Miskin atau Zuhud?

Miskin atau Zuhud?

Edisi Liburan

Dalam sebuah diskusi, saya pernah berpendapat bahwa kalimat-kalimat seperti, “biar miskin asal bahagia” atau “uang bukanlah segalanya” dan sebagainya, adalah kalimat-kalimat yang diciptakan oleh orang-orang kaya, agar orang miskin tidak terlalu bersusah hati dan tidak terlalu iri terhadap mereka. Pendapat bercanda tentu saja. Namun ternyata kalimat-kalimat tersebut telah meresap betul ke dalam alam bawah sadar kebanyakan orang dan diakui kebenarannya oleh kebanyakan orang pula. Bukan maksud saya menentang kebenaran kalimat tersebut. Memang benar uang bukanlah segalanya, tetapi tak dapat dipungkiri uang memang dibutuhkan. Memang benar bisa saja menjadi miskin tetap bahagia tetapi bukannya lebih baik menjadi kaya dan bahagia. Frame berpikir bahwa menjadi miskin atau tidak beruang-memiliki uang maksudnya- adalah baik-baik saja, itulah yang saya tentang.

Melihat faktanya, kondisi ‘miskin tetap bahagia’ bak mendapat angin segar persetujuan dari para asatidz pada ceramah-ceramah yang konteksnya kesabaran. Bersabar dalam kesusahan, bersabar dalam kemiskinan, atau apapun itu, diartikan tetap berada dalam kesusahan kemudian sabar, atau semakin miskin atas nama kesabaran. Bahkan sampai ada kampanye untuk perang terhadap materialisme atau materialistik, dengan alasan Islam mengajarkan untuk zuhud. Padahal bukan itu poinnya melainkan sabar ketika susah atau miskin datang kemudian berjuang bahkan berperang untuk meninggalkannya.

Adapun tentang zuhud Imam Ghazali mengatakan orang zuhud itu adalah orang yang ‘punya dunia’ lalu meninggalkannya dengan sadar. Sedang orang miskin itu adalah orang yang ‘ditinggal dunia’. Jadi kalau kita bermiskin-miskin ria dengan alasan zuhud, itu salah. Atau jika ada mahasiswa islam ketika akhir bulan rajin puasa senin-kamis lantaran kiriman orang tua sudah habis, itu bukan zuhud, melainkan usahanya untuk memaksimalkan kondisi keterbatasannya agar tetap mendapatkan pahala. Dari pada ga makan ga dapat pahala, mending puasa dan dapat pahala.(no offense J, hanya curhat T.T)

Jika kita menilik kehidupan Rasulullah saw, kehidupan sederhana beliau bukanlah karena beliau miskin tetapi karena pilihannya untuk zuhud, karena sesungguhnya beliau sangat kaya-raya. Bagaimana tidak? Rasulullah diusia 8 tahun sudah mulai kerja dan mendapatkan gaji. Pekerjaan pertamanya menggembala kambing, diusia 12 tahun beliau sudah pulang pergi luar negeri ikut dalam bisnis keluarga, diusia 20 tahun Rasulullah sudah menjadi pengusaha dengan investornya adalah Khadijah. Ketika usia 25 tahun beliau menikahinya dengan mahar seratus ekor unta, jika dinilai dengan harga rupiah saat ini kira-kira 1 ekor unta seharga 10 juta, artinya beliau memberi mahar 1 Milyar ketika itu, seorang muda 25 tahun punya uang cash 1 Milyar,bagaimana tidak kaya. Perlu diperhatikan itu baru maharnya, tentunya yang disimpan masih lebih banyak. Walaupun Rasulullah SAW setelah menjadi Nabi mengatakan sebaik-baik wanita adalah wanita yang cantik dan mahar yang murah, itu sebagai sistem tapi dalam tradisi jahiliyah itu status.

Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam pernah pula bersabda, “Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas/ lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit”(HR. Ibnu Hibban). Tempat tinggal yang lapang adalah parameter stabilitas dan kendaraan yang nyaman adalah parameter mobilitas. Dua poin indikator kebahagiaan tersebut bisa diperoleh tidak hanya dengan kesabaran dalam kemiskinan dan kesusahan tetapi juga dengan perjuangan untuk mengakhirinya dan menjadi kaya, kemudian bersyukur dan hidup dalam kesederhanaan.

Wallahu’alam bishowab

Apa komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s