Kompromi Budaya October 23, 2009
Posted by panji prabowo in Tulisan Lepas.Tags: Budaya, Sosial-Politik
add a comment
KOMPROMI BUDAYA
Dialogi Nasionalisme dan Globalisasi
What’s in a name?
That which we call a rose by other name
would smell as sweet.
(William Shakespeare – Romeo and Juliet)
Dalam dunia nyata tentunya perihal nama tidak sesederhana picisan shakespear itu, karena nama adalah identitas. Identitas bisa menjadi sebuah perwujudan ciri dan karakteristik dari siempunya nama tersebut. Begitu juga dengan budaya, budaya adalah identitas bangsa. Itu berarti budaya merupakan karakteristik atau cerminan sebuah bangsa. Karena itu keterjagaan budaya bangsa adalah simbol sekaligus parameterisasi dari rasa nasionalisme masyarakat bangsa tersebut.
Keterjagaan budaya bangsa inilah yang mulai luntur di negeri kita tercinta ini. Budaya bangsa tak lebih dari penambah nilai pariwisata yang bisa menghasilkan devisa. Lihat saja Angklung dan Reog Ponorogo dianggap tak berharga sosial sama sekali, terkecuali ketika negeri jiran Malaysia mau mengklaim keduanya. Baru masyarakat mulai ribut, itu pun hanya segelintir. Lihat juga kesenian tari tradisional Indonesia, sedikit sekali pemuda-pemudi yang tertarik untuk mempelajarinya. Jangankan mempelajari, menontonnya dalam pagelaran seni pun malas, lebih memilih konser musik RnB atau orkestra. Akhirnya sanggar-sanggar tari yang kumuh pun merasa cukup puas tersingkir dipinggiran kota.
Lihat juga keadaan proyek-proyek memoriabel sejarah dan budaya. Museum. Entah untuk meninggalkan kesan historik dan lampau atau bukan, spasial ruangnya dibiarkan berdebu dan tampak suram. Satu yang pasti keadaan seperti itu sangat membuat orang semakin enggan untuk mengunjunginya. Sehingga pesan sejarah dan budaya juga tinggal menjadi celoteh guru-guru kesenian dan sejarah di SMA.
Tipologi Globalisasi dan Krisis Budaya
Bicara tentang krisis budaya dan nasionalisme takkan pernah lepas dari sebuah kata Globalisasi. Karena terang-terangan globalisasi secara massif menimbulkan kesan budaya lokal menjadi sesuatu yang ketinggalan jaman,menjadi sesuatu yang ‘ga gaul’. Sedang globalisasi menawarkan sebagai hidup bergaya, hidup gengsi, dan sebagainya.
Globalisasi juga menyangkut nilai dan pola hidup kita. Lewat globalisasi, gagasan-gagasan seperti HAM, demokrasi, ekonomi pasar, pola-pola konsumsi, dan beragam kebiasaan relatif tertentu, disebarkan dan diminati dimana-mana. Model ini sangat menjanjikan bagi kesejahteraan sehingga peminatnya sangat banyak dan tersebar di seluruh dunia.Namun demikian peran dominan nilai-nilai perealisasian diri dan kejsejahteraan materil yang berkaitan dengannya mengakibatkan berkurangnya makna bentuk-bentuk sosial tradisional.
Bentuk lain dari globalisasi adalah persaingan bebas. Dalam hal persaingan tentunya sudah jelas, ada pihak yang diuntungkan ada pihak yang dirugikan, ada pihak yang menang ada pihak yang kalah. Dalam hal lapangan kerja misalnya, yang beruntung adalah pekerja-pekerja yang memiliki keterampilan yang tinggi, kapasistas keilmuan yang mumpuni, sehingga kelompok-kelompok pekerja yang berasal dari masyarakat daerah yang kinerjanya relatif rendah semakin termarjinalkan. Meskipun demikian, harusnya globalisasi bisa menjadi pemicu orang untuk belajar lebih, bersaing lebih, dan mengoptimalkan segala potensinya. Tetapi kenyataannya belum seperti itu.
Globalisasi menyentuh setiap orang karena dampaknya pada kehidupan ekonomis, menghadapkan setiap individu pada nilai-nilai, wawasan-wawasan dan kesadaran akan alternatif lain yang memukau. Hubungan antara pria dan wanita, individualisme, konsumsi sebagai makna hidup, kemungkinan hidup tanpa tatanan eksternal keagamaan dan adat, janji kebahagiaan dan status dalam pesona nikmat konsumsi yang ditawarkan, bisa menimbulkan krisis indentitas.
