jump to navigation

Willy, Sebuah penghargaan teruntuk Rendra August 7, 2009

Posted by panji prabowo in Syair.
Tags: ,
3 comments

Willy
oleh:Iwan Fals

Si Anjing Liar Dari Jogjakarta
Apa Kabarmu?
Kurindu Gonggongmu
Yang Keras Hantam Cadas

Si Kuda Binal Dari Jogjakarta
Sehatkah Dirimu?
Kurindu Ringkikmu
Yang Genit Memaki Onar

Dimana Kini Kau Berada?
Tetapkah Nyaring Suaramu?

Si Mata Elang Dari Jogjakarta
Resahkah Kamu?
Kurindu Sorot Matamu
Yang Tajam Belah Malam

Dimana Runcing Kokoh Paruhmu?
Tetapkah Angkuhmu Hadang Keruh?

Masih Sukakah Kau Mendengar?
Dengus Nafas Saudara Kita Yang Terkapar
Masih Sukakah Kau Melihat?
Butir Keringat Kaum Orang Kecil Yang Terjerat
Oleh Slogan Slogan Manis Sang Hati Laknat
Oleh Janji Janji Muluk Tanpa Bukti

Dimana Kini Kau Berada?
Tetapkah Nyaring Suaramu?
Dimana Runcing Kokoh Paruhmu?
Tetapkah Angkuhmu Hadang Keruh?

***

Karya Iwan Fals untuk Willibrordus Surendra Broto Rendra (WS Rendra), sebelum berganti nama menjadi Wahyu Sulaiman Rendra setelah masuk Islam. Semoga bisa memberi gambaran seperti apa WS Rendra.

In Memoriam WS Rendra..
Semoga perjuangannya bernilai amal dan diterima di sisi Allah..
Aamiiin

Perempuan Setara April 2, 2009

Posted by panji prabowo in Dari media, Tulisan Lepas.
Tags: ,
add a comment

Oleh: KH. A. Mustofa Bisri*

Sang Pemimpin gundah gulana. Gosip kejam itu telah menguasai seluruh kota. Istri sang pemimpin digosipkan “ada main” dengan salah seorang anak buahnya. Istri yang digosipkan itu adalah perempuan muda yang sangat ia cintai dan
sangat mencintainya, anak sahabatnya yang sangat ia cintai pula.

Karena tidak ada bukti maupun saksi, sang pemimpin hanya dapat meminta pendapat para tokoh-tokoh pembantunya mengenai kebenaran dan tidaknya gosip tersebut. Payahnya, beberapa tokoh yang dimintai pendapat, ada yang tampak membenarkan meski banyak yang terang-terangan menolak dan memustahilkan. Bahkan pro dan kontra tentang masalah ini nyaris menimbulkan fitnah.

Sang pemimpin (Rasulullah, Nabi Muhammad SAW) akhirnya menemui sang istri yang sudah beberapa hari, atas permintaannya, berada di kediaman kedua orangtuanya. Sang istri (sayyidatina Aisyah r.a.) yang sudah dua hari dua malam tidak tidur itu sedang ditunggui kedua orangtuanya (sayyidina Abu Bakar Shiddiq dan Ummu Ruman), saat sang pemimpin masuk dan duduk di dekat pembaringan.

“Aisyah, aku mendengar suara-suara begini-begitu tentang dirimu;” sabda Rasulullah kemudian, “apabila kamu tidak bersalah, Allah akan menyatakan kamu tidak bersalah. Bila ternyata kamu melakukan dosa, beristighfarlah kepada Allah dan bertaubatlah. Hamba apabila mengaku salah dan bertaubat, Allah akan menerima taubatnya.”

Mendengar sabda sang suami tercinta itu, sayyidatina Aisyah-yang selama ini terus menangis-seketika airmatanya terhenti dan berkata ditujukan kepada kedua orangtuanya, “Kalian jawablah Rasulullah.” Kedua orangtuanya menjawab, “Demi Allah, kami tidak tahu harus berkata apa.”

Sayyidatina Aisyah, sang istri belia itu pun berkata dengan tegarnya: “Sesungguhnya, saya tahu kalian semua telah mendengar omongan gosip ini, sehingga sudah tertanam dalam diri kalian dan kalian telah mempercayainya.
Kalau pun saya mengatakan kepada kalian bahwa saya tidak bersalah, kalian tidak akan mempercayai saya. Sebaliknya, bila saya mengakui perbuatan yang Allah tahu semata bahwa saya tidak melakukannya, kalian pasti
mempercayainya. Demi Allah, saya tidak menemukan contoh untuk kalian kecuali ayahnya Nabi Yusuf ketika berkata, Fashobrun jamiil wallaahul must’aanu ‘alaa maa tashifuun (Kesabaran yang baiklah pilihanku dan Allah sajalah
tempat memohon pertolongan terhadap apa yang kalian ceritakan).” (Bacalah kisah menarik yang menjadi sebab turunnya ayat 4 dan seterusnya di surah 24. al- Nur antara lain di kitab Nurul Yaqin oleh Syeikh Muhammad Khudhari Bek).

