Pengantar Ilmu Kajian

[PENGANTAR ILMU KAJIAN]

 

Teorema Kajian

Ilmu pengetahuan adalah suatu pernyataan yang berdasar atau memiliki rasionalsasi sehingga dapat dibuktikan secara empiris. Sedang kepercayaan adalah sesuatu yang diyakini tanpa perlu ada pembuktian empiris, tanpa proses rasionalisasi, dan umumnya bersifat sujektif dan implisit. Jadi pada dasarnya Ilmu pengetahuan hanya berangkat dari kepercayaan atau keyakinan terhadap sesuatu yang dilanjuti dengan keinginan untuk membuktikan sesuatu itu benar atau dengan kata lain ilmu pengetahuan merupakan bentuk rasionalisasi terhadap kepercayaan, sehingga kerpercayaan itu dapat diterima secara masal. Lihat saja proses penemuan hukum gravitasi oleh Newton, landasan dia meneliti hanya didasarkan pada keyakinan dan rasa ingin tahu. Dan proses transformasi dari kepercayaan menjadi ilmu pengetahuan disebut dengan kajian.

1

Kajian adalah proses rasionalisasi dan pembuktian empirik terhadap kepercayaan/ketidakpercayaan menjadi pemahaman/ilmu pengetahuan (Teorema Kajian[1])

Proses ini tidaklah berhenti dalam satu siklus, sehingga memungkinkan Ilmu pengetahuan yang telah diakui secara masal untuk dikaji ulang, secara terus-menerus, infinitive, tanpa batasan, berkembang sejauh ilmu pengetahuan bisa berkembang.

2

Kerangka pengkajiannya untuk setiap kesimpulan yang baru, tentunya semakin diperluas dengan menambah variabel uji, bahkan seringkali kontradiktif, dengan tujuan mencapai kebenaran hakiki.

 

Komponen Kajian

à    Data dan Dugaan (Asumsi)

Untuk mendapatkan konklusi baik diperlukan data dan informasi benar dan menyeluruh akan hal yang akan ingin dikaji. Mulai dari yang bersifat statis, karena merupakan prior information (informasi sebelumnya) dan tacit knowledge (pengalaman), serta yang bersifat dinamis, informasi kekinian dan realita lapangan.

Namun pada kenyataannya bahkan dalam sains, dugaan dan data masih sulit dipisahkan. Karena itu tidak dapat dipungkiri bahwa dugaan juga masih sangat berperan dalam mengkaji sesuatu, hanya saja perlu dilakukan analisa yang lebih dalam.

à    Logika dan Perasaan

Logika adalah kemampuan berfikir untuk mencapai kesimpulan, atau bisa juga dikatakan batasan rasionalitas atau batasan penalaran, tergantung penggunaannya hanya untuk mencerna informasi atau sekaligus menganalisis. Kemampuan ini bervariasi disetiap orangnya, tergantung tingkat evolusi otaknya dan juga pengetahuan yang dimilikinya. Karena hasil analisa tidak akan lepas dari premis-premis informasi yang tangkum menjadi pengetahuan yang konklusif.

Sedangkan perasaan adalah kemampuan mecerna dan mengolah informasi secara subjektif, terlepas dari bisa diterima atau tidak oleh logika. Seperti halnya dugaan, perasaan juga tidak mungkin lepas dan selalu terbawa dalam mengkaji sesuatu. Karena itu adalah bagaimana cara kita untuk memanfaatkan perasaan (intuisi) menjadi sebuah poin tambah dalam mencapai kesimpulan, dengan mempertajamnya. Namun dalam mencari kebenaran ilmiah, posisi perasaan tetap sebagai poin tambah, sehingga masih harus dibuktikan secara empirik.

 

 

Cara Berfikir

Proses berfikir manusia adalah hal yang kompleks dan tidak mudah dijabarkan, namun pada umumnya adalah seperti gambar disamping.

3

Data dan Informasi yang terakumulasi akan di analisa oleh otak, kemudian menghasilkan menghasilkan kesimpulan. Kemudian kesimpulan ini akan jadi sebuah data lagi, yang kemudian akan dianalisa ulang lagi dengan bertambahnya informasi lain. Kurang lebih seperti itu.

Bentuk variasi analisis memungkinkan terjadinya variasi kesimpulan juga, berikut adalah beberapa bentukkan atau metode analisa,

à    Permodelan

Memodelkan permasalahan kebentuk yang sederhana atau bentuk lain yang mirip, sehingga solusi bisa terlihat. Dalam hal ini mengandalkan tacit knowledge / pengalaman yang baik.

à    Inversed Analysis[2]

Berfikir mundur, karena setiap kejadian adalah akibat dari kejadian lainnya, artinya berlaku hukum kausalitas / sebab-akibat. Kesimpulan atau solusi bisa diperoleh dari sebab kejadian tersebut.

4

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

à    Kontradiksi Dialektik

Membenturkan pendapat / pemahaman, dari sebuah tesis dibenturkan dengan antitesis, sehingga melahirkan sintesa baru. Sehingga memungkinkan dilahirkan kesimpulan yang valid. Konsep dialekta ini dibakukan pertama kali oleh Hegel[3].

 

Pada praktiknya sifat analisis tidak terpaku pada bentuk di atas, atau kaku berupa deduktif ataupun induktif, tapi memungkinkan mengintegrasikannya jadi sebuah proses berfikir baru.


[1] Panji Prabowo : 2008

[2] Dedy Kurniadi, Pada Kuliah TF4002-Kapita Selekta, Bab Ill Posed-Inversed Analysis : 2008

[3] Falsafatuna, ASH-Shadr

**

ditulis oleh Panji Prabowo saat masih jadi Kepala Departemen Kajian Strategis GAMAIS ITB

4 thoughts on “Pengantar Ilmu Kajian

Apa komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s