Akibat kebingungan identitas itu maka kelas atas cenderung bertindak tidak jujur, sedangkan kelas bawah menanggapi konflik dengan kekerasan. Tradisi bagi mereka diganti dengan hukum persaingan dan budaya kongkalikong. Orang kehilangan pegangan pada etos hidup yang pernah dimilikinya. Sangat kentara dalam kelakuan di jalan raya terhadap lalulintas.
Akibat konsumerisme adalah sebuah budaya instan. Orang merasa tidak bahagia apabila keinginan untuk membeli produk terbaru tidak langsung terpenuhi. Telpon genggam model terbaru, T-Shirt yang dibeli di Factory Outlet, kerudung model ‘Ketika Cinta Bertasbih’, baju koko style-nya band religi, dan banyak lagi contoh lainnya. Harga diri tergantung dari penampilan dan kemampuan untuk memamerkan merk terbaru. Sikap instan itu kemudian akan berefek orang tidak akan lagi mampu menangani frustasi dan menurunkan daya juang hidup. Sehingga mudah sekali seorang muda bunuh diri hanya karena tidak dibelikan sepeda motor ‘terbaru’ oleh orang tuannya.
Singkat cerita, globalisasi mengikis budaya bangsa yang bersahaja, kemudian merubahnya menjadi budaya komsumtif, budaya saling serang, budaya kasar, budaya malas dan rendahnya daya juang. Transformasi kultural ini pada hakikatnya pendangkalan semua dimensi kehidupan yang mencuat sebagai gaya hidup dan berujung pada matinya solidaritas dan kebersatuan antarawarga Negara. Dan kembali nasionalisme dipertanyakan.
Menilik Sebentar Kompromi Ideologi dan Budaya Bernama Pacasila
Perihal budaya, bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural, terdiri atas berbagai komunitas dengan sistem nilai, pandangan moral, dan kepercayaan-kepercayaan yang berbeda. Bagaimana bangsa seperti itu bisa ditata dengan cara yang acceptable bagi semua, yang oleh semua komunitas yang sangat beraneka latar belakang itu dianggap adil? Itulah yang menjadi pertanyaan mendasar bagi para perumus dasar Negara kita : Muhammad Yamin, Soepomo dan Soekarno. Ke-legowo-an mereka bertiga akhirnya dapat menciptakan sebuah kompromi antar komunitas dan kompromi ideologi dan budaya, bernama Pancasila.
Berdasarkan pandangan ideologis, Pancasila bisa dikatakan mewakili setiap elemen ideologi yang berkembang dan dibawa oleh para pemikir Indonesia pada saat itu. Sila pertama, ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’, mewakili ideologi Islam. Sila kedua, ‘Kemanusiaan yang adil dan beradap’, mencerminkan Internasionalisme/Marxisme. Sila ketiga, ‘Persatuan Indonesia’, mencerminkan Nasionalisme. Sila keempat, ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan’, mewakili tradisi bangsa. Sila kelima, ‘keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’, mewakili sosial demokrasi.
Masing-masing komunitas ideologis tersebut merelakan sebagaian dari cita-cita mereka untuk mencapai cita-cita merdeka, penciptaan satu Negara dari Sabang sampai Merauke, dimana semua suku, semua ras, umat beragama dan komunitas budaya dapat hidup bersama dengan baik, dengan kewajiban dan hak-hak yang sama, tanpa harus melepaskan cita-cita dan keyakinan masing-masing.
Salut buat mereka bertiga, terutama soekarno yang menemukan kembali istilah pancasila itu. Sehingga bangsa Indonesia tidak perlu mengalami huru-hara besar diawal kemerdekaan atau mungkin tidak jadi merdeka hanya karena tidak mau mengalah ketika meramu dasar negara tersebut.
Ada pula kebingungan kita akan arti Pancasila saat ini adalah akibat penyalahgunaan Pancasila selama 32 tahun masa orde baru. Karena pada masa itu, Pancasila nyata-nyata didekonstruksi, bukan dari isi tapi dari pemaknaan. Di masa orde baru munculah Pancasila sebagai ideologi, padahal ideologi selalu merupakan sebuah ajaran. Dan Pancasila bukanlah ajaran, Pancasila merupakan sederetan nilai dari berbagai macam ideologi dan budaya, seperti telah dijelaskan di atas.
