jump to navigation

Jejaring Internasional dan Maksimasi Manfaat Google Translate October 8, 2009

Posted by panji prabowo in Gamais, Tulisan Lepas.
Tags: , ,
add a comment

Jaringan internasional GAMAIS ITB sudah berkembang dengan sangat baik. Selama tahun 2009 ini terhitung 3-4 kali GAMAIS ITB kedapatan kunjungan dari berbagai kampus dan mahasiswa dari beragam Negara. Kunjungan dari NGO (Non Government Organization) keislaman dari Malaysia, kunjungan dari mahasiswa dan dosen dari Negara timur tengah, kunjungan dari mahasiswa eropa yang sedang meneliti tentang pergerakan islam di kampus, kunjungan dari dosen universitas dari Malaysia, beberapa kali korespondensi dengan mahasiswa dari universitas di Singapura. Bahkan tanggal 10 Oktober 2009 besok, GAMAIS ITB mengadakan TAN (Ta’lim Antar Negara) secara live (video conference) dengan NTU di SIngapura, YIMSA (lembaga keislman) di Australia, Nagoya University di Jepang.

Sebagai efek dari meluasnya jaringan GAMAIS ITB dan juga menyikapi visi ITB, serta peran aktif menghadapi globalisasi, merupakan kewajiban bagi setiap kader GAMAIS ITB untuk senantiasa membangun jaringan dengan beragam pihak, meningkatkan kapasitas intelektual dan khasanah pengetahuan akan isu-isu keislaman nasional dan internasional.

Dunia maya (internet) memegang peran yang sangat penting dalam hal tersebut. Internet adalah jawaban dari keterbatasan kita akan jarak dan biaya dalam membangun dan mengelola jaringan. Internet juga menjadi tempat yang dituju ketika orang-orang memiliki pertanyaan-pertanyaan tentang segala sesuatu. Misalnya saja Islam. Tentunya kita tahu betapa menyesatkannya beberapa konten-konten tentang Islam di dunia maya tersebut. Islam terorislah, Islam inilah, Islam itulah. Mengapa seperti itu? Karena yang mengisi konten-konten Islam di dunia maya tersebut adalah orang yang ingin menjatuhkan Islam. Karena itu kita perlu mengambil peran di dunia maya dan mengembalikan citra baik Islam. Jadi secara singkat dapat dikatakan ada dua fungsi internet yang bias kita manfaatkan, pertama adalah membangun jaringan dan kedua adalah pencitraan Islam.

Dalam konteks internasional membangun jaringan dan pencitraan islam pun harus dilakukan ala internasional. Perihal media saya sudah tidak khawatir, karena semakin kesini semakin banyak kader yang telah mempunyai personal website ataupu weblog ataupun sekedar akun OSN (Online Social Networking), namun perihal bahasa masih ada beberapa pertanyaan. Agar buah pikiran dan tulisan keislaman kita bisa dipahami secara luas, maka kita harus menggunakan bahasa internasional pula. Lalu kendala bahasa pun menakuti kita.

Ternyata ada cara mudah untuk mengatasi itu. Hanya dengan menggunakan salah satu aplikasi google, yaitu google translate (http://translate.google.com/), kita bisa merubah personal web ataupun tulisan-tulisan kita dengan cepat ke dalam bahasa yang kita inginkan, walaupun terjemahannya tidak akurat sekali, jad harus disesuaikan kembali.(pp)

***

Sampel lihat di sidebar http://pastipanji.wordpress.com , read [pastipanji] in

Miskin atau Zuhud? June 25, 2009

Posted by panji prabowo in Tulisan Lepas.
Tags: ,
add a comment

Miskin atau Zuhud?

Edisi Liburan

Dalam sebuah diskusi, saya pernah berpendapat bahwa kalimat-kalimat seperti, “biar miskin asal bahagia” atau “uang bukanlah segalanya” dan sebagainya, adalah kalimat-kalimat yang diciptakan oleh orang-orang kaya, agar orang miskin tidak terlalu bersusah hati dan tidak terlalu iri terhadap mereka. Pendapat bercanda tentu saja. Namun ternyata kalimat-kalimat tersebut telah meresap betul ke dalam alam bawah sadar kebanyakan orang dan diakui kebenarannya oleh kebanyakan orang pula. Bukan maksud saya menentang kebenaran kalimat tersebut. Memang benar uang bukanlah segalanya, tetapi tak dapat dipungkiri uang memang dibutuhkan. Memang benar bisa saja menjadi miskin tetap bahagia tetapi bukannya lebih baik menjadi kaya dan bahagia. Frame berpikir bahwa menjadi miskin atau tidak beruang-memiliki uang maksudnya- adalah baik-baik saja, itulah yang saya tentang.

Melihat faktanya, kondisi ‘miskin tetap bahagia’ bak mendapat angin segar persetujuan dari para asatidz pada ceramah-ceramah yang konteksnya kesabaran. Bersabar dalam kesusahan, bersabar dalam kemiskinan, atau apapun itu, diartikan tetap berada dalam kesusahan kemudian sabar, atau semakin miskin atas nama kesabaran. Bahkan sampai ada kampanye untuk perang terhadap materialisme atau materialistik, dengan alasan Islam mengajarkan untuk zuhud. Padahal bukan itu poinnya melainkan sabar ketika susah atau miskin datang kemudian berjuang bahkan berperang untuk meninggalkannya.

Adapun tentang zuhud Imam Ghazali mengatakan orang zuhud itu adalah orang yang ‘punya dunia’ lalu meninggalkannya dengan sadar. Sedang orang miskin itu adalah orang yang ‘ditinggal dunia’. Jadi kalau kita bermiskin-miskin ria dengan alasan zuhud, itu salah. Atau jika ada mahasiswa islam ketika akhir bulan rajin puasa senin-kamis lantaran kiriman orang tua sudah habis, itu bukan zuhud, melainkan usahanya untuk memaksimalkan kondisi keterbatasannya agar tetap mendapatkan pahala. Dari pada ga makan ga dapat pahala, mending puasa dan dapat pahala.(no offense J, hanya curhat T.T)

Jika kita menilik kehidupan Rasulullah saw, kehidupan sederhana beliau bukanlah karena beliau miskin tetapi karena pilihannya untuk zuhud, karena sesungguhnya beliau sangat