Menyimak kata-kata sayyidatina ‘Aisyah di hadapan tokoh-tokoh agung – Rasulullah SAW dan shahabat Abu Bakar Shiddiq sekalian-itu mungkin orang tidak mengira bahwa ketika itu usianya baru belasan tahun. Sayyidatina
Aisyah sepertinya memang disiapkan Allah menjadi contoh perempuan pendekar. Apabila Rasulullah SAW diasuh dan dididik langsung oleh Allah, maka sayyidatina Aisyah diasuh dan dididik langsung oleh Rasulullah SAW.

Maka, tidak heran bila dalam sejarah Islam, sayyidatina Aisyah yang lahir 8 tahun sebelum hijrah dan wafat tahun 58 H, dikenal sebagai perempuan paling alim. Menguasai ilmu-ilmu agama dan kesusastraan, bahkan ketabiban. Guru
dari banyak tokoh-tokoh ulama dan mufti yang menjawab masalah-masalah keagamaan dan kehidupan yang diajukan. Ia dianggap perempuan yang paling mengetahui tentang al-Quran dan Sunnah Rasul SAW; di samping penyebar
ilmu-ilmu agama terkemuka.

Sayyidatina Aisyah pun boleh dikata menjadi-atau tepatnya mungkin: dijadikan Allah-simbol penolakan terhadap stigma bahwa perempuan adalah kaum lemah, konco wingking yang hanya swarga nunut neraka katut. Ia merupakan bantahan telak terhadap opini bahwa yang hebat hanya laki-laki. Tanpa menuntut kesetaraan dengan kaum laki-laki, sayyidatina Aisyah telah menunjukkan kesataraan.

Di negeri kita sendiri, (dulu) banyak Muslimah yang mengikuti jejak sayyidatina Aisyah. Tanpa menggembar-gemborkan kesetaraan gender, mereka berbuat dan berkhidmah setara dengan kaum laki-laki. Sekedar contoh, Ibu Nyai Nur Chodijah yang merintis pondok pesantren puteri di Denanyar Jombang dan Ibu Rahmah Al-Yunusiyah di Sumatra Barat. Ibu Nyai Fatimah, Nyai Mahmudah Mawardi, Nyai Khairiyah Hasyim, dan Nyai Nuri Maksum yang mengajar santri-santri laiknya kyai-kyai. Nyai Sholichah Munawwarah aktivis sosial
yang tidak kalah gigih dari aktivis laki-laki.

Raden Ajeng Kartini, yang pernah ngaji dan berguru kepada Mbah Kyai Saleh Darat dan diperingati hari lahirnya tanggal 21 April, saya kira juga tidak hanya menuntut kesetaraan. Tapi, mengajak kaumnya untuk mensetarakan diri
dengan ilmu pengetahuan dan pencerdasan.

  • Penulis adalah pemimpin Pondok Pesantren Roudhotut Thalibin, Rembang.

85 tahun tanpa khilafah March 3, 2009

Posted by panji prabowo in Ceritaku.
Tags: , ,
1 comment so far

Hari ini, 1 maret 2009, tepat 85 tahun setelah kekhalifanan Islam di turki runtuh.

Aku mencoba membayangkan jika kekhalifan Islam tidak runtuh, begitu banyak senyuman dalam khayalku itu.

Tapi aku tahu, kita tidak hidup dalam bayang-bayang, kita tidak hidup dalam khayalan, karena itu simpan bayangan indah itu dan rasa ‘marah’ itu dan hadapi realita.

Jadikan energi untuk tetap bergerak dalam dakwah hingga suatu saat daulah Islamiyah kembali tegak..Allahukabar!!!

_panjiyangsedangdalamdilema_

Intifadah dan sejarahnya.. . December 4, 2007

Posted by panji prabowo in Dari media, Tulisan Lepas.
Tags: , ,
2 comments

dari milist aska_06

oleh:

nuraeni_yusfi@yahoo.com

INTIFADAH: “pemberontakan” (bhs Arab), adalah nama untuk perjuangan yang dilakukan oleh sekelompok orang Palestina, yang bersenjatakan batu-batu, melawan salah satu musuh terbesar dunia, yaitu orang yang menjawab lemparan batu itu dengan peluru, roket, dan rudal.

