10 Bakal Calon Rektor ITB 2010-2014 September 12, 2009
Posted by panji prabowo in Dari media, InHarmoniaProgressio.Tags: Kepemimpinan
add a comment
PRESS RELEASE
Majelis Wali Amanat ITB memutuskan 10 Bakal Calon Rektor ITB 2010-2014
Bandung, 12 September 2009.
Majelis Wali Amanat (MWA) ITB melalui sidang pleno yang diadakan pada tanggal 12 September 2009 Jam 09.00-11.00 telah memutuskan 10 nama Bakal Calon Rektor ITB 2010-2014 dari 22 Nomine. Sidang pleno dipimpin oleh Ketua MWA Yani Panigoro dan dihadiri anggota MWA yang terdiri dari wakil masyarakat, wakil mahasiswa, wakil pegawai, wakil Senat Akademik, wakil dari Gubernur Jawa Barat, dan Rektor ITB.
Kesepuluh Bakal Calon tersebut adalah :
1. Adang Surahman, Prof.Dr.Ir. M.Sc
2. Akhmaloka, Dr.
3. Deny J.Puradimaja, Prof.Dr.Ir. DEA
4. Ichsan Setya Putra, Dr.Ir.
5. Intan Ahmad, Dr.
6. Indra Djati Sidi, Ph.D .
7. Irwandy Arif, Prof.Dr.DEA, MSc
8. Isnuwardianto, Dr. Ir.
9. Rizal Z. Tamin, Prof.Dr.Ir.
10. Suhono H Supangkat, Prof.Dr.Ir. M.Eng, CGEIT
“Sidang pleno MWA berlangsung dengan sangat terbuka dimana para anggota MWA sangat proaktif dalam menyampaikan pendapatnya”, menurut Yani Panigoro.
Sebelum masuk ke Sidang Pleno MWA, 22 Nomine mengikuti proses diskusi panel yang dilaksanakan pada tanggal 8-10 September 2009. Panelis terdiri dari Prof. Hariadi P. Soepangkat (tokoh Senior ITB-mantan Rektor ITB 1980-1988), Prof. Hariono A. Tjokronegoro dan Prof. Enri Damanhuri (wakil Majelis Guru Besar ITB), Prof. Tommy Firman dan Prof. Alibasyah Siregar (wakil Senat Akademik ITB), Betti S. Alisjahbana dan HS. Dillon, PhD (wakil Majelis Wali Amanat ITB). Faktor-faktor yang di lihat dalam panel diskusi meliputi integritas, komitmen, kepemimpinan yang arif (termasuk keberpihakan), jiwa kewirausahaan (termasuk kreativitas dan inovasi), wawasan, kemampuan managerial, dan pengalaman memimpin lembaga pendidikan dan penelitian. Betti Alisjahbana, ketua panel diskusi, mengatakan bahwa proses berlangsung sangat kondusif. Banyak Nomine muda yang sangat luar biasa dan berpotensi menjadi pemimpin ITB masa depan.
Kesepuluh Bakal Calon Rektor tersebut akan mengikuti proses pemilihan rektor selanjutnya yang terdiri dari :
| Proses di Senat Akademik (SA) | 10–30 Oktober 2009 |
| Interaksi masyarakat dengan Bakal Calon | 10 Oktober 2009 |
| Interaksi SA dengan Bakal Calon | 17 Oktober 2009 |
| Proses Seleksi di MWA | 20 Nov–5 Des 2009 |
Info lebih lanjut :
Dapat dilihat di dokumen terlampir, situs: http://rektorkita. itb.ac.id, dan contact person Dr. Benno Rahardyan di 022–2510500 dan email panitia@rektorkita. itb.ac.id
Mengubah dengan kekuatan teladan April 29, 2009
Posted by panji prabowo in Tulisan Lepas.Tags: Kepemimpinan, [Islam]
1 comment so far
Rasulullah SAW gemilang menyeru ummat ke jalan-Nya, mengubah karakter ummat dari zaman kegelapan menuju jalan penuh cahaya yang ditempuh hampir 23 tahun. Salah satu pilar strategi keberhasilannya adalah karena Rasul memiliki kekuatan suri tauladan yang sungguh luar biasa. Yakinlah bahwa cara paling gampang mengubah orang lain sesuai keinginan kita adalah dengan cara menjadikan diri kita sebagai media atau contoh yang layak ditiru.
