Gelombang Ke-3 Indonesia

Analisis pak anis matta tentang sejarah, politik, dan gelombang ketiga Indonesia yang disampaikan pada Kongres Kebangsaan Forum Pemred kemarin ini sangat menarik bagi saya.

Ia membagi fase sejarah Indonesia jadi 3 gelombang. Gelombang pertama disebut gelombang “Menjadi Indonesia”, ditandai dengan berdirinya negara Indonesia. Lalu Gelombang kedua disebut gelombang “Menjadi Negara Bangsa Modern” ditandai dengan penguatan lembaga negara dan ekonomi.

Lalu Gelombang ketiga yakni babak baru yang akan kita hadapi sebagai bangsa. Dimana negara memiliki otoritas semakin sedikit, namun tanggung jawab semakin besar. Sehingga untuk dapat bekerja dengan baik harus memiliki ide dan kultur manajemen yang baik.

Lalu babak ketiga ini dicirikan dengan 5 hal, pertama Populasi dipenuhi oleh orang muda, kedua Pendidikan yang baik, ketiga Kelas menengah yang besar, keempat Well connected dan kelima Native Demokrasi (Warga negara asli demokrasi, yang lahir dan besar dalam sistem demokrasi). Baca lebih lanjut

Iklan 3 – Jadi Orang Gede Menyenangkan Tapi Susah Dijalanain

[Versi Cowo]

Kalau aku udah Gede,

Aku pingin kerja di Multinasional Company. Aku mau kerja di gedung tinggi.

Ngomong English setiap hari. Rambut Klimis, Sepatu mengkilat kaya orang penting.

Tapi ngerjain kerjaan yang kurang penting, jadi tukang foto kopi, bawain Laptop, Beres – Beres kertas,

Enggak masalah kerja 15jam sehari, tidur cuma 5jam sehari, Masalahnya gaji Cuman tahan sampai Tanggal 15,

Untung di warteg bisa makan dulu, bayar belakangan, tapi sayang enggak berlaku untuk beli pulsa.

Jadi Orang gede menyenangkan Tapi Susah Di jalanin. (Think Again).

Baca lebih lanjut

Media Oh Media

Sebagai orang yang bergerak di bidang media, perlu ada satu hal yang saya beri tahu, bahwa media itu seni sekaligus bisnis.

Kita perlu trafik, jadi iklan mau bayar mahal. Ini bisnis. Kalau ada konten yang menarik trafik pasti bakal diulas habis, digoreng sana sini. Tambahin bumbu-bumbu biar lebih dramatis. Ini seni.

Apalagi kalau konsepnya advertorial, bahasa gampangnya titip berita.

Makanya sebenarnya yang fair itu ya sosial media atau citizen journalist. Karena si sosial (siapapun) yang sharing konten, dan tanpa mencari profit.

Walopun kayaknya sekarang juga udah mulai banyak yang main rekayasa di media sosial. Haha..

BBM DISUBSIDI ADALAH OMONG KOSONG

Percakapan antara Djadjang dan Mamad
Oleh Kwik Kian Gie

Pemerintah berencana tidak membolehkan kendaraan berpelat hitam membeli bensin premium, karena harga Rp. 4.500 per liter jauh di bawah harga pokok pengadaannya. Maka pemerintah rugi besar yang memberatkan APBN.

Apakah benar begitu ? Kita ikuti percakapan antara Djadjang dan Mamad. Djadjang (Dj) seorang anak jalanan yang logikanya kuat dan banyak baca. Mamad (M) seorang Doktor yang pandai menghafal.

Dj : Mad, apa benar sih pemerintah mengeluarkan uang tunai yang lebih besar dari harga jualnya untuk setiap liter bensin premium ?

