Antara Kebuthan dan Keinginan

“Mama mau pergi, kamu mau nitip sesuatu ga?”

“iya, beliin …”

*

“Nanti kalo aku lulus, beliin hape baru ya pah”

“Ok.asal nilai kamu bagus”

**

“Libur besok, enaknya kita kemana ya?”

“ke bandung aja pa,aku mau beli….”

 

Beberapa penggalan dialog diatas merupakan dialog yang umum terjadi pada sebuah keluarga, terutama yang bertempat tinggal di urban area. Dialog ini terkesan menjadi dialog yang wajar dan lumrah saja, yang menunjukkan pola hubungan dalam keluarga, namun ternyata dialog ini mengandung sebuah nilai perilaku lain -yang mungkin menjadi lumrah karena sudah biasa terjadi- yakni nilai perilaku konsumtif.

Perilaku konsumtif ini ternyata sudah menjadi hal yang memasyarakat di negara Indonesia ini. Dapat dibuktikan dengan melihat data pengguna kartu kredit yang meningkat dengan signifikan dari tahun 2004, yang hanya ada 8,1 juta kartu,hingga  tahun 2009 mencapai 20,7 juta kartu. Pengguna kartu kredit tergolong pelaku pasar yang konsumtif karena ketika berbelanja-istilahnya-“tidak terasa mengeluarkan uang”.

Menurut data dari sumber lain, ternyata kredit yang paling banyak digunakan oleh para pengguna kredit konsumsi adalah pembelian melalui kredit kepemilikan rumah (KPR) dan kredit kepemilikan mobil (KPM). Hal ini membuktikan bahwa masyarakat indonesia membeli atau memiliki aset sekedar untuk prestise atau kebanggaan atau pandangan sukses dari orang lain terhadap dirinya. Karena umumnya indikator kesuksesan bagi masyarakat kita adalah kepemilikan rumah dan mobil. Jadi biar dikatakan sukses, berhutanglah. Sudah berhutang, bangga pula.

Sedangkan Rasulullah saw pernah bersabda, “Ekonomis (Sederhana dan tidak berlebih-lebihan) dalam memberi nafkah (untuk keluarga) merupakan separuh kehidupan, saling mencintai sesama manusia merupakan separuh akal, dan bertanya dengan baik merupakan separuh pengetahuan.” (HR Thabrani)

Dan Allah pun berfirman dalam AlQur’an :

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. Al-A’raf : 31)

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Q.S. Al-Isra’ : 26-27)

Untuk menghindari perilaku konsumtif, maka pertimbangkanlah mana hal yang menjadi kebutuhan kita alih-alih apa yang kita inginkan.

**

-terinspirasi dari adikku-

oleh Panji Prabowo

One thought on “Antara Kebuthan dan Keinginan

Apa komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s