Karenanya, jangan bercita-cita memiliki anak yang santun, lembut, kalau kesantunan dan kelembutan itu tidak ada dalam diri orang tuanya. Jangan bercita-cita punya anak yang tahu etika, kalau cara mendidik yang dilakukan orang tuanya tidak menggunakan etika. Sangat mustahil akan terwujud ketika para pimpinan ingin anggotanya berdisiplin, padahal disiplin itu bukan bagian dari diri pimpinannya. Contoh sederhana, mengapa P4 gagal menjadi pedoman hidup yang jadi acuan bangsa Indonesia ? Karena tidak ada contoh tauladannya. Siapa sekarang pemimpin bangsa ini yang paling Pancasilais ? Susah mencarinya. Seumpama mata air di pegunungan yang sudah keruh tercemar. Kalau dari sumbernya sudah keruh, walau yang di bawah di bening-beningkan juga tidak akan bisa. Di hilir menjadi keruh karena di hulunya juga keruh.
Orang tua ingin anak-anaknya tidak merokok padahal ternyata orang tuanya perokok berat, bagaimana mungkin ? Para guru ingin murid-muridnya tidak mengganja, padahal ganja itu awalnya dari rokok, dan ternyata para guru merokok di depan murid-muridnya. Jangan-jangan kita yang menjerumuskan mereka ?
Di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta ada sebuah contoh menarik tentang mengapa anak-anak menjadi seorang perokok atau pengganja. Di salah satu dindingnya tergantung sebuah potret seorang ibu yang sedang menimang-nimang bayinya, dan ternyata si ibu ini melakukannya sambil merokok. Tidak bisa tidak. Perilaku si Ibu ini merupakan contoh bagi si bayi yang ada dipangkuannya.
Sang Juara February 23, 2009
Posted by panji prabowo in Dari media.Tags: Kepemimpinan, Renungan
add a comment
Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu. Sebab saat itu adalah babak final mereka. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan rnereka mernamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya.
Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa. namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya. rnobil Mark lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.
Yah, memang. mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya. tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua. sebab.mobil itu buatan tangannya sendiri.
Tibalah saat yang dinantikan Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap A mobil, dengan 4 “pembalap” kecilnya.Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.
Namun. sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. la tarnpak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam. dengan tangan yang bertangkup memanjatkan doa. Lalu. semenit kemudian, ia berkata, “Ya, aku siap!”
Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat. mereka mulai mendorong rnobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersernangat, rnenjagokan mobilnya masing-masing. “Ayo..ayo… cepat. .cepat, maju..maju”. begitu teriak mereka. Ahha…sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Mark lah pemenangnya. Ya, semuanya senang. begitu juga Mark, la berucap, dan berkomat-kamit lagi dalarn hati. “Terima kasih.”
Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. “Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?”. Mark terdiam. “Bukan, Pak. bukan itu yang aku panjatkan” kata Mark.
la lalu melanjutkan, “Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain.
“Aku. hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah.” Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.
Trisula Kepemimpinan Gamais February 4, 2009
Posted by panji prabowo in Gamais, Tulisan Lepas.Tags: Dakwah, Kepemimpinan, Strategi
1 comment so far

Konsekuensi Gamais ITB sebagai organisasi dakwah adalah harus tetap profesional dalam aktivitasnya dan tetap berpegang teguh pada landasan Islam sebagai asasnya. Dari semenjak berdirinya Gamais di tahun 1987 hingga kini dan akan datang hal itu tidaklah pernah berubah. Tetap melakukan perubahan untuk menunjang profesionalitas tapi tetap berada dalam kebakuan dari sisi asas. Perpaduan antara pembaruan tanpa penyelewengan dan orisinalitas tanpa kelalaian.
