Peran Mahasiswa dalam Mengatasi Gizi Buruk pada Masyarakat

Malnutrisi adalah istilah untuk suatu kondisi medis yang disebabkan oleh pemberian atau cara makan yang tidak tepat atau tidak mencukupi. Istilah ini seringkali lebih dikaitkan dengan keadaan undernutrition (gizi buruk). Pada Negara berkembang kasus ini sering kali terjadi dan sangat erat kaitannya dengan kemiskinan. Jika dibuat diagram alur terjadinya gizi buruk maka dapat dituliskan, kemiskinan menyebabkan daya beli masyarakat kurang, kemudian mengakibatkan konsumsi dan asupan gizi kurang, dan kemudian dampak akhirnya adalah gizi buruk.

Diagram Alur Gizi Buruk

Di Indonesia pun demikian, kemiskinan dan gizi buruk sulit dilepaskan. Hal ini sudah menjadi common news dalam berita-berita di stasiun televisi nasional kita. Berdasarkan data yang saya peroleh penderita gizi buruk di negeri kita bertambah sebanding dengan penambahan angka kemiskinan. Pada kurun waktu 2001-2003, FAO[1] mencatat terdapat sekitar 13,8 juta penduduk yang kekurangan gizi. Lalu berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional 2005, angka gizi buruk dan gizi kurang adalah 28% dari jumlah anak Indonesia. Sementara menurut Data Departemen Kesehatan, jumlah balita penderita malnutrisi pada tahun 2007 adalah 4,1 juta jiwa. Data Susenas bahkan menunjukkan lebih dari 100 juta rakyat Indonesia kelaparan dan 8,3 % menderita gizi buruk. Bahkan 100 area kawasan timur Indonesia menjadi prioritas utama bagi WFP[2]. Keadaan yang sangat ironis bagi negeri kita yang memiliki sumber daya alam melimpah.

Lalu sebagai bagian dari masyarakat intelektual, mahasiswa harus bisa ikut berkonstribusi untuk mensolusikan ironi ini. Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat Perguruan Tinggi, dimana Hatta[3] pernah mengatakan “salah satu tugas perguruan tinggi adalah membentuk manusia susila dan demokrat yang memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakatnya.” Jadi secara moral mahasiswa memiliki tanggung jawab sosial untuk mencari dan membela kebenaran ilmiah kemudian mempraksiskannya kepada masyarakat.

Setidaknya ada 2 peran yang bisa diambil mahasiswa dalam upaya pengentasan gizi buruk. Pertama adalah peran langsung. Peran langsung yang saya maksud di sini adalah peran yang bisa diberikan mahasiswa sesuai dengan watak keilmuannya sendiri, yakni berperan mensolusikan masalah gizi buruk dengan pendekatan keilmuan atau keprofesiannya sendiri.

Solusi langsung ini bisa sangat beragam tergantung pada keilmuan dan keprofesiannya dari mahasiswa itu sendiri. Misalnya seorang mahasiswa farmasi bisa saja memformulasikan sebuah obat yang mengandung nutrisi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan harian, atau mahasiswa biologi bisa saja meneliti dan mencari tanaman alternatif yang lebih murah yang juga dapat memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Lain lagi dengan mahasiswa kedokteran atau keperawatan, mungkin saja mereka bisa melakukan penyuluhan ke daerah-daerah yang terpetakan sebagai daerah dengan masyarakat bergizi buruk, tentang pentingnya makanan sehat. Mahasiswa teknik juga bisa berkontribusi lain, bisa saja mereka membuat sebuat alat yang dapat menimbang atau menakar kandungan gizi pada makanan yang telah tersajikan sehingga ketika seseorang akan memakannya tahu sudah seberapa banyak nutrisi yang Ia dapatkan dari makanan itu. Hal-hal tersebut sangat mungkin dilakukan, kuncinya hanya kesadaran atas peran.

Peran kedua adalah peran tidak langsung. Saya sebut tidak langsung karena memang hal yang akan disolusikannya bukan hilir dari masalah gizi buruk, layaknya peran pertama. Peran ini dapat dilakukan oleh mahasiswa karena implikasi dari posisinya dalam piramida sosial, yakni middle class.Dari posisinya tersebut mahasiswa memiliki fungsi kontrol sosial atas kebijakan-kebijakan pemerintah. Maka dalam hal ini mahasiswa dapat berperan sebagai penyampai aspirasi masyarakat dan juga pengingat pemerintah atas tanggung jawabnya untuk mensejahterakan masyarakat, sesuai dengan amanah konstitusi.

Dalam diagram alur terjadinya gizi buruk di atas, telah saya sebutkan bahwa terjadinya gizi buruk dikarenakan daya beli masyarakat kurang yang berakibat pada konsumsi dan asupan gizi masyarakat juga kurang, maka fokus pemantauan kebijakan dan kritik sosial mahasiswa atas kebijakan pemerintah adalah pada hal-hal tersebut. Misalnya, berdasarkan kajian yang intensif dan data-data yang valid, mahasiswa bisa mengusulkan kepada pemerintah untuk melakukan penurunan harga atau mungkin subsidi bahan pangan pokok untuk masyarakat miskin. Atau juga bisa menuntuk perbaikan pelayanan umum kesehatan dan rumah sakit gratis untuk masyarakat tidak mampu, sehingga ketika terjadi kasus gizi buruk bisa langsung tertangani dengan cepat. Dengan independensinya mahasiswa tentu dapat dipercaya untuk melakukan hal-hal tersebut.

Sebagai penutup dapat saya simpulkan bahwa masalah gizi buruk adalah salah satu agenda mendesak bagi bangsa ini dan mahasiswa dapat berkontribusi besar dalam mensolusikannya, akan tetapi tidak bisa sendiri, perlu juga kontribusi masayarakat umum, masyarakat ekonomi dan juga pemerintah.


[1] Organisasi Pangan Dunia

[2] Badan PBB yang fokus memerangi kelaparan dan malnutrisi, World Food Programme (WFP)

[3] Salah satu Founding Father Negara Republik Indonesia

**

ditulis oleh Panji Prabowo dalam rangka memperingati Hari Pangan Dunia (16 Oktober 2010)

Apa komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s