Akan tetapi, dekonstruksi Pancasila sebenarnya pada masa itu adalah pemanfaatannya untuk membernarkan kekuasaan sebuah kelompok terbatas atas seluruh bangsa. Orde baru memakai Pancasila untuk melegitimasi pegangan eksklusif dan tak terbantahkan pada kekuasaan[1]. Itulah fungsi Pancasila pada masa orde baru.
Terlepas dari dosa orde baru tersebut, konsentrasi saya adalah pada bagaimana bangsa ini, kita pernah membuat sebuah janji dan perjanjian, kompromi ideologi dan budaya yang ramuannya begitu beragam, baik dari luar maupun tradisi bangsa. Halus dan penuh dengan kompromi dan toleransi. Tidak pernah nenek moyang kita mengalami revolusi budaya seperti di Cina yang memakan korban 20 juta orang tewas karena kelaparan dan pembantaian.
Epilog Penutup
Saya tidak menentang globalisasi, karena tulisan ini bisa saya buat dengan bantuan perangkat lunak dari perusahaan multinasional dari USA. Saya dapat informasi mengenai kompetisi menulis ini dari Electronic Mail yang dikirimkan kawan saya. Untuk membaca saya memakai kaca mata yang merupakan brand sebuah negeri di eropa. Keluar rumah saya memakai jaket jeans style-nya Harley Davidson. Berjalan memakai sepatu merk USA punya, walaupun saya tidak tahu itu asli atau imitasi. Di saku celana saya terdapat telepon genggam yang pastinya tidak berasal dari produksi negeri ini. Saya dapat mengetahui apa yang terjadi di seluruh dunia secara instan adalah efek dari globalisasi juga. Terimakasih untuk globalisasi.
Namun demikian, bangsa ini tidak boleh terbuka lepas terhadap globalisasi yang berakibat pada kehilangan identitas diri dan meluruhnya nasionalisme. Juga bangsa ini tidak perlu saklek dengan kekhususan budaya bangsa sehingga takut modernisasi, yang menganggap modernisasi adalah nyeleneh dan penodaan pada budaya. Masyarakat bangsa ini harus tetap berada ditengah-tengah, diantara keduanya. Membuka diri terhadap kemajuan dan mempertahankan jati diri bangsa bukan hal yang kontrposisi, keduanya beriringan, keduanya pararel. Toh, bangsa kita ahli meramu dan berkompromi.
***
[1]Franz Magnis Suseno, Berebut Jiwa Bangsa
Ayat-Ayat Allah dalam Gempa di Sumatra October 7, 2009
Posted by panji prabowo in Dari media.Tags: Sosial-Politik, [Islam]
1 comment so far
Gempa besar berkekuatan 7,6 Skala Richter melantakkan kota Padang dan sekitarnya pukul 17.16 pada tanggal 30 September lalu. Gempa susulan terjadi pada pukul 17.58. Keesokan harinya, 1 Oktober kemarin, gempa berkekuatan 7 Skala Richter kembali menggoyang Jambi dan sekitarnya tepat pukul 08.52.
Adalah ketetapan Allah Swt jika bencana ini bertepatan dengan beberapa momentum besar bangsa Indonesia, dulu dan sekarang:
Pertama, tanggal 1 Oktober merupakan hari pelantikan anggota DPR dan DPD periode 2009-2014 yang menuai kontroversi. Acara seremonial yang sebenarnya bisa dilaksanakan dengan amat sederhana itu ternyata memboroskan uang rakyat lebih dari 70 miliar rupiah. Hal ini dilakukan di tengah berbagai musibah yang mengguncang bangsa ini. Dan kenyataan ini membuktikan jika para pejabat itu tidak memiliki empati sama sekali terhadap nasib rakyat yang kian hari kian susah.
Bukan mustahil, banyak kaum mustadh’afin yang berdoa kepada Allah Swt agar menunjukkan kebesaran-Nya kepada para pejabat negara ini agar mau bersikap amanah dan tidak bertindak bagaikan segerombolan perampok terhadap uang umat.
Satu lagi, siapa pun yang berkunjung ke Gedung DPR di saat hari pelantikan tersebut akan mencium aroma kematian di mana-mana. Entah mengapa, pihak panitia begitu royal menyebar rangkaian bunga Melati di setiap sudut gedung tersebut. Bunga Melati memang bunga yang biasanya mengiringi acara-acara sakral di negeri ini, seperti pesta perkawinan dan sebagainya. Namun agaknya mereka lupa jika bunga Melati juga biasa dipakai dalam acara-acara berkabung atau kematian.