Kini Gamais ITB telah menjadi sebuah organisasi besar dan memiliki struktur organisasi yang kompleks, mulai tingkat program studi (LDPS), tingkat Fakultas/Sekolah (LDF/S) sampai tingkatan kampus (Gamais Pusat). Dan juga Gamais memiliki peran dan fungsi yang tidak sedikit dalam ranah dakwah kampus, dari pelayanan dan syiar, sampai sosial politik dan kemasyarakatan. Sehingga kepala Gamais dituntut dapat mensinergikan gerak Gamais Pusat dan Wilayah, menjalankan agenda Gamais pusat itu sendiri, dan memegang fungsi balancing terhadap dinamika kampus, dan juga terkait ketokohan dan representasi LDK. Yang dipaparkan dalam tugas pokok kepala LDK :
- Pemimpin seluruh umat muslim di kampus dan sebagai representatif LDK
- Pemimpin diplomasi, ekspansi jaringan dan politik bagi LDK
- Panglima dakwah untuk semua kader dakwah
- Mengkoordinasikan LDF/S dan LDPS
- Memimpin Badan Pengurus Harian (BPH) Lembaga Dakwah Pusat dan memastikan program kerja lembaga dakwah pusat berjalan
Hal tersebut tidaklah mudah dan bila dipaksakan akan tidak optimal, sehingga membutuhkan perubahan dalam pengorganisasian dan pembagian tugasnya, agar optimal di setiap tingkatan dan fungsiya. Oleh karena itu, Gamais merestrukturisasi fungis kepemimpinannya, yang tadinya hanya dipegang oleh satu orang kepala Gamais, menjadi sebuah konsep tiga kepemimpinan, Trisula Gamais.

Sedangkan untuk fungsi ekspansi jaringan diimplementasikan pada satu sektor khusus yaitu sektor eksternal dan jaringan.
Pemimpin adalah nahkoda February 2, 2009
Posted by panji prabowo in Dari media, Tulisan Lepas.Tags: Kepemimpinan
1 comment so far
Seorang pemimpin adalah pribadi yang sangat menentukan bagi suatu umat atau bangsa. Menentukan karena dengannya sebuah Negara bisa maju atau mundur. Bila seorang pemimpin tampil lebih memihak kepada kepentingan dirinya, tidak bisa tidak rakyat pasti terlantar. Sebaliknya bila seorang pemimpin lebih berpihak kepada rakyatnya, maka keadilan pasti ia tegakkan.
Keadilan adalah titik keseimbangan yang menentukan tegak tidaknya alam semesta ini. Allah swt menegakkan langit dengan keseimbangan. Pun juga segala yang ada di bumi Allah swt berikan dengan penuh keseimbangan. Padanan keseimbangan adalah keadilan, lawan katanya adalah kedzaliman.
Setiap kedzaliman pasti merusak. Bila manusia berbuat dzalim maka pasti ia akan merusak diri dan lingkungannya. Bayangkan bila yang berbuat dzalim adalah seorang pemimpin. Pasti yang akan hancur adalah bangsa secara keseluruhan.
Di dalam Al Qur’an Allah swt telah menceritakan hancurnya umat-umat terdahulu adalah kerena kedzaliman pemimpinnya. Karena itu bila kita berusaha untuk memecahkan persoalan bangsa maka tidak ada jalan kecuali yang pertama kali kita perbaiki adalah pemimpinnya.
Pemimpin yang korup dan dzalim bukan saja akan membawa malapetaka terhadap rakyatnya tepai lebih jauh –dan ini yang sangat kita takuti – Allah swt akan mencabut keberkahan yang diberikan. Sungguh sangat sengsara sebuah kaum yang kehilangan keberkahan. Sebab dengan hilangnya keberkahan tidak saja fisik yang sengsara melainkan lebih dari itu, ruhani juga ikut meronta-ronta.
