Kompromi Budaya

KOMPROMI BUDAYA

Dialogi Nasionalisme dan Globalisasi

oleh Panji Prabowo

What’s in a name?

That which we call a rose by other name

would smell as sweet.

(William Shakespeare – Romeo and Juliet)

Dalam dunia nyata tentunya perihal nama tidak sesederhana picisan shakespear itu, karena nama adalah identitas. Identitas bisa menjadi sebuah perwujudan ciri dan karakteristik dari siempunya nama tersebut. Begitu juga dengan budaya, budaya adalah identitas bangsa. Itu berarti budaya merupakan karakteristik atau cerminan sebuah bangsa. Karena itu keterjagaan budaya bangsa adalah simbol sekaligus parameterisasi dari rasa nasionalisme masyarakat bangsa tersebut.

Keterjagaan budaya bangsa inilah yang mulai luntur di negeri kita tercinta ini. Budaya bangsa tak lebih dari penambah nilai pariwisata yang bisa menghasilkan devisa. Lihat saja Angklung dan Reog Ponorogo dianggap tak berharga sosial sama sekali, terkecuali ketika negeri jiran Malaysia mau mengklaim keduanya. Baru masyarakat mulai ribut, itu pun hanya segelintir. Lihat juga kesenian tari tradisional Indonesia, sedikit sekali pemuda-pemudi yang tertarik untuk mempelajarinya. Jangankan mempelajari, menontonnya dalam pagelaran seni pun malas, lebih memilih konser musik RnB atau orkestra. Akhirnya sanggar-sanggar tari yang kumuh pun merasa cukup puas tersingkir dipinggiran kota.

Lihat juga keadaan proyek-proyek memoriabel sejarah dan budaya. Museum. Entah untuk meninggalkan kesan historik dan lampau atau bukan, spasial ruangnya dibiarkan berdebu dan tampak suram. Satu yang pasti keadaan seperti itu sangat membuat orang semakin enggan untuk mengunjunginya. Sehingga pesan sejarah dan budaya juga tinggal menjadi celoteh guru-guru kesenian dan sejarah di SMA.

Tipologi Globalisasi dan Krisis Budaya

Bicara tentang krisis budaya dan nasionalisme takkan pernah lepas dari sebuah kata Globalisasi. Karena terang-terangan globalisasi secara massif menimbulkan kesan budaya lokal menjadi sesuatu yang ketinggalan jaman,menjadi sesuatu yang ‘ga gaul’. Sedang globalisasi menawarkan sebagai hidup bergaya, hidup gengsi, dan sebagainya.

Globalisasi juga menyangkut nilai dan pola hidup kita. Lewat globalisasi, gagasan-gagasan seperti HAM, demokrasi, ekonomi pasar, pola-pola konsumsi, dan beragam kebiasaan relatif tertentu, disebarkan dan diminati dimana-mana. Model ini sangat menjanjikan bagi kesejahteraan sehingga peminatnya sangat banyak dan tersebar di seluruh dunia.Namun demikian peran dominan nilai-nilai perealisasian diri dan kejsejahteraan materil yang berkaitan dengannya mengakibatkan berkurangnya makna bentuk-bentuk sosial tradisional.

Bentuk lain dari globalisasi adalah persaingan bebas. Dalam hal persaingan tentunya sudah jelas, ada pihak yang diuntungkan ada pihak yang dirugikan, ada pihak yang menang ada pihak yang kalah. Dalam hal lapangan kerja misalnya, yang beruntung adalah pekerja-pekerja yang memiliki keterampilan yang tinggi, kapasistas keilmuan yang mumpuni, sehingga kelompok-kelompok pekerja yang berasal dari masyarakat daerah yang kinerjanya relatif rendah semakin termarjinalkan. Meskipun demikian, harusnya globalisasi bisa menjadi pemicu orang untuk belajar lebih, bersaing lebih, dan mengoptimalkan segala potensinya. Tetapi kenyataannya belum seperti itu.

Globalisasi menyentuh setiap orang karena dampaknya pada kehidupan ekonomis, menghadapkan setiap individu pada nilai-nilai, wawasan-wawasan dan kesadaran akan alternatif lain yang memukau. Hubungan antara pria dan wanita, individualisme, konsumsi sebagai makna hidup, kemungkinan hidup tanpa tatanan eksternal keagamaan dan adat, janji kebahagiaan dan status dalam pesona nikmat konsumsi yang ditawarkan, bisa menimbulkan krisis indentitas.

Akibat kebingungan identitas itu maka kelas atas cenderung bertindak tidak jujur, sedangkan kelas bawah menanggapi konflik dengan kekerasan. Tradisi bagi mereka diganti dengan hukum persaingan dan budaya kongkalikong. Orang kehilangan pegangan pada etos hidup yang pernah dimilikinya. Sangat kentara dalam kelakuan di jalan raya terhadap lalulintas.

Akibat konsumerisme adalah sebuah budaya instan. Orang merasa tidak bahagia apabila keinginan untuk membeli produk terbaru tidak langsung terpenuhi. Telpon genggam model terbaru, T-Shirt yang dibeli di Factory Outlet, kerudung model ‘Ketika Cinta Bertasbih’, baju koko style-nya band religi, dan banyak lagi contoh lainnya. Harga diri tergantung dari penampilan dan kemampuan untuk memamerkan merk terbaru. Sikap instan itu kemudian akan berefek orang tidak akan lagi mampu menangani frustasi dan menurunkan daya juang hidup. Sehingga mudah sekali seorang muda bunuh diri hanya karena tidak dibelikan sepeda motor ‘terbaru’ oleh orang tuannya.

