat perkasa itu luluh lantak tak tersisa. Baik yang
bertubuh raksasa maupun yang kerdil, diyakini semuanya dimusnahkan.

Berpuluh pertanyaan muncul dalam benak. Mengapa sejarah ini harus diawali
dengan periode yang didominasi makhluk raksasa? Padahal dalam teori evolusi
yang sudah mulai goyah, sejatinya prosesi kehidupan hewan dimulai dari
reaksi protein secara kimiawi dalam bentuk sel tunggal (bakteri). Para ahli
terkini belum menjelaskan proses evolusi jasad renik ke dinasti dino.
Kemudian, mengapa harus mekanisme meteor yang memusnahkan mereka? Mengapa
harus ada pemutusan generasi?

Sejarah purba *Homo sapien*, diawali dengan penemuan fosil dengan struktur
tulang mirip manusia. Hanya saja tetap belum ditemukan urutan logis dari
ketersambungan mereka dengan manusia modern. Kemudian teori ‘manusia modern
diciptakan begitu saja’ mulai menggugat dan mengemuka. Dengan dilandasi
penafsiran terhadap teks agama, muncul penantang teori Darwin. Pertentangan
ini masih sangat lama, karena memang selalu saja kebenaran harus diuji oleh
waktu.

Ada sejumput informasi sains dan teks agama yang merangkai logika untuk
sebuah kepuasan sementara atas jawaban pertanyaan di atas. Dikatakan oleh
para ahli bahwa logam besi (Fe, *al hadid*), secara alami tidak mungkin
dihasilkan di bumi. Hanya bintang-bintang tertentu di alam ini yang mampu
menjadi reaktor untuk pembuatan unsur besi. Tapi, kehidupan modern sekarang
ini tidak terlepas dari mineral besi. Lihatlah sekeliling. Bahkan unsur besi
menjadi komponen utama gedung-gedung pencakar langit, jembatan,
persenjataan, industri,  mobil, pelatan rumah tangga, dan banyak lagi
lainnya.

Mungkin inilah salah satu alasan mengaja harus ada hujan meteor di bumi
purba. Mungkin ini penjelasan teks suci bahwa besi itu diturunkan (*wa‘anzalnal
hadiida fiiha* QS 57:25). Agar unsur logam sangat penting bagi manusia itu
ada di bumi. Agar peradaban manusia sampai pada titik-titik terbaiknya.
Hujan meteor itu adalah anugerah besar pertama kiamat purba yang
diperuntukkan bagi kebaikan manusia.

Minyak bumi (aspal, solar, premium, pertamax, minyak bakar, minyak tanah,
dll) adalah sumber energi utama peradaban kini. Keberadaan sumber energi
jenis ini bagi industri dan transportasi hampir sepenting air bagi
kehidupan. Dan kita telah sampai pada kesimpulan bahwa minyak bumi
bersumberkan pada jasad-jasad hewan dunia purba. Mungkin hujan meteor itu
tiba di saat titik singgung optimum perhitungan akurat antara jumlah
kebutuhan minyak bumi manusia dengan titik optimum daya dukung alam pada
dinasti dino. Karena dibutuhkan waktu yang akurat untuk ‘pemeraman’ bahan
mentah minyak itu, maka ditetapkan saat kiamat meteor itu. Sekali lagi,
meteor diturunkan dan dinasti Dinosaurus dipunahkan, sebagai anugerah yang
sangat terukur dari-Nya untuk manusia.

Mengapa? Mengapa peristiwa alam yang mahadahsyat dan perencanaan yang
maha-akurat itu semua seolah-olah disediakan untuk kebaikan manusia? Bahkan
menurut para ahli antariksa, usia bintang matahari, jarak mengembang galaksi
bimasakti, dan saat ledakan big bang; semuanya dirancang hanya untuk agar
bumi (*earth*) ini cocok untuk kehidupan manusia!

Semua ini dianugerahkan Yang Mahakuasa untuk kebaikan manusia! Karena
manusia demikian istimewa di hadapan Tuhan. Saking istimewanya manusia,
sehingga harus dipilih manusia-manusia terbaik untuk menyampaikan
pesan-pesan-Nya agar manusia tidak kehilangan pilihan terbaiknya. Agar
manusia memiliki kehidupan terbaiknya. Agar manusia menjadi ciptaan-Nya yang
terbaik atas pilihan manusia itu sendiri. Bukan karena fitrah ketundukannya
pada Sang Pencipta, melainkan karena kemerdekaan Yang Dianugerahkan-Nya
sebagai hadiah terbaik kehidupan.

*Because…, you are so special!*

Hadiah Cinta

“Bisa saya melihat bayi saya?” pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga!

Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi.Anak lelaki itu terisak-isak berkata, “Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh.”

Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, “Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?” Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. “Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,” kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, “Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia.” kata sang ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, “Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya. ”

Ayahnya menjawab, “Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.” Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, “Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.”

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah… bahwa sang ibu tidak memiliki telinga.

“Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,” bisik sang ayah. “Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?”

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.