M : Benar, Presiden SBY pernah mengatakan bahwa semakin tinggi harga minyak mentah di pasar internasional, semakin besar uang tunai yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengadakan bensin. Indopos tanggal 3 Juli 2008 mengutip SBY yang berbunyi : “Jika harga minyak USD 150 per barrel, subsidi BBM dan listrik yang harus ditanggung APBN Rp. 320 trilyun. Kalau USD 160, gila lagi. Kita akan keluarkan (subsidi) Rp. 254 trilyun hanya untuk BBM.” Baca lebih lanjut

Keep tolerance

Kalau naik motor atau mobil di jalan, sering kita kesel kalau kendaraan di depan kita lambat jalannya. Sehingga kita geremeng (murmuring,english) “ck..nih mobil ngapaain sih” atau “pasti ibu-ibu nih yg nyetir.” Lalu buru-buru kita nyalib.

Pun kalau ada kendaraan yang melaju dengan cepat, lalu nyalib mobil kita, kita juga komentar “nih mobil buru-buru amat, mau ngambil gaji mas..”

Pokoknya yang pas adalah laju kendaraan saya.

Bagaimana jika ternyata sebenarnya mobil kita adalah mobil yang jalannya dianggap lambat bagi kendaraan yang nyalib kita.
atau
Bagaimana jika ternyata sebenarnya mobil kita adalah mobil yang dianggap nyalib dengan buru2 bagi kendaraan yang jalannya lambat.

“Pokoknya yang pas adalah laju kendaraan saya” adalah milik semua orang.

Keep tolerance..
Semua orang punya kondisinya masing-masing 🙂

Iklan Anti-Rokok Terbaik

Berikut ini adalah sebuah advertising anti-smoking di thailand.

Diceritakan ada dua anak kecil yang meminta pemantik atau korek kepada para perokok dewasa di jalan. Karena anak kecil yang meminta para anak kecil, para perokok itu tidak mau memberikan pemantik kepada mereka malah menasehati mereka tentang bahaya rokok. Baca lebih lanjut

Bisnis Jalan, Pengusahanya Banyak Gaya.

Bisnis Jalan, Pengusahanya Banyak Gaya.

Ini cerita tentang pengusaha di negeri AntahBerantah. Di sana sedang terjadi euphoria wirausaha. Dimana-mana orang ingin jadi pengusaha. Di kantor, di pinggir jalan, di dekat masjid, di rumah, dimana-mana orang ingin jadi pengusaha. Di milis, orang jualan. Di forum-forum internet orang juga jualan. Di facebook dan twitter juga. Di Grup BB, apalagi. Via SMS, ga mau kalah.

Orang yang hampir pensiun, ingin jadi wirausaha. Lumayan pesangonnya besar, sayang kalau cuma dihabiskan begitu saja. Begitu alasannya.

Orang yang sudah mapan bekerja, merasa tidak nyaman, dan berkata,“kayaknya lebih enak wirausaha.” Waktu lebih bisa diatur, masuk kantor bisa semau saya. Ga ada yang ngatur-ngatur. Bangun tidur bisa siang-siang. Dan segudang alasan lainnya.

Suami yang melihat istrinya bekerja di kantor, meminta istrinya resign.“Sudah, kamu bekerja saja dari rumah. Work at Home Mom, saja ya.., biarlebih banyak waktu untuk anak-anak kita” kata suaminya.

Yang lebih parah, suami yang melihat istrinya “menganggur” di rumah (padahal kan kerjaan istri di rumah banyak sekali ya..), dimodali untuk memulai wirausaha. “Coba kamu cari penghasilan sampingan deh. Nanti kalau penghasilan dari usaha itu sudah lebih dari gaji saya, saya resign untuk bantu membesarkan usaha itu. Gimana?” Begitu kata suaminya. Bener-bener deh..

Orang yang lulus kuliah, tidak mau jadi pegawai. Harus jadi pengusaha semua. Sekarang gak keren kalau bekerja di tempat orang lain. Lebih keren jadi pengusaha.

Orang yang baru masuk kuliah, eh dipaksa-paksa sama seniornya harus jualan. “Kamu harus punya usaha. Karena jadi pengusaha masa depan cerah,” Kata seniornya. Mudah-mudahan saja orang yang baru masuk kuliah tersebut, tetap rajin kuliahnya dan tetap berprestasi. Kalau tidak, masuknya ke pembahasan, “Bisnisnya jalan, Kuliahnya berantakan”, hehe..

