Four Ingredients of a Good Enterprise

Four Ingredients of a Good Enterprise :

Levi Strauss & Company thoughtfully tied its core values to its history and experience with an explicit assumption that business can drive profits through principles and that the company’s values give it a competitive advantage.

The following passage from its “Vision and Values” statement appears on the company’s website derive from 240 years of experiences as an Enterprise :

First : “Empathy – walking in other people’s shoes
Empathy begins with paying close attention to the world around us. We listen and respond to the needs of our customers, employees, and other stakeholders.

Second : Originality – being authentic and innovative
The pioneering spirit that started in 1873 with the very first pair of blue jeans still permeates all aspects of our business. Through innovative products and practices, we break the mold. Baca lebih lanjut

Iklan

Bisnis media : Business as usual

Dalam bisnis media, profesionalisme jurnalis sesungguhnya amat dibutuhkan. Dalam ilustrasi sederhana, profesionalisme “bagian produksi” itu dibutuhkan dalam bisnis apapun. Dalam bisnis roti, profesionalisme pembuat roti adalah kunci. Dia harus mampu menentukan jenis terigu, ukuran ragi, suhu pemangganan, agar menghasilkan roti yang menarik, lembut dan lezat. Apakah pemodal akan mencampuri urusan itu?

Profesionalisme jurnalisme secara teknis adalah sejauh mana para jurnalis menerapkan prinsip pemberitaan berimbang, cover both side, check and balance, berpihak pada kebenaran, dan mengedepankan kepentingan rakyat, bukan penguasa atau bahkan pemilik modal.

Jadi secara logis, apabila idealisme pers dijalankan dan karenanya kepentingan rakyat terperjuangkan. Media tidak akan kehilangan audiens. Dan itu sejalan dengan kepentingan bisnis, karena tujuan utama bisnis media adalah memiliki sebanyak mungkin audiens setia bagi medianya.

Jadi ya bisnis media adalah business as usual. Bisnis untuk kepentingan bisnis itu sendiri bukan untuk alat kepentingan lainnya. Dimana jurnalisme adalah bagian produksi dari bisnis ini, masih ada bagian pemasaran, distribusi, dsb.

-belajar dari Erick Thohir-

6 Tips Kelola Uang dari Orang Terkaya Ketiga di Dunia

Siapa yang tidak kenal dengan Warren Buffet, pengusaha dan investor dari Amerika Serikat (AS) yang sangat sukses. Saat ini ia tercatat sebagai orang paling tajir nomor 3 di dunia versi majalah Forbes.Warren merupakan CEO Berkshire Hathaway, perusahaan induk yang memiliki banyak anak usaha dan portofolio saham di banyak perusahaan kelas dunia, seperti Dairy Queen, Heinz, Coca-Cola, dan IBM.Dikenal karena filosofi investasinya yang sangat kuat dan sifatnya yang sangat hemat, Warren Buffet mengajarkan kita banyak hal seputar pengelolaan keuangan.

Berikut ini adalah 6 tips yang bisa Anda terapkan dalam kehidupan sehari-hari Anda seperti dikutip dari MyWealth milik Citigroup, Selasa (13/8). Baca lebih lanjut

Terobosan Dahlan Iskan di Jawa Pos

Keberhasilan Dahlan Iskan dinilai banyak kalangan karena memiliki keberanian mengambil risiko yang terukur dan kerja keras, serta kepiawaian membaca peluang. Meskipun sudah mundur dri Jawa Pos, Dahlan Iskan meninggalkan catatan inovasi, problem solving, juga keteladan. Teladan tentang kesederhanaan, kerja keras, dan logika akal sehat sehingga melahirkan budaya bersikap, budaya berpikir, budaya bekerja pada segenap awak Grup Jawa Pos (GJP) sehingga grup usaha ini terbang sangat tinggi.

Waktu pertama kali mengambil alih kendali Jawa Pos 1982, oplahnya hanya 6.000 eksemplar per hari. Sementara koran terbesar di Surabaya waktu itu adalah koran sore Surabaya Post, oplahnya sudah 180.000 eksemplar per hari. Kompetitor koran paginya adalah Kompas, raksasa dari Jakarta.

“Surabaya Post terbit sore, Kompas harus dikirim dari Jakarta. Kalau Jawa Pos diisi berita nasional dari Jakarta, dan diedarkan pukul lima pagi, masa tidak bisa menang?” begitu keyakinan Eric Samola, direktur Tempo yang menunjuk Dahlan.

Berikut beberapa terobosan Dahlan membangun Jawa Pos dari koran beroplah sebecak menjadi jaringan berita terbesar di Indonesia. Sebuah kisah sukses bagaimana dalam 20 tahun sebuah koran kecil bisa mendominasi industri media di Indonesia.

Baca lebih lanjut

Bisnis : Martabak Sabar Menanti

Saya sama istri suka jajan martabak. Salah satu langganan kami itu “Martabak Sabar Menanti” di daerah ujung berung bandung. Persis disebrang pom bensin ujung berung, samping bank mandiri. Recommended.