Pemimpin Adalah Nahkoda
Benar, perumpamaan yang mengatakan bahwa pemimpin adalah nahkoda bagi sebuah kapal. Sebab Negara ibarat kapal yang didalamnya banyak penumpangnya. Para penumpang seringkali tidak tahu apa-apa. Maka selamat tidaknya sebuah kapal tergantung nahkodanya. Bila nahkodanya berusaha untuk menabrakkan kapal ke sebuah karang, tentu bisa dipastikan bahwa kapal itu akan tenggelam dan semua penumpang akan sengsara.
Ibarat kepala bagi sebuah badan, pemipin adalah otak yang mengatur semua gerakan anggotanya. Karena itu pemimpin harus cerdas, lebih dari itu harus jujur dan adil. Tidak cukup seorang pemimpin hanya bermodal kecerdasan, sebab seringkali para pemimpin yang korup menggunakan kecerdasannya untuk menipu rakyat. Karena itu ia harus jujur dan adil. Itulah rahasia firman Allah : “I’diluu huwa aqrabu lit taqwaa. Berbuat adillah, karena berbuat adil itu lebih dekat kepada taqwa”. QS. Al Ma’idah: 8.
Perhatikan ayat ini menunjukkan bahwa keadilan adalah jalan menuju ketaqwaan. Mengapa? Sebab tidak mungkin seorang pemimpin yang dzalim bertaqwa. Bila jiwa taqwa hilang dari diri seorang pemimpin, ia pasti akan berani kepada Allah swt. Bila seorang pemimpin berani kepada Allah swt, maka kepada manusia ia akan lebih berani.
Karena itu bekal utama seorang pemimpin harus benar-benar menegakkan taqwa dalam dirinya.
Karena itu pesan utama Al Qur’an adalah membangun pribadi taqwa. Sebab dengan taqwa seorang pemimpin akan bersungguh-sungguh ikut tuntunan Allah swt. Bila ia bersungguh-sungguh ikut tuntunan Allah swt maka segala langkahnya akan berkah dan otomatis Negara yang dipimpinya pun akan berkah.
Itulah rahasi mengapa dalam memilih seorang pemimpin, hendaklah sebuah bangsa jangan asal-asalan. Melainkan harus benar-benar selektif. Jangan asal disogok lalu berani mengorbankan kebenarn. Ingat bahwa Allah swt tidak hanya mengancam orang-orang yang berbuat dzalim, melainkan juga mengancam orang-orang yang mendukung kedzaliman tersebut. Allah berfirman:
“Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. QS. Al Mukmin : 45-46.
Pemimpin Adalah Cermin Rakyat
Rakyat yang cerdas tidak mungkin memilih pemimpin yang bodoh. Rakyat yang bersih tidak mungkin memilih pemimpin yang korup. Tetapi sebaliknya bila rakyatnya korup maka pasti yang akan dipilih adalah pemimpin yang korup. Karena itu terpilihnya Fir’un sebagi raja, adalah karena rakyatnya bodoh dan bejat. Sebab siapakah sebenarnya seorang pemimpin, jika ia tidak mendapatkan dukungan? Ia sebenarnya tidak berdaya apa-apa. Jika semua rakyatnya bersatu untuk menyerangnya ia pasti tidak bisa bertahan. Karenanya pemimpin yang korup akan selalu menciptakan lingkungan agar rakyat tetap bodoh. Sebab dengan kebodohannya ia akan lebih lama berkuasa, dan lebih nyaman menikmaati kedzalimannya.
Ustadz Sayed Qutb ketika menafsirkan ayat tentang Fir’un dalam surat An Naziat menjelaskan bahwa sebenarnya Fir’un tidak mempunyai kekuatan sejumlah rakyatnya. Maka jika rakyatnya cerdas, mereka tidak mungkin mengizinkan Fir’un terus berkuasa. Mereka pasti akan segera memberontak atas kedzalimannya. Namun karena mereka bodoh, maka Fir’un merasa semakin tinggi. Puncaknya Fir’un menjadi lupa daratan sehingga ia mendeklarasikan dirinya sebagai tuhan. Dia berkata seperti yang Allah swt rekam dalam surat An nazi’at: ”ana rabbukumul a’laa”. Saya tuhan kalian yang tinggi.