Intifadah pertama memasuki panggung politik pada 1987, dimulai dengan pemuda Palestina yang membalas pembunuhan enam anak-anak Palestina oleh tentara-tentara Israel .

1993, Intifadah menghadapi tanggapan yang sangat keras dari Israel, berdasar prinsip bahwa “kekerasan melahirkan kekerasan,” Timur Tengah kembali terjatuh ke dalam kekacauan. Sepanjang masa ini, perhatian dunia tertuju pada kasus anak-anak yang tempurung kepalanya pecah dan tangan-tangan mereka dipatahkan oleh para tentara Israel .

Orang-orang Palestina, dari yang paling muda hingga yang paling tua, menentang kekerasan militer Israel dan penindasan dengan sambitan batu apa pun yang dapat mereka temukan. Sebagai balasannya, tentara Israel secara besar-besaran memberondongkan senjatanya: menyiksa, mematahkan tangan, dan menembaki lambung dan kepala orang-orang dengan tembakan senapan.

Pada tahun 1989, sebanyak 13.000 anak-anak Palestina ditahan di penjara-penjara Israel .

Apa pun alasannya, memilih cara kekerasan tidak pernah memecahkan persoalan. Dan kembali, kenyataan penting harus dicamkan ketika merenungkan tanah tempat Intifadah terjadi. Pertama-tama, karena diperkuat oleh keputusan PBB, tentara Israel menggunakan kekuatan yang, sejalan dengan hukum internasional, seharusnya dijauhi. Meskipun sudah diperkuat aturan, jika Israel menuntut agar keberadaannya di tanah ini diterima, cara menunjukkannya tentu bukan dengan membunuh orang-orang tak berdosa. Karena semua orang yang waras pastilah sepakat, jika salah bagi orang-orang Palestina memilih kekerasan, maka pastilah juga salah bagi tentara-tentara Israel membunuh mereka. Setiap negara memiliki hak membela diri dan melindungi dirinya, namun apa yang telah terjadi di Palestina jauh dari sekedar membela diri.

Kesepakatan Oslo tahun 1993, Israel dan PLO duduk bersama di meja perundingan. Pada pertemuan ini, Israel mengakui Yasser Arafat untuk pertama kalinya sebagai perwakilan resmi rakyat Palestina.

Setelah Intifadah pertama mencapai puncaknya dalam kesepakatan damai, rakyat menunggu dengan sabar perdamaian dan keamanan kembali ke wilayah Palestina. Penantian ini berlanjut hingga Sepetember 2000, ketika Ariel Sharon, yang dikenal sebagai “Penjagal dari Libanon,” melakukan kunjungan yang menghebohkan ke Mesjid al-Aqsa bersama puluhan polisi Israel. Kejadian ini memicu bangkitnya Intifadah al-Aqsa.

Sejak awal September 2000 hingga Desember 2001, sebanyak 936 orang Palestina tewas (angka-angka ini bersumber dari Organisasi Kesehatan Palestina). Sepanjang pertikaian, satuan-satuan tentara Israel menjadikan banyak warga sipil, termasuk anak-anak yang pulang sekolah sasaran pengeboman dengan helikopter.

Di Palestina, di mana 70% penduduk terdiri atas kalangan muda, bahkan anak-anak pun telah mengalami perpindahan, pengusiran, penahanan, pemenjaraan, dan pembantaian semenjak pendudukan tahun 1948. Mereka diperlakukan seperti warga kelas dua di tanahnya sendiri. Mereka telah belajar bertahan hidup dalam keadaan yang paling sulit. Renungkanlah fakta-fakta berikut ini: 29% dari orang yang terbunuh selama Intifadah al-Aqsa berusia di bawah 16 tahun; 60% dari yang terluka berusia di bawah 18; dan di wilayah tempat bentrokan paling sering terjadi, paling tidak lima anak terbunuh tiap hari, dan setidaknya 10 orang terluka.