Mengenai kulinernya pernah saya bahas di twitter dulu. Kali ini sy mau bahas dari sisi bisnisnya.

Nah ceritanya tadi sambil nunggu (kaitkan dg namanya “sabar menanti”), sy ngobrol2 sama si mamangnya. Dan luar biasa. Rata-rata sehari dia bisa jual 70 kotak. Minimal 60 kotak. Harga martabak disitu bervariasi antara 15-28ribu.

Saya coba hitung ambil yg plg murah aja
Omset harian : 15ribu x 70kotak = 1,05juta
Omset bulanan (30hari) : 1,05juta x 30hr = 31,5juta

Si mamang ga itung gaji karyawan krn yg ngerjain dia sendiri, kadang2 dibantu istrinya atau anaknya yang masih SD. Jadi pengeluaran cuma untuk alat+bahan+jatahpreman aja, hitung besar aja anggap 75%.

Jadi sebulan si mamang bisa dapet ±8juta. Itu baru itungan minimalis banget (ambil yg paling murah n operasional digedein). Itungan realnya bisa lebih gede lagi kayaknya. Dan waktu kerjanya cuma 5 jam sehari (17-22).

Yang masih dibawah itu. Ancang2 pindah profesi jadi tkg martabak ajah deh. Padahal sendirinya juga.. Hehe..

Dialog Hari Buruh Hari Pendidikan

Setelah hari buruh, hari pendidikan. Ada apa ini? Mungkin cita-citanya agar buruh itu menjadi terdidik. atau yang terdidik itu menjadi buruh.

Mengenai yang kedua, ada diskusi menarik tadi siang. Seorang kawan bicara menyalahkan para sarjana-sarjana terdidik yang menjadi “buruh” perusahaan asing. Dia bilang percuma saja, ga nasionalis, mentalnya pragmatis.

Lalu saya tanya seharusnya bagaimana? Dia bilang lebih baik merintis usaha. Bisnis katanya. Buka lapangan kerja katanya.

Saya tanya, lalu apa gunanya kuliah kalau ilmunya ga dipakai? Dia bilang itu membentuk pola pikir saja. Baca lebih lanjut

Pendekar Bodoh

Hari Jumat (15/2) lalu saya ketemu pak David Marsudi, presiden direktur jaringan restoran D’Cost. Orang satu ini luar biasa nyentrik-nya. Dia misalnya, menyebut dirinya sebagai “pendekar bodoh” (nama perseroan D’Cost adalah PT. Pendekar Bodoh). Kenapa? Karena, menurut dia, menjadi pengusaha itu harus terus-terusan merasa bodoh. “Karena merasa bodoh, maka kemudian kita harus terus belajar. Kalau kita sudah pintar, kita berhenti belajar,” ujarnya.

dcost

Pada saat mau ketemu pak David, kebetulan saya melewati meja resepsionis dengan latar belakang logo D’Cost Academy, training center jaringan resto bersemboyan: “Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima” ini. Yang mengusik saya adalah tagline D’Cost Academy yang bunyinya menggelitik, “Stupid Guys Keep Learning”; orang bodoh selalu belajar. Intinya, tagline itu ingin mengatakan, semua karyawan D’Cost adalah orang bodoh, dan karena itu akan selalu belajar. “Kami adalah orang-orang bodoh berjiwa pendekar,” tukasnya. Baca lebih lanjut

#CariModalBisnis

1. Yang namanya bisnis pasti butuh modal. Modal bisa berarti ide, bisa berarti kemampuan (manajemen), bisa berarti tim, bisa berarti uang. #carimodalbisnis
2. Modal bukan hanya uang #carimodalbisnis
3. Praktisi bisnis juga bilang daya ungkit bisnis itu bisa jadi uang, bisa jadi manajemen, bisa jadi inovasi (teknologi). Jadi ga melulu uang #carimodalbisnis
4. Salah kaprah kalau memulai bisnis dengan uang #carimodalbisnis
5. Mulailah dengan ide, mulailah problem yang mau kita selesaikan dan value yang mau kita tawarkan #carimodalbisnis
6. Tapi memang ga bisa dipungkiri uang memang dibutuhkan..PADA SAATNYA.. #carimodalbisnis Baca lebih lanjut

#5Milyar

resolusi

“Omset meningkat 10 kali lipat!!” adalah salah satu dari resolusi saya di tahun 2013. Karena itulah untuk pertama kalinya setelah sekian lama belajar berbisnis, saya bertemu dengan konsultan bisnis dan keuangan untuk membongkar dan memperbaiki manajemen bisnis saya.

Tidak main-main, konsultan yang saya temui ini dari Belanda, namanya Mr. Rob. Bukan karena saya royal banget sanggup bayar konsultan dari Belanda ini, tapi justru karena gratisan. hehe.. Dulu pernah kenalan di sebuah event, jadi manfaatin jaringan pertemanan deh. 🙂 Baca lebih lanjut