Eh, bahkan anak TK, dan SD, anak bau kencur, sudah disuruh jualan. Ada orang tua yang nitipin dagangannya sama anaknya untuk dijual ke teman-temannya. “Kalau untung, nanti dibagi dua sama ibu ya Kak, kan ibu investornya..” kata ibunya sambil menjelaskan enaknya punya penghasilan sendiri. Ada juga yang pulang sekolah, langsung ke toko pamannya untuk magang. Canggih ya..

Itulah sekilas tentang euphoria wirausaha di negeri antah berantah. Menarik sekali ya.. Dimana-mana diselenggarakan seminar wirausaha. Mulai skala RT sampai skala nasional. Mulai dari yang gratisan sampai yang berbayar puluhan bahkan ratusan juta. Mulai dari yang lesehan di pinggir danau (biar lebih asri dan ramah lingkungan, katanya), sampai yang diadakan di kapal pesiar. Bahkan ada yang mengadakan seminar sambil Umroh.. “Ilmunya dapet, ibadahnya juga dapet..,” begitu katanya.

Bisnis kartu nama juga jadi menggeliat. Karena setiap orang bisa punya 3-4 usaha. Jadi setiap orang minimal harus punya 3-4 kartu nama yang berbeda. Belum kalau istrinya ikut mengelola usaha, kan harus ada kartu namanya juga, jadi order double deh.. Nanti mengeluarkan kartu namanya, tergantung mau ketemu siapa. Ketemu si A, keluarkan kartu nama usaha yang nomor 3. Ketemu si B, keluarkan kartu nama usaha yang nomor 1. Dan seterusnya, mantap kan?

Nah, kalau di Indonesia sedang ramai istilah “Bisnisnya Jalan, Pengusahanya Jalan-jalan”, sementara di negeri AntahBerantah ini yang lagi populer adalah “Bisnisnya Jalan, Pengusahanya Banyak Gaya”. Apa itu maksudnya? Maksudnya, di negeri AntahBerantah, setelah seseorang berwirausaha, banyak perubahan yang terjadi pada diri orang tersebut. Jadi lebih banyak gayanya. Jadi lebih bertingkah. Kita lihat indikasinya dibawah ini.

1. Lebih Malas.

Dulu ketika bekerja sama orang, subuh sudah bangun, dan siap-siap berangkat kerja. Pulang kerja baru jam 9 malam sampai rumah. Sekarang sudah jadi pengusaha, gayanya beda. Habis subuh tidur lagi, bangun jam 8. Olahraga, cari sarapan, mandi, jam 10.30 baru sampai tempat usaha. “Kan sudah ada karyawan..” begitu alasannya. Jam 12 sudah siap-siap makan siang. “Hari ini makan siang dengan beberapa teman SMA nih”. Jadi jam 3 baru sampai kantor lagi. Jam 5, pegawai pulang, dia ikut pulang juga. “Enak jadi pengusaha, ga ada yang marahin,” begitu gumamnya. Ampuun dah..

2. Gaya hidup naik (lebih boros).

Dulu waktu jadi karyawan, kemana-mana cukup pakai motor. Sekarang, keuntungan belum seberapa, sudah mikir mau kredit mobil. “Mobilitas sy sebagai pengusaha sudah tinggi,” katanya. Dulu, kalau makan siang bawa bekal dari rumah. Atau kalau tidak bawa, yah beli di warteg lah, atau nasi padang. Sekarang kalau makan, harus di mall, café, atau restoran. “Beda dikit aja kok sama warung padang, tapi suasananya itu lho..,” katanya.
Kalau dulu, jalan-jalan paling keliling-keliling kota saja. Atau paling keren ke mall. Kalau sekarang, jalan-jalan mesti ke luar kota. Yogya, Bali, bahkan ke luar negeri. “Refreshing,” katanya. Setelah di hitung-hitung oleh istrinya (sebagai partner bisnis dan direktur keuangan), biaya hidup naik lebih besar dari keuntungan bersih bulan ini. Nah lho..