Singkat cerita, globalisasi mengikis budaya bangsa yang bersahaja, kemudian merubahnya menjadi budaya komsumtif, budaya saling serang, budaya kasar, budaya malas dan rendahnya daya juang. Transformasi kultural ini pada hakikatnya pendangkalan semua dimensi kehidupan yang mencuat sebagai gaya hidup dan berujung pada matinya solidaritas dan kebersatuan antarawarga Negara. Dan kembali nasionalisme dipertanyakan.

Menilik Sebentar Kompromi Ideologi dan Budaya Bernama Pacasila

Perihal budaya, bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural, terdiri atas berbagai komunitas dengan sistem nilai, pandangan moral, dan kepercayaan-kepercayaan yang berbeda. Bagaimana bangsa seperti itu bisa ditata dengan cara yang acceptable bagi semua,  yang oleh semua komunitas yang sangat beraneka latar belakang itu dianggap adil? Itulah yang menjadi pertanyaan mendasar bagi para perumus dasar Negara kita : Muhammad Yamin, Soepomo dan Soekarno. Ke-legowo-an mereka bertiga akhirnya dapat menciptakan sebuah kompromi antar komunitas dan kompromi ideologi dan budaya, bernama Pancasila.

Berdasarkan pandangan ideologis, Pancasila bisa dikatakan mewakili setiap elemen ideologi yang berkembang dan dibawa oleh para pemikir Indonesia pada saat itu. Sila pertama, ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’, mewakili ideologi Islam. Sila kedua, ‘Kemanusiaan yang adil dan beradap’, mencerminkan Internasionalisme/Marxisme. Sila ketiga, ‘Persatuan Indonesia’, mencerminkan Nasionalisme. Sila keempat, ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan’, mewakili tradisi bangsa. Sila kelima, ‘keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’, mewakili sosial demokrasi.

Masing-masing komunitas ideologis tersebut merelakan sebagaian dari cita-cita mereka untuk mencapai cita-cita merdeka, penciptaan satu Negara dari Sabang sampai Merauke, dimana semua suku, semua ras, umat beragama dan komunitas budaya dapat hidup bersama dengan baik, dengan kewajiban dan hak-hak yang sama, tanpa harus melepaskan cita-cita dan keyakinan masing-masing.

Salut buat mereka bertiga, terutama soekarno yang menemukan kembali istilah pancasila itu. Sehingga bangsa Indonesia tidak perlu mengalami huru-hara besar diawal kemerdekaan atau mungkin tidak jadi merdeka hanya karena tidak mau mengalah ketika meramu dasar negara tersebut.

Ada pula kebingungan kita akan arti Pancasila saat ini adalah akibat penyalahgunaan Pancasila selama 32 tahun masa orde baru. Karena pada masa itu, Pancasila nyata-nyata didekonstruksi, bukan dari isi tapi dari pemaknaan. Di masa orde baru munculah Pancasila sebagai ideologi, padahal ideologi selalu merupakan sebuah ajaran. Dan Pancasila bukanlah ajaran, Pancasila merupakan sederetan nilai dari berbagai macam ideologi dan budaya, seperti telah dijelaskan di atas.

Akan tetapi, dekonstruksi Pancasila sebenarnya pada masa itu adalah pemanfaatannya untuk membernarkan kekuasaan sebuah kelompok terbatas atas seluruh bangsa. Orde baru memakai Pancasila untuk melegitimasi pegangan eksklusif dan tak terbantahkan pada kekuasaan[1]. Itulah fungsi Pancasila pada masa orde baru.

Terlepas dari dosa orde baru tersebut, konsentrasi saya adalah pada bagaimana bangsa ini, kita pernah membuat sebuah janji dan perjanjian, kompromi ideologi dan budaya yang ramuannya begitu beragam, baik dari luar maupun tradisi bangsa. Halus dan penuh dengan kompromi dan toleransi. Tidak pernah nenek moyang kita mengalami revolusi budaya seperti di Cina yang memakan korban 20 juta orang tewas karena kelaparan dan pembantaian.

Epilog Penutup

Saya tidak menentang globalisasi, karena tulisan ini bisa saya buat dengan bantuan perangkat lunak dari perusahaan multinasional dari USA. Saya dapat informasi mengenai kompetisi menulis ini dari Electronic Mail yang dikirimkan kawan saya. Untuk membaca saya memakai kaca mata yang merupakan brand sebuah negeri di eropa. Keluar rumah saya memakai jaket jeans style-nya Harley Davidson. Berjalan memakai sepatu merk USA punya, walaupun saya tidak tahu itu asli atau imitasi. Di saku celana saya terdapat telepon genggam yang pastinya tidak berasal dari produksi negeri ini. Saya dapat mengetahui apa yang terjadi di seluruh dunia secara instan adalah efek dari globalisasi juga. Terimakasih untuk globalisasi.

Namun demikian, bangsa ini tidak boleh terbuka lepas terhadap globalisasi yang berakibat pada kehilangan identitas diri dan meluruhnya nasionalisme. Juga bangsa ini tidak perlu saklek dengan kekhususan budaya bangsa sehingga takut modernisasi, yang menganggap modernisasi adalah nyeleneh dan penodaan pada budaya. Masyarakat bangsa ini harus tetap berada ditengah-tengah, diantara keduanya. Membuka diri terhadap kemajuan dan mempertahankan jati diri bangsa bukan hal yang kontrposisi, keduanya beriringan, keduanya pararel. Toh, bangsa kita ahli meramu dan berkompromi.

***


[1]Franz Magnis Suseno, Berebut Jiwa Bangsa

Apa komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s