Dalam The Palestine Chronicle, wartawan-penulis Ruth Anderson menggambarkan beberapa kejadian tak berperikemanusiaan dalam Intifadah al-Aqsa: Tak ada yang menyebutkan seorang lelaki muda yang baru menikah yang pergi berdemonstrasi hanya untuk menjadi martir, meninggalkan pengantin wanitanya menjadi janda. Tak ada yang menyebutkan pemuda Palestina yang kepalanya diremukkan oleh orang Israel dan tangannya dipatahkan sebelum ia secara brutal dijagal. Tak ada yang menyebutkan seorang anak kecil berusia 8 tahun yang tertembak mati oleh tentara Israel . Tak ada yang mengatakan bagaimana para pemukim Yahudi, yang dilengkapi dengan berbagai jenis senjata dan disokong oleh pemerintah Barak, menyerang desa-desa Palestina dan mencabuti pohon-pohon zaitun dan membunuh orang-orang sipil Palestina. Tak ada yang menyebutkan bayi-bayi Palestina yang meninggal ketika rumah mereka dibom dengan serangan udara atau orang yang dihujani oleh peluru Israel ketika dipindahkan ke tempat aman. Setiap orang tahu bahwa bayi-bayi tidak bisa melempar batu. Setiap orang tahu kecuali orang-orang Israel dan Amerika.

Apakah Penghancuran Mesjid al-Aqsa Merupakan Tujuan Sebenarnya?

Untuk memahami pentingnya Mesjid Aqsa dan Yerusalem dan sekitarnya bagi orang-orang Israel , penting artinya meninjau wilayah ini dari kaca mata Zionis. Kepercayaan Yahudi yang telah dipolitisir secara radikal menilai bahwa masa yang dimulai dengan Zionisme akan berlanjut hingga datangnya al-Masih.

Namun, untuk mencapai tujuan ini, orang Yahudi radikal percaya bahwa tiga kejadian penting harus terjadi. Pertama, sebuah negara Israel merdeka harus didirikan di Tanah Suci dan penduduk Yahudinya harus meningkat. Pindahnya orang Yahudi ke Tanah Suci secara terencana telah diwujudkan oleh para pemimpin Zionis semenjak awal abad kedua puluh. Di samping itu, Israel menjadi sebuah bangsa dengan negara merdeka di tahun 1948. Kedua, Yerusalem dicaplok pada tahun 1967 dalam Perang Enam Hari, dan pada 1980, diumumkan sebagai “ibu kota abadi” Israel . Yang ketiga, dan satu-satunya syarat yang masih harus dipenuhi, adalah pembangunan kembali Kuil Sulaiman, yang dimusnahkan 19 abad yang lalu. Yang masih tersisa darinya adalah Tembok Ratapan. Akan tetapi, hari ini ada dua tempat ibadah Islam di atas tempat ini: Mesjid Aqsa dan Qubbah as-Sakhrah. Agar orang Yahudi dapat membangun kembali kuil tersebut, kedua tempat ibadah ini harus dihancurkan.

Halangan terbesar melakukannya adalah umat Islam dunia, khususnya Palestina. Sepanjang mereka masih ada, orang-orang Israel tidak dapat menghancurkan kedua tempat ini. Oleh karena itu alasan sebenarnya bentrokan yang akhir-akhir ini menjadikan jalanan berdarah lagi bisa ditemukan dalam impian Zionis ini. Seperti telah kita tekankan sebelumnya, bagaimanapun Yerusalem sama pentingnya untuk Muslimin maupun umat Kristiani. Karena alasan ini, kota ini, yang suci bagi Yahudi, Kristen, maupun Islam, tidak dapat sepenuhnya diberikan ke tangan Zionis.

Satu-satunya pemecahan masalah yang kelihatannya sudah macet ini adalah menemukan suatu cara agar warga Yahudi, Kristen, maupun Islam dapat hidup bersama dalam damai dan aman. Sepanjang sejarah, hanya pemerintahan Islami yang berhasil melakukannya, sehingga hanya orang Islam yang akan mampu melakukannya di masa depan. Israel , dengan sikapnya yang menghina orang Islam maupun Kristen, hanya bisa membawa teror dan ketidaktertiban pada Yerusalem dan sekitarnya.

Demikian pula, semua perundingan antara pejabat Israel dan Palestina tidak berhasil dilakukan dalam persoalan Yerusalem. Semenjak Israel didirikan di tahun 1948, berbagai pemecahan telah diusulkan untuk Yerusalem: Menyatakan kota Yerusalem yang netral dan bebas, kedaulatan bersama Israel dan Yordania, sebuah pemerintahan yang terdiri atas perwakilan semua agama, memberikan hak tanah pada warga Palestina dan udara serta hasil bumi untuk Israel, dan banyak usulan serupa itu. Namun , Israel menolak semuanya dan akhirnya merebut Yerusalem dengan kekuatan dan mengumumkannya sebagai “ibu kota abadi” Israel . Sepanjang Israel menolak menghapus kebijakan kekerasannya yang telah berkepanjangan, menarik dirinya dari Daerah Pendudukan, atau berunding dengan rakyat Palestina, kedudukan Yerusalem di masa depan dan semua masalah terkait lainnya tidak dapat dipecahkan.