3. Kurang Sabar

Ingin bisnisnya cepat besar. Rasanya OK banget gitu kalo punya buanyak cabang. Akhirnya sradak sruduk cari mitra. Tidak ada seleksi ketat lagi. Lokasi di gang sempit yg jarang dilalui orang pun diberikan hak menjadi mitra. Ujungnya sudah ketebak. Sukses dalam 1 bulan! Sukses tutup, maksudnya. Ada juga orang yg super sibuk minta jadi mitra, dikasih juga. Ujungnya sudah ketebak, setelah 3 bulan dia lupa kalau pegang cabang kita.. Pada akhirnya banyak cabang yang tutup, citra kita bukan makin bagus kan? Ingin punya banyak cabang, tapi fondasi gak dikuatin. Sistem tidak dibuat. SDM tidak dididik, seleksi mitra tidak ketat. Ibarat naik tangga, dari anak tangga ke-1 ingin langsung ke anak tangga ke-10..

4. Selalu tergoda untuk terjun ke bisnis orang lain (kurang fokus)

Rumput tetangga kelihatan lebih hijau dari rumput halaman sendiri. Orang yang bisnis fashion, ingin bisnis kuliner. Orang yang punya bisnis kuliner, bilangnya “kayaknya enak nih bisnis konveksi.” Melihat orang bisnis website, dia ikut-ikutan bisnis website. Padahal bukan core competence nya. Akibatnya, kerjaan tidak beres, dimarah-marahin orang, bisnis utama dia yang lama malah tidak terurus. Hadeeeh..

5. Tidak mau belajar
Mentang-mentang sudah jadi owner, semua pekerjaan diserahkan kepada karyawan. Tidak mau belajar manajemen SDM. Tidak mau belajar bagaimana marketing yg inovatif, customer service yang baik, mengelola pasukan sales dll. Tidak mengerti bikin dan baca laporan keuangan. Belum lagi bicara strategic management, mau sebesar apa bisnis kita 5 tahun, 10 tahun, 25 tahun kedepan. “Kan ada karyawan..”, kilahnya. Kalau karyawannya kabur, baru deh kelimpungan..

6. Senang tampil dan makin narsiss
Yaa gitu deh.. Sudah jelas kan? Hehe..

7. Silakan tambahin usulan sendiri..
Demikianlah pengusaha di negeri Antah Berantah. Mudah-mudahan tidak terjadi di Indonesia ya.. Aamiin

NB. Ini sebenarnya hasil refleksi dan evaluasi diri sendiri..

Regards,

Sumber dari millist …………

Twit #gayahidup

Berikut adalah kumpulan twit saya sampaikan pada 13 Mei 2012. Twit ini membahas tentang perubahan #gayahidup dan peluang bisnis yang ada di dalamnya.

Untuk diskusi lebih lanjut silakan follow twitter @panjiprabowo

Check this out (baca dari bawah ke atas)

@panjiprabowo
Yg baik itu character and reputation kongruen. Jd jauh dr topik awal yg #gayahidup tp gpp deh. Mari kita cukupkan wassalam.

@panjiprabowo
Ttg branding td. “character is like a tree and reputation like a shadow. Shadow is what we think, and tree is the real thing” 🙂 #osn

@panjiprabowo
Contoh yg bs hancur gmana?. Ada yg bs jawab ga kenapa PLN ga punya twitter? Hehehe.. @RayFen_SEniman #q

@panjiprabowo
Jd pengen sentuh dikit ttg #osn (online social media). Produk bs besar krn osn, maichih n twitter misalnya. Tp bs jg jd hancur. #gayahidup

@panjiprabowo
Tp cluenya td udh ada didepan. 50% masyarakat ponselnya smartphone dan terkoneksi ke jejaring sosial 🙂 @RayFen_SEniman Baca lebih lanjut