Membangun Budaya Good Governance Keluarga Mahasiswa ITB

Dutilis sebagai prasyarat fit and proper test menjadi SekJend Kabinet KM ITB

Pendahuluan

Istilah governance sebenarnya sudah dikenal dalam literatur administrasi dan ilmu politik hampir 120 tahun, sejak Woodrow Wilson[1] memperkenalkan bidang studi tersebut kira-kira 125 tahun yang lalu. Tetapi selama itu governance hanya digunakan dalam literatur politik dengan pengetian yang sempit. Wacana tentang governance -yang sering diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebagai tata-pemerintahan, penyelenggaraan pemerintahan atau pengelolaan pemerintahan- itu sendiri baru muncul di Indonesia sekitar 15 tahun belakangan, terutama setelah berbagai lembaga pembiayaan internasional menetapkan good governance sebagai persyaratan utama untuk setiap program bantuan mereka.

Para teoritisi dan praktisi administrasi negara Indonesia memiliki berbagai definisi terhadap istilah good governance, misalnya, penyelenggaraan pemerintahan yang amanah (Bintoro Tjokroamidjojo), tata pemerintahan yang baik (UNDP), pengelolaan pemerintahan yang baik dan bertanggunjawab (LAN), dan ada juga yang mengartikan secara sempit sebagai pemerintahan yang bersih (clean government).

Lalu apa bedanya antara governance dengan government. Perbedaan paling pokok antara konsep government dan governance adalah pada cara penyelenggaraan otoritas politik, ekonomi dan administrasi dalam pengelolaan urusan suatu bangsa. Konsep goverment berkonotasi peranan pemerintah yang lebih dominan dalam penyelenggaran berbagai otoritas tadi. Sedangkan dalam governance mengandung makna bagaimana cara suatu bangsa mendistribusikan kekuasaan dan mengelola sumber daya dan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat. Dengan kata lain, dalam konsep governance terkandung unsur partisipatif, transparansi, keterbukaan, kepastian hukum, proporsionalitas, tertib penyelenggaraan, akuntabilitas, dan profesionalitas.

Prinsip Good Governance

Dalam prespektif saya sebagai anggota Keluarga Mahasiswa ITB, unsur-unsur tersebutlah yang harus terbudayakan dalam dinamika Organisasi Keluarga Mahasiswa ITB, karena organisasi ini adalah wadah pengembangan diri dan karakter. Tentu saja untuk membudayakannya tidak bisa hanya dilakukan oleh Kabinet Keluarga Mahasiswa itu sendiri, tapi bersama oleh seluruh elemen Keluarga Mahasiswa, secara terintegrasi, sinergis serta harmonis.

Aplikasi Good Governance pada Keluarga Mahasiswa

Kebaikan yang tidak terorganisasi dapat dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisasi”

(Ali bin Abi Thalib)

Nasihat tersebut adalah salah satu hal yang bisa menjadi trigger bagi Organisasi Mahasiswa, yang mempunyai dan memperjuangkan nilai-nilai kebaikan didalamnya, tapi masih sangat buruk dalam pengelolaan atau manajemennya. Keluarga Mahasiswa ITB tak bisa dipungkiri pun demikian. Budaya dokumentasi yang masih belum baik, belum transparan dan akuntabel karena budaya administrasi dan kesadaran mengenai urgensi pertanggungjawaban yang masih belum baik, masih terdapat tumpang tindih antar lembaga dalam pelaksanaan sebuah program karena pola koordinasi kabinet-himpunan-unit yang masih belum jelas dan  ketidaksamaan kemampuan dalam hal manajerial organisasi di seluruh lembaga.

Untuk itu diperlukan renovasi pola pemahaman dan peningkatan kapabilitas kita terhadap hal-hal manajerial dan administrasi seperti tersebut diatas, yang merupakan upaya mewujudkan good governance pada Keluarga Mahasiswa ITB.

Pada pengaplikasian good governance sebagai upaya pengembangan organisasi, Presiden KM 2010-2011, Herry Dharmawan menyebutkan dalam essai proposal pencalonannya ada empat bagian yang terintegrasi langsung yakni dokumentasi dan adminstrasi, manajerial, keuangan, dan pola pemerintahan KM ITB. Empat point inilah yang menjadi tempat pengejawantahan prinsip-prinsip good governance di atas.

Aplikasi Good Governance pada konsep pengembangan organisasi KM ITB

Dokumentasi dan Administrasi

Organisasi mahasiswa adalah organisasi massa yang sangat dinamis. Bagaimana tidak, setiap tahunnya kepengurusan berganti, setiap tahunnya suksesi, setiap tahunnya terjadi regenerasi. Maka tidak bisa tidak dokumentasi itu menjadi penting untuk pewarisan pengalaman dan pengetahuan.

Sering terjadi dalam organisasi mahasiswa, program kerja yang dilakukan dari tahun ketahun sama, namun masih saja membentur masalah yang sama pula. Padahal tahun-tahun sebelumnya mungkin sudah dilakukan resolusi atau dibuat rekomendasi atas kesalahan yang terjadi. Namun karena tidak terdokumentasi dengan baik maka terlupalah sudah.

Pendokumentasian yang baik tidak hanya berguna untuk perihal sederhana seperti contoh di atas. Dokumentasi yang baik, dapat memberikan informasi akan ekskalasi gerakan yang telah dibuat, agar tidak terjadi pengulangan-pengulangan langkah. Boleh jadi pada tahun-tahun sebelumnya sebuah organisasi mahasiswa telah melakukan misalnya gerakan community development sampai langkah ke tujuh dari to do list-nya, namun akibat tidak ada dokumentasi maka kepengurusan organisasi mahasiswa pada tahun ini mengulang lagi dari to do list-nya yang pertama. Sungguh sangat disayangkan.

