Tinggi hati mendahului kehancuran

Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.

Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja. Ia mengangkuti air dengan ember & menyikat lantai rumahnya keras-keras.
Pria itu bertanya,
“Apa yg sedang Anda lakukan?”
Sang Guru menjawab,
“Tadi saya kedatangan serombongan tamu yg meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yg bermanfaat bagi mereka.
Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yg hebat.
Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya.”

Sombong adalah penyakit yg sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari.

Di tingkat pertama, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, & lebih terhormat daripada orang lain. Baca lebih lanjut

Jangan anggap remeh

Boleh jadi Anda sedang tidur lelap sedangkan pintu langit diketuk puluhan doa untuk Anda.

Doa dari seorang fakir miskin yang telah Anda bantu meskipun sedikit.
Doa dari orang yang telah Anda hibur dari kesedihannya.
Doa dari orang yang lewat di jalan yang telah Anda hadiahkan kepadanya senyuman tulus.
Doa dari seorang yang Anda antar dengan mobil atau motor.
Doa dari seorang kuli bangunan yang Anda buatkan teh tawar.
Doa dari seorang yang telah Anda tunjukkan kepadanya alamat yang dicarinya.
Doa dari seorang yang menitipkan oleh-oleh untuk anak-istrinya di luar kota.
dan sebagainya..

.: Janganlah menganggap remeh amal baik walau sekecil apapun.

-juga sebaliknya jangan anggap remeh amal buruk sekecil apapun-

Bagaimana takdir mempertemukan orang-orang

Ada pasangan suami-istri telah menikah 10thn dan belum dikaruniai anak, sebut saja pasangan A. Pasangan yang lain baru 1thn sudah dikaruniai anak sebut saja pasangan B.

Kedua pasangan ini bukan dalam 1 kota, bahkan bukan dalam 1 pulau. Mereka terpisah secara geografis dan sosiologis. Mereka tidak terkoneksi sama sekali.

Ditahun ke-11 pasangan A akhirnya melahirkan seorang putra, anak pertama mereka. 40 hari kemudian pasangan B juga melahirkan lagi seorang putri, anak ke-2 bagi pasangan B.

16 tahun kemudian putra dari pasangan A ingin kuliah di bandung. Dan putri pasangan B ingin kuliah di jakarta. Lokasi yang sama sekali berbeda dengan tempat asal mereka. Baca lebih lanjut

Dialog Hari Buruh Hari Pendidikan

Setelah hari buruh, hari pendidikan. Ada apa ini? Mungkin cita-citanya agar buruh itu menjadi terdidik. atau yang terdidik itu menjadi buruh.

Mengenai yang kedua, ada diskusi menarik tadi siang. Seorang kawan bicara menyalahkan para sarjana-sarjana terdidik yang menjadi “buruh” perusahaan asing. Dia bilang percuma saja, ga nasionalis, mentalnya pragmatis.

Lalu saya tanya seharusnya bagaimana? Dia bilang lebih baik merintis usaha. Bisnis katanya. Buka lapangan kerja katanya.

Saya tanya, lalu apa gunanya kuliah kalau ilmunya ga dipakai? Dia bilang itu membentuk pola pikir saja. Baca lebih lanjut

Filosofi 5 Jari

1. Ada si gendut jempol yang selalu berkata baik dan menyanjung.

2. Ada telunjuk yang suka menunjuk dan memerintah.

3. Ada si jangkung jari tengah yang sombong dan suka menghasut jari telunjuk.

4. Ada jari manis yang selalu menjadi teladan, baik, dan sabar sehingga diberi hadiah cincin.

5. Dan ada kelingking yang lemah dan penurut serta pemaaf (ingatkah anda waktu kecil kalau kita berbaikan dengan musuh kita pasti saling sentuh jari kelingking?). Baca lebih lanjut

Bis, Angkot SSC, dan ITB

Lima atau Enam tahun yang lalu, kalau sedang libur kuliah saya pulang ke jakarta dari bandung itu seringnya naik bis jurusan garut-jakarta. Saya ke gerbang tol deket jatinangor dulu baru naik bis jurusan tersebut.

Memang agak muter, tapi jauh lebih murah. Karena dianggap naik dari tengah trayek jadi cuma bayar 21-25ribu. Jauh lebih terjangkau dibanding travel yang 60-75ribu harganya. Waktu itu ga punya uang segitu yang bisa dihamburkan untuk sekedar transportasi 🙂 Baca lebih lanjut

Keep tolerance

Kalau naik motor atau mobil di jalan, sering kita kesel kalau kendaraan di depan kita lambat jalannya. Sehingga kita geremeng (murmuring,english) “ck..nih mobil ngapaain sih” atau “pasti ibu-ibu nih yg nyetir.” Lalu buru-buru kita nyalib.

Pun kalau ada kendaraan yang melaju dengan cepat, lalu nyalib mobil kita, kita juga komentar “nih mobil buru-buru amat, mau ngambil gaji mas..”

Pokoknya yang pas adalah laju kendaraan saya.

Bagaimana jika ternyata sebenarnya mobil kita adalah mobil yang jalannya dianggap lambat bagi kendaraan yang nyalib kita.
atau
Bagaimana jika ternyata sebenarnya mobil kita adalah mobil yang dianggap nyalib dengan buru2 bagi kendaraan yang jalannya lambat.

“Pokoknya yang pas adalah laju kendaraan saya” adalah milik semua orang.

Keep tolerance..
Semua orang punya kondisinya masing-masing 🙂

renungan #6ramadhan1433

Kalau kita mundur selangkah dua langkah, permukaan dinding yang kita lihat lebih luas. Kini kita bisa melihat tingginya, mulai menerka-nerka panjangnya, mengira-ngira pola dan bentuk dinding tersebut.

Kalau kita mundur lima langkah, horizon yang kita lihat makin luas lagi. Mulai menoleh kanan kiri, apakah ada tangga untuk melewati dinding itu? dan oh, ternyata kita bisa melihat ada celah pintu masuk diujungnya sana. Baca lebih lanjut