Kedua, 44 tahun lalu, tanggal 30 September dan 1 Oktober 1965 merupakan tonggak bersejarah bagi perjalanan bangsa dan negara ini. Pada tanggal itulah awal dari kejatuhan Soekarno dan berkuasanya Jenderal Suharto. Pergantian kekuasaan yang di Barat dikenal dengan sebutan Coup de’ Etat Jenderal Suharto ini, telah membunuh Indonesia yang mandiri dan revolusioner di zaman Soekarno, anti kepada neo kolonialisme dan neo imperialisme (Nekolim), menjadi Indonesia yang terjajah kembali. Suharto telah membawa kembali bangsa ini ke mulut para pelayan Dajjal, agen-agen Yahudi Internasional, yang berkumpul di Washington.
Gempa dan Ayat-Ayat Allah Swt
Segala sesuatu kejadian di muka bumi merupakan ketetapan Allah Swt. Demikian pula dengan musibah bernama gempa bumi. Hanya berseling sehari setelah kejadian, beredar kabar—di antaranya lewat pesan singkat—yang mengkaitkan waktu terjadinya musibah tiba gempa itu dengan surat dan ayat yang ada di dalam kitab suci Al-Qur’an.
“Gempa di Padang jam 17.16, gempa susulan 17.58, esoknya gempa di Jambi jam 8.52. Coba lihat Al-Qur’an!” demikian bunyi pesan singkat yang beredar. Siapa pun yang membuka Al-Qur’an dengan tuntunan pesan singkat tersebut akan merasa kecil di hadapan Allah Swt. Demikian ayatayat Allah Swt tersebut:
17.16 (QS. Al Israa’ ayat 16): “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”
17.58 (QS. Al Israa’ ayat 58): “Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz).”
8.52 (QS. Al Anfaal: 52): (Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.”
Tiga ayat Allah Swt di atas, yang ditunjukkan tepat dalam waktu kejadian tiga gempa kemarin di Sumatera, berbicara mengenai azab Allah berupa kehancuran dan kematian, dan kaitannya dengan hidup bermewah-mewah dan kedurhakaan, dan juga dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya. Ini tentu sangat menarik.
Gaya hidup bermewah-mewah seolah disimbolisasikan dengan acara pelantikan anggota DPR yang memang WAH. Kedurhakaan bisa jadi disimbolkan oleh tidak ditunaikannya amanah umat selama ini oleh para penguasa, namun juga tidak tertutup kemungkinan kedurhakaan kita sendiri yang masih banyak yang lalai dengan ayat-ayat Allah atau malah menjadikan agama Allah sekadar sebagai komoditas untuk meraih kehidupan duniawi dengan segala kelezatannya (yang sebenarnya menipu).
Dan yang terakhir, terkait dengan “Fir’aun dan para pengikutnya”, percaya atau tidak, para pemimpin dunia sekarang ini yang tergabung dalam kelompok Globalis (mencita-citakan The New World Order) seperti Dinasti Bush, Dinasti Rotschild, Dinasti Rockefeller, Dinasti Windsor, dan para tokoh Luciferian lainnya yang tergabung dalam Bilderberg Group, Bohemian Groove, Freemasonry, Trilateral Commission (ada lima tokoh Indonesia sebagai anggotanya), sesungguhnya masih memiliki ikatan darah dengan Firaun Mesir (!).
David Icke yang dengan tekun selama bertahun-tahun menelisik garis darah Firaun ke masa sekarang, dalam bukunya “The Biggest Secret”, menemukan bukti jika darah Firaun memang menaliri tokoh-tokoh Luciferian sekarang ini seperti yang telah disebutkan di atas. Bagi yang ingin menelusuri gais darah Fir’aun tersebut hingga ke Dinasti Bush, silakan cari di www.davidicke.com (Piso-Bush Genealogy), dan ada pula di New England Historical Genealogy Society.
Nah, bukan rahasia lagi jika sekarang Indonesia berada di bawah cengkeraman kaum NeoLib. Kelompok ini satu kubu dengan IMF, World Bank, Trilateral Commission, Round Table, dan kelompok-kelompok elit dunia lainnya yang bekerja menciptakan The New World Order. Padahal jelas-jelas, kubu The New World Order memiliki garis darah dengan Firaun. Kelompok Globalis-Luciferian inilah yang mungkin dimaksudkan Allah Swt dalam QS. Al Anfaal ayat 52 di atas. Dan bagi pendukung pasangan ini, mungkin bisa disebut sebagai “…pengikut-pengikutnya.”