Perhatikan betapa seorang pemimpin adalah cerminan rakyat itu sendiri. Jadi sekarang tergantung kita sebagai rakyat, mau memilih pemimpin yang korup atau yang jujur dan adil.
Ingat bahwa setiap suara yang kita berikan itu adalah amanah. Bila kita salah menyerahkan amanah, yang sengsara kita juga. Sebaliknya bila kita bersungguh-sungguh untuk menyerahan amanah itu kepada yang ahlinya, maka kitalah yang akan menikmatinya. Bukan saja kesejahteraan di dunia yang kita dapatkan melainkan lebih dari itu, kita akan mendapatkan pahala yang melimpah karena kita telah mendukung kebaikan.
Dari sini nampak bahwa suara rakyat adalah sangat menentukan terhadap lahirnya seorang pemimpin. Oleh sebab itu, kita sebagi rakyat hendaknya bersungguh-sungguh untuk menjadi rakyat yang baik, sebab jika tidak, kita sendiri yang rugi dan sengsara. Rasulullah saw. Bersabda: ”Bahwa seorang mu’min tidak pantas terjatuh ke lubang yang sama dua kali”. Maka cukuplah masa lalu kita jadikan pelajaran. Sekarang sudah saatnya kita memilih pemimpin yang benar-benar membawa risalah Allah. Sebab hanya dengan menegakkan ajaran Allah swt keberkahan akan turun. Allah berfirman:
”Seandainya penduduk sebuah negeri beriman dan bertaqwa, niscaya akan Kami turunkan keberkahan dari langit dan bumi”. QS. Al A’raf : 96.
Berdasarkan hal di atas, jelas bahwa keberkahan yang akan kita raih tergantung perjuangan kita untuk menegakkan ajaran Allah. Dan untuk itu sungguh sebuah keniscayaan kita memilih seorang pemimpin yang benar-benar membawa keberkahan. Itulah pemimpin yang bersih dan senantiasa mengedepankan risalah Allah swt sebagai panduannya.
Sejarah telah membuktikan bahwa kisah-kisah pemimpin berhasil seperti yang Allah swt ceritakan dalam Al Qur’an, misalnya: Nabi Daud as, Nabi Sulaiman as, dan Dzul Qarnain, itu adalah karena kesungguhan mereka menegakkan ajaran Allah dalam kepemimpinannya. Begitu juga kepemimpinan Rasulullah saw, yang dilanjutkan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Abdul Aziz. Mereka dalah contoh-contoh yang tidak bisa kita nafikan sebagai puncak pemimpin yang paling berhasil dan sukses.
Dan bila kita teliti kunci utama keberhasailan mereka adalah karena mereka memimpin dengan ketaqwaan. Sebab bila seorang pemimpin bertaqwa ia pasti jujur dan amanah. Bila seorang pemimpin jujur dan amanah ia pasti akan memberikan yang terbaik kepada rakyat yang dipimpinnya.
Sebaliknya bila seorang pemimpin tidak bertaqwa, ia pasti akan selalu membawa bencana dengan kedzaliman yang ia bangga-banggakan. Kedzaliman adalah sumber kesengsaraan. Karena itu Allah swt menyebutkan bahwa orang yang paling dzalim adalah orang yanga setelah mendapatkan tuntunan dari Allah malah ia berpaling darinya. Mengapa dikatakan dzalim, karena dengan kedzalimannya tidak saja ia menjadikan dirinya sebagai bahan neraka, melain juga dengan kedzalimannya ia membawa acaman bagi orang lain yang dipimpinnya. Wallahu A’lam bish Shawab.
=========
Oleh: DR. Amir Faishol Fath

