The Mirror Never Lies

Jakarta(26/04)- Kolaborasi Pemerintah Kabupaten Wakatobi, organisasi konservasi World Wide Fund for Nature Indonesia (WWF-Indonesia), dan rumah produksi SET Karya Film telah membuahkan film The Mirror Never Lies. Film yang disutradarai oleh Kamila Andini ini bertema kelautan dan mengangkat kisah suku Bajo di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, bagian dari Segitiga Terumbu Karang dunia.

Suku Bajo dikenal sebagai pelaut handal, hidup nomaden, dan tersebar di seluruh dunia. Mereka mudah dijumpai di kawasan Segitiga Terumbu Karang; kawasan laut yang membentang melintasi enam negara dan dikenal sebagai wilayah yang memiliki kekayaan hayati laut tertinggi di dunia. Ironisnya, situs penting dunia itu kian terancam oleh praktik-praktik perikanan destruktif. Sementara faktor perubahan iklim juga diperkirakan telah berdampak pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. 126 juta jiwa manusia dan ribuan spesies kunci di laut pun kini semakin terdesak.Suku Bajo yang seluruh eksistensinya bersandar pada laut adalah salah satu yang paling merasakan dampak degradasi lingkungan tersebut.

“Di tengah masalah iklim dan perubahan perilaku laut, memahami kebudayaan laut menjadi penting, apalagi bagi bangsa Indonesia yang bersifat maritim. Film ini merupakan satu upaya untuk memahami kebudayaan laut tersebut. Ini kisah mereka yang hidup mengikuti laut. Laut memberi kabar baru dengan caranya sendiri: inilah yang terpenting dari film ini,” jelas Garin Nugroho, salah satu produser The Mirror Never Lies.

Refleksi keindahan dan tantangan di Segitiga Terumbu Karang dikemas dalam kisah seorang anak perempuan Bajo bernama Pakis yang tengah beranjak remaja. Ia kehilangan ayahnya yang melaut dan belum kembali. Melalui ritual Bajo yang menggunakan cermin, Pakis bersama sahabatnya berupaya mencari jawaban akan keberadaan sang ayah. Sebaliknya, ibunya lebih pesimis dan realistis dalam menghadapi kenyataan. Di tengah kebingungan ini, Pakis dan ibunya kerap berbeda pendapat. Konflik semakin sering terjadi ketika seorang peneliti lumba-lumba bernama Tudo datang di tengah mereka.

“Coral Triangle merupakan salah satu kekayaan dunia yang harus dijaga. Melalui The Mirror Never Lies, WWF berharap semakin banyak pihak yang memalingkan wajah dan memberi perhatian lebih untuk menjaga kekayaan hayati di kawasan ini. Pemanasan global dan perubahan iklim adalah ancaman serius bagi keberlanjutan sumber daya alam laut dan ekosistem di wilayah Coral Triangle, tak terkecuali masyarakat pesisir yang tinggal di sekitarnya. Conservation involves people. Butuh kesadaran dan dukungan kolektif untuk membuat perubahan yang signifikan. Upaya konservasi di kawasan Coral Triangle bukan tugas segelintir orang saja, tapi menjadi tanggung jawab kita semua,” ujar Devy Suradji, Direktur Marketing dan Komunikasi WWF-Indonesia.

Sejak akhir tahun 2002, WWF sudah berkolaborasi dalam suatu bentuk kemitraan dengan The Nature Conservancy (TNC) untuk membantu pengelola TN Wakatobi memperbaiki rencana pengelolaannya, zonasi dan penerapan pengelolaan kawasan.

“Dalam melakukan pengelolaan kawasan, kami juga melibatkan masyarakat. Salah satunya adalah mendampingi masyarakat untuk menerapkan perikanan berkelanjutan. Bahkan kini telah lahir inisitaif-inisiatif baru dari masyarakat untuk membuat bank ikan sebagai upaya menjaga stok ikan. Kapal Menami juga kami operasikan di Wakatobi sebagai stasiun riset bawah laut. Bersama masyarakat, kami juga aktif melakukan pemantauan terumbu karang,” imbuh Devy.

Sementara itu, Bupati Wakatobi, Ir.Hugua menyatakan, The Mirror Never Lies merupakan media komunikasi kreatif yang efektif dalam membantu mempromosikan Wakatobi sebagai daerah tujuan ekowisata laut dan pusat penelitian bawah laut.

“Wakatobi kini telah menjadi laboratorium bawah laut untuk penelitian biota laut. Peneliti dari berbagai wilayah di Indonesia dan negara-begara tetangga semakin banyak yang berdatangan ke Wakatobi. Ini menjadi kebangaan kita semua. Oleh karena itu, upaya melindungi keindahan dan kekayaan hayati laut di wilayah ini perlu senantiasa dikembangkan. Dengan adanya film ini, saya harapkan semakin banyak lagi pihak yang peduli serta membantu upaya konservasi di Wakatobi,” tegasnya.

Film yang juga diproduseri oleh Nadine Chandrawinata dan dibintangi oleh Atiqah Hasiholan, Reza Rahadian, Gita Novalista, Eko, serta Zainal ini bisa disaksikan oleh penikmat film Indonesia pada awal Mei 2011. The Mirror Never Lies juga telah mendapat penghargaan Honorable Mention dari Global Film Initiative pada tanggal 14 April 2011 berdasarkan kriteria penyajian artistik, alur penceritaan, dan perspektif budaya dalam kehidupan sehari-hari. Info selengkapnya tentang The Mirror Never Lies bisa dilihat di http://www.wwf.or.id/themirrorneverlies

sumber : http://www.wwf.or.id/?22200/The-Mirror-Never-Lies-reflection-of-beauty-and-challenges-in-The-Coral-Triangle

Iklan

Apa komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s