Dengan adanya berbagai “kebetulan” yang Allah Swt sampaikan dalam musibah gempa kemarin ini, Allah Swt jelas hendak mengingatkan kita semua. Apakah semua “kebetulan” itu sekadar sebuah “kebetulan” semata tanpa pesan yang berarti? Apakah pesan Allah Swt itu akan mengubah kita semua agar lebih taat pada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya? Atau malah kita semua sama sekali tidak perduli, bahkan menertawakan semua pesan ini sebagaimana dahulu kaum kafir Quraiys menertawakan dakwah Rasulullah Saw? Semua berpulang kepada diri kita masing-masing. Wallahu’alam bishawab. (Ridyasmara)
sumber : eramuslim.com
***
Marilah kita sikapi dengan bijak, bila kejadian itu adalah ujian dari Allah, maka saatnya kita meningkatkan diri agar lulus dari ujian ini. Bila kejadian itu adalah peringatan dari Allah, maka saatnya kita mengingat-Nya lagi dengan dengan lebih sering lagi, lebih rajin lagi beribadah. Dan bila kejadian itu adalah adzab dari Allah swt, maka saatnya kita merenung dan bertobat atas kesalahan-kesalahan kita bersama..
wallahu’alam bishoab
Kisah Siti Khoiyaroh* June 3, 2009
Posted by panji prabowo in Tulisan Lepas.Tags: Sosial-Politik, Renungan, Ekonomi
2 comments
Gedebuk! Tangis melengking Siti Khoiyaroh (4 tahun) terasa menyayat. Tubuhnya terempas ke aspal. Rombong bakso ibunya, Sumariah, jatuh terjungkal.
Tubuh mungil Siti melepuh tersiram kuah bakso mendidih dan bara arang. Sementara tubuh Sumariah tertahan jambakan tangan kasar petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya. Tangis Sumariah dan Mat Naki, suaminya, menjadi-jadi setelah menanti selama delapan hari, si mungil kesayangannya mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Dr Soetomo, Surabaya.
Nasib naas juga menimpa seorang pekerja seks komersial (PSK) di Tangerang. Takut dikejar petugas Satpol PP, ia menceburkan diri ke sungai, menyelamatkan diri. Perempuan malang ini tewas tenggelam.
Kekerasan negara
Itulah sejumput kecil deretan nasib rakyat miskin yang tersingkirkan dari jalanan kota di seantero negeri. Berbagai kekerasan negara terhadap kaum marjinal—rakyat yang melata mempertahankan hidupnya, yang tidak tahu pasti apa yang bisa dimakan esok—terus terjadi.
Khoiyaroh, si mungil yang melata di jalanan kota bersama ibunya mencari sesuap nasi, harus terenggut nyawanya akibat kekerasan negara melalui tindakan Satpol PP atas nama penertiban perda terhadap pedagang kaki lima yang dikategorikan liar, mengganggu keindahan kota. Begitu pula nasib malang sang PSK.
Tindak kekerasan Satpol PP Kota Surabaya bukan hanya terhadap Khoiyaroh. Belum lama ini, istri seorang jurnalis sebuah surat kabar di Surabaya mengalami naas, terkena operasi penertiban kartu tanda penduduk (KTP). Sang istri wartawan didapati tidak membawa KTP. Tanpa ampun, dia diangkut ke Kantor Satpol, dituduh sebagai PSK yang sedang mencari mangsa.
Sang suami pun mencak-mencak. Penjelasan bahwa perempuan itu istrinya dengan bukti KTP yang beralamat sama tidak digubris petugas Satpol PP. Bisa dibayangkan aib yang suami-istri ini terima. Kasus ini memicu unjuk rasa wartawan Surabaya terhadap Satpol PP dan pemerintah kota. Meski telah dilaporkan ke polisi, kelanjutan perkara ini tak jelas juntrungan-nya.
Berbagai tindakan ala premanisme petugas Satpol PP dalam melaksanakan penertiban di sejumlah kota akhir-akhir ini sungguh mencuatkan ironi. Nasib Khoiyaroh adalah gambaran telanjang sebuah tragedi wong cilik, pada saat semua politisi di negeri ini menepuk dada sebagai pejuang dan pembela ekonomi kerakyatan. Bahkan, semua calon presiden dan wakil presiden yang akan bertarung Juli mendatang pun pidato berbusa-busa mengukuhkan diri sebagai pembela ekonomi kerakyatan, membela wong cilik, antineoliberalisme.