Administrasi pun demikian pentingnya, Institut tempat kemahasiswaan kita bernaung memiliki beberapa standar administrasinya tersendiri. Dan sering kali standar tersebut tidak diketahui oleh banyak pihak mahasiswa, sehingga sering kali terjadi kesalahan dalam membuat proposal pengajuan, kesalahan membuat surat, kesalahan birokrasi yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Selain itu dengan baiknya administrasi dapat menghindari benturan-benturan acara, yakni dengan membuat sebuah router atau kalender kegiatan kemahasiswaan se-ITB. Malah tidak hanya itu, dengan pengkondisian ini dapat dijadikan sinkronisasi acara, dan digabungkan beberapa acara yang memiliki kemiripan dari tujuan maupun sasaran, sehingga bisa menjadi acara yang besar dan sinergis.

Manajerial

Kemampuan manajerial yang baik adalah prasyarat dari keberjalanan sebuah organisasi yang besar. KM ITB adalah organisasi yang besar karena itu diharuskan memiliki manajemen yang baik. Perihal manajemen ini saya bagi menjadi dua hal yakni kebaikan manajemen organisasinya dan juga kebaikan kapasitas manajerial personal-personalnya.

Saat ini yang dibutuhkan pada sebuah organisasi tidak hanya kemampuan leadership yang handal tapi juga kemampuan manajerialnya. Pengembangan kapasitas manajerial personalnya berupa hal-hal yang wajib dimiliki seorang organisator minimal kemampuan manajemen SDM, manajemen konflik dan manajemen waktu.

Manajemen SDM adalah bagaimana melihat kapasitas dan potensi bawahan / staff-nya dan penempatan posisi dan tanggung jawab berdasarkan kapasitasnya. Dan juga bagaimana membangun kedekatan personal dengan bawahannya, sehingga tercipta suasana kerja yang baik dengan unsur kekeluargaan. Sehingga sangat dibutuhkan oleh seorang organisatoris. Begitu juga pentingnya manajemen konflik dan waktu.

Lalu kebaikan manajemen dalam organisasi terkait dengan pola hubungan yang baik antar elemen-elemennya, kesamaan suhu terkait baik dan tidaknya organisasi itu berjalan. Hal ini akan dibahas lebih lanjut pada point pola pemerintahan KM ITB.

Pola Pemerintahan KM ITB

maps.google.com, translate.google.com, docs.google.com adalah produk-produk yang sangat kita kenal dalam teknologi informasi yakni produk google. Tapi sedikit dari kita yang tahu, bahwa produk-produk yang luar biasa itu hanya merupakan produk sampingan dari produk-produk asli dari google. Produk-produk itu hanyalah berasal dari inovasi sembarang dari karyawan-karyawannya. Bagaimana hal yang luar biasa itu hanya terjadi dari inovasi sembarang itu. Itu dikarenakan suasana kerja di goolge itu sangat-sangat nyaman bagi para karyawannya. Mereka bisa bebas bekerja di mana saja, di kantin, di taman, dimanapun tempat mereka bisa nyaman.

Dari hal tersebut, kita bisa mengambil pelajaran bahwa, kinerja sangat bergantung pada suasana kerja. Seperti yang telah disebutkan juga diawal, untuk membangun good governance yakni tidak bisa otoritas dari kabinetnya saja tapi pembagian kekuasaan secara merata. Bahkan dalam world development report 1997 “The State in a Changing World”, diberikan satu pembahasan khusus tentang “Bringing the state closer to the people”. Hal ini dilakukan terutama untuk membentuk suatu pemerintah yang lebih demokratis dan desentralisasi. Demokratis, apresiatif closer to the people.

Karena itu untuk membentuk pola pemerintahan KM ITB yang baik, harus ada kesepakatan yang baik antara setiap elemen-elemen lembaga KM ITB. Untuk itu perlu dilakukan redefinisi terhadap tujuan dari istilah-istilah forum silaturahmi, forum massa juga forum pimpinan, sehingga peran masing-masing elemen bisa disinergiskan.

Penutup

Secara teknis, inisiasi membangun budaya good governance pada Keluarga Mahasiswa ITB bisa dilakukan dengan membuat loka karya atau workshop kemahasiswaan secara terpusat. Workshop dilakuakan untuk sharing sesuai bidang-bidang yang telah dibahas di atas. Sehingga menghasilkan beragam standard operational prosedur untuk segala macam perihal administrasi dan kesamaan visi akan keidealan manajemen organisasi mahasiswa.

Penerapan good governance dalam Keluarga Mahasiswa ITB sekali lagi saya tekankan tidak bisa dibangun oleh salah satu pihak, tapi secara sinergis dan harmonis oleh seluruh elemen-elemennya. Karena itu mari kita berjuang bersama, untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater.

Daftar Pustaka

[1]    Effendi, Sofian. Membangun Good Governance : Tugas Bersama Kita.2005

[2]    Tjokroamidjojo, Bintoro. Good Governance (Paradigma baru Manajemen Pembangunan).

[3]    World development report. 1997

[4]    Dharmawan, Herry. Pembahsan gerakan per bidang. 2010


[1] Presiden Amerika ke-27

2 thoughts on “Membangun Budaya Good Governance Keluarga Mahasiswa ITB

Apa komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s