Siti Khoiyaroh yang melata bersama ibunya dari subuh hingga larut malam menapaki jalanan kota, berjualan bakso, adalah pelaku ekonomi kerakyatan. Merekalah rakyat yang benar-benar rakyat, yang mengalami ketidakberdayaan akibat termarjinalisasi, terdevaluasi, terampas, dan mengalami pembungkaman.
Tewasnya Siti Khoiyaroh akibat tindak kekerasan ”polisi perda” adalah paradoks, sekaligus ironi terhadap pembelaan ekonomi kerakyatan. Penyingkiran wong cilik dari denyut ekonomi kerakyatan di jalanan kota adalah sama dengan memberikan stempel pada dahi mereka, ”Anda adalah pesakitan karena bukan bagian dari pasar”. Bukankah ini sikap neolib?
Terampas dan terbungkam
Para pedagang kaki lima, pekerja sektor informal, bahkan PSK, pun adalah segelombang rakyat yang berjuang keras untuk bertahan hidup dari hari ke hari tanpa berniat merecoki negara. Namun, atas nama peraturan daerah dengan misi ketertiban dan keindahan kota, atas nama ekonomi pasar, supermarket, hipermarket, mal, para aktor ekonomi kerakyatan itu adalah borok yang harus disingkirkan.
Sumariah, ibu Siti Khoiyaroh, mengalami keterampasan dan pembungkaman atas nasibnya. Ia tidak saja kehilangan rombong bakso tumpuan hidupnya, tetapi juga putri semata wayangnya. Inikah bukti ekonomi kerakyatan yang dipidatokan para pemimpin? Di manakah suara pembela wong cilik yang dikampanyekan para politisi itu?
Saat semua orang berseru, singkirkan neoliberalisme dari visi dan misi para calon pemimpin negeri, Satpol PP di seantero negeri secara telanjang justru menunjukkan, mereka adalah ujung tombak penegakan neoliberalisme, paham yang mendewakan ”fundamentalisme pasar” sebagai hukum yang paling hukum. Sedangkan pelaku ekonomi kerakyatan—pedagang kali lima, pekerja sektor informal di jalanan kota—bukan bagian dari pasar.
Di benak mereka, pasar sebenarnya adalah mal, supermarket, hipermarket, dan sejenisnya. Itulah yang harus dibangun, dilindungi pemerintah, dan diberi tempat terhormat. Lantas, Sumariah, si pedagang bakso dan berlaksa-laksa pedagang jalanan lain yang merayapi penjuru kota, cuma sejenis kutu yang dianggap mengganggu keindahan dan ketertiban kota. Di manakah gaung pidato pembela ekonomi kerakyatan para pemimpin itu harus dirumahkan? Mungkinkah pidato itu berumah di rombong Sumariah?
*Penulis :
Hotman M Siahaan-Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga, Surabaya
Koalisi bukan bagi-bagi kekuasaan April 13, 2009
Posted by panji prabowo in Tulisan Lepas.Tags: Pemerintahan, Sosial-Politik
2 comments
13 april 2009.1pm.
Selepas Pemilu Legislatif Partai Politik sedang disibukkan dengan hitungan-hitungan angka, analisis strategi, koaliasi dengan siapa, aksi lobbi-lobbi atau juga yang sedang ngetren istilah “komunikasi politik”. Ya..semuanya berusaha mencari posisi yang paling tepat dan nyaman kedepannya, tentunya kalau bisa menang. Tentunya saya yakin sepenuhnya bahwa tujuan partai politik berusaha untuk menang adalah untuk memperjuangkan aspirasi yang diwakilinya, ideologi yang dibawanya, kemakmuran rakyat indonesia, bukan sekedar untuk meraih kekuasaan. Semoga saja..Aamiin…
Kemenangan Partai Demokrat, pada pemilu legislatif 2009 kemarin, membawa Partai Demokrat dan Susilo Bamabng Yudhoyono demikian kokoh dan gagah dalam bermanuver dan memposisikan dirinya, hampir semua partai berebut untuk mendekat kepada Partai Demokrat sekarang ini. Demikian gagah dibandign tahun 2004 lalu yang hanya memperoleh kurang- lebih 7%, yang untuk mengajukan SBY sebagai calon presiden, Partai Demokrat harus berkoalisi dengan banyak partai. Sehingga baru-baru ini SBY, dalam conferensi pers kemenangan partai demokrat, dengan tegas menyampaikan hal yang intinya bahwa kontrak politik atau komitmen untuk berkoalisi harus jelas dan diusahakan agar terpublish kemasyarakat luas. Wajar memang, dengan melihat pemerintahan selama 5 tahun terakhir, koalisis besar-besarran pada tahun 2004 lalu terlihat tidak kokoh bahkan saling tikam dibelakang, maka pernyataan tersebut tersirat mengatakan bahwa “sekarang gue menang, silakan koalisi ma gue, tapi lo nurut n kita buat kontrak yang jelas”. Gagah sekali bukan.
Koalisi pada hakikatnya bukan sekedar bagi-bagi kekuasaan, seperti politik yang tujuannya bukan hanya memperoleh kekuasaaan. Jika partai politik yang ada sekrang memahami hal ini, maka niscaya kesejahteraan rakyatlah yang menjadi tujuan dan landasan geraknya. Artinya jika ternyata untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, bisa dengan merekonsoliasi ide dan pemikiran masing-masing partai politik, maka mengapa tidak. Jika pun paska pemerintahan nanti atau pemilu 2014 nanti rekonsoliasi ide ini tidak dianggap lebih baik daripada ide awal partai politik itu sendiri, maka itulah saatnya berpisah jalan. Tidak ada teman yang abadi dan tidak ada musuh yang abadi.
Berdasarkan hal tersebut, arah saya adalah menjelaskan landasan-landasan yang diperlu diperhatikan partai politik untuk berkoalisi. Pertama adalah kemiripan ideologis. Hal ini sangat penting adanya, karena kemiripan ideologis bisa membuat ide awal partai politik setelah rekonsoliasi tidak terpental begitu jauh, serta bisa mengokohkan jalannya pemerintahan kelak; Kedua adalah pencapaian partai poltik tersebut. Konkritnya saya berbicara tentang jumlah perolehan kursi atau persentase kemenangan. Hal ini juga penting, karena jika Gol utama adalah mensejahterakan rakyat dan jalannya adalah dengan memperoleh kemenangan, maka koalisi dengan partai politik yang besar, artinya perolehan suaranya besar adalah mutlak; Ketiga adalah komitmen. Bukan hanya untuk memperoleh kemenangan tapi untuk menjalankan pemerintahan bersama-sama selama 5 tahun, tidak menikam dari belakang, tidak talak 3 sebelum pemerintahan usai. Hal ini begitu sederhana namun begitu sulit; keempat adalah prediksi masa depan. Maksud saya disini adalah penjelasan ide ‘berpisah jalan’ di pemilu berikutnya yang pernah saya sebutkan sebelumny. Jika partai politik itu besar, secara kualitas dan kuantitas, maka ide memimpin bangsa tidak selesai hanya dalam satu perputaran pemerintahan. Secara konotatif ‘ingin menang’ atau ‘ingin berkuasa’ diputaran pemerintahan berikutnya. Karena itu, bagi partai politik menjadi penting untuk mengukur diri dan memprediksi masa depan sebelum berkoalisi dengan siapa, apakah diperputaran roda pemerintahan berikutnya bisa memimpin, jika berkoalisi dengan partai tersebut?
Analisis Instan Hasil Pemilu Legislatif 2009 April 12, 2009
Posted by panji prabowo in Tulisan Lepas.Tags: Pemerintahan, Sosial-Politik
add a comment
Jakarta, 10 April 2009.10.50pm.
Pesta demokrasi Indoneisa baru saja diselenggarakan, dengan cukup sukses pada 9 april kemarin. Dengan hasil quick count LSI (per 10 januari,pukul 10.48pm) , 10 parpol besar seperti di bawah ini :
- Partai Demokrat : 20.9%
- PDIP : 14.6%
- Golkar : 14.3%
- PKS : 8.6%
- PAN : 7.5%
- PKB : 6.8%
- PPP : 5.1%
- Gerindra : 4.8%
- Hanura : 3.5%
- PKPB : 1.6%
Dari hasil diatas,ada beberapa poin yang menarik perhatian saya, diantaranya; meningkatnya partai demokrat menjadi 3 kali lipat dari perolehan popular vote di tahun 2004; munculnya 2 partai baru, Gerindra dan Hanura, yang dapat menembus 10 besar, bahkan melewati ambang batas parlementary tresshold; adanya 3 partai Islam, PKS, PKB dan PPP, dalam 10 peringkat teratas hasil quick count ini. Ketiga poin tersebut yang akan saya coba bahas, dengan presepsi saya sendiri tentunya, pada tulisan saya kali ini.
Meningkatnya Suara Partai Demokrat (PD)
Pencapaian suara partai demokrat kali ini memang sangat luar biasa, bila dibandingkan dengan pencapaian di pemilu 2004 yang hanya sekitar 7,6%, maka sekarang ini hampir 3 kalinya. PD berhasil melampaui 2 partai besar, yang memimpin pada tahun 2004, yaitu Golkar dan PDIP. PD hampir unggul di semua daerah pemilihan, hal ini membuktikan bahwa kemengan PD dalam pemilu legislatif kali ini adalah mutlak.
Keberhasilan PD kali ini, bisa dikatakan sebagai tanggapan positif dari masyarakat terhadap pemerintahan kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan juga kemampuan PD yang berhasil meyakinkan masyarakat bahwa kesuksesan pemerintahan adalah keberhasilan dari PD semata. Bukan bermaksud menafikan kedekatan caleg-nya dengan masyarakatnya atau pun kekuatan partainya, tapi melihat karakteristik umum masyarakat Indonesia, yaitu melihat tokoh atau figur, maka bisa saya katakan 80% kemenangan PD kali ini, dipegang oleh Susilo Bambang Yudhoyono.
Gerindra dan Hanura
Fenomena PKS dan PD pada tahun 2004 sebagai partai yang melejit, dari tataran partai kecil menjadi partai menengah, kembali terulang pada 2 partai lain pada pemilu 2009 kali ini, yakni Gerindra dan Hanura. Sekalipun tidak sesignifikan PKS dan PD pada tahun 2004, yang mendapat 7% lebih. Namun tetap saja fenomenal, karena menurut saya, ketokohan 2 pimpinan partai ini, yakni Prabowo Subianto dan Wiranto adalah tokoh-tokoh yang mampu menandingi ketokohan Susilo Bambang Yudhoyono. Dan juga hal ini membuktikan eksistensi Gerindra dan Hanura sebagai partai baru, tapi memiliki mesin politik dan kader yang cukup kuat.
Pada pemilu 2009 kali ini, ada sistem parlementary tresshold, yakni sistem dimana yang memberlakuakan bahwa parpol harus melebihi perolehan 2.5%, untuk bisa mengirimkan caleg-nya ke gedung DPR-MPR. Dan luar biasanya Gerindra dan Hanura, sebagai partai baru mereka, bisa mengungguli 17 partai lama, yang perolehannya dibawah 2.5%. Dengan sistem parlementary tresshold ini juga memungkinkan perolehan Gerindra dan Hanura meningkat saat dikonversi menjadi kursi di DPR.
Partai Islam
Jika melihat penjumlahan 3 partai islam 10 besar, yakni PKS, PKB dan PPP, serta partai Islam yang dibawah peringkat 10 besar, seperti PBB dan juga PKNU, maka perolehan partai Islam sekitar 21% lebih. Yang ingin saya cermati disini adalah bahwa keprcayaan masyarakat terhadap partai-partai Islam bahkan jauh lebih besar dari kepercayaan masyarakat terhadap kesuksesan pemerintahan 2004-2009 yang direpresentasikan oleh kemenangan PD. Hal ini yang harusnya bisa diperhatikan oleh para pemimpin partai Islam tersebut, bahwa kemengangan umat Islam bisa terwujud bila Islam bersatu.
Sedangkan secara umum hasil pemilu legislatif 2009 kali ini, menurut saya membuktikan 1 hal, yaitu kecenderungan masyarakat Indonesia untuk memilih adalah berorientasi pada partai-partai besar yang sudah menokoh dan mungkin memiliki idealisme tertentu. Sehingga partai-partai kecil yang kurang menokoh akan tersingkir juga, lebih lagi sekarang setelah ada sistem parlementary tresshold, yang akan membuang partai yang pencapaiannya dibawah 2.5%.
Sehingga saran dan prediksi saya mungkin, ditahun-tahun mendatang partai politik di Indonesia jumlahnya di bawah 10, yang membedakan hanya idealisme yang dipegang partai tersebut, tidak seperti sekarang, hampir tidak bisa dibedakan idealisme yang satu dengan yang lain. Mungkin juga 9 partai yang lolos parlementary tresshold sekarang itu adalah partai-partai Indonesia mendatang.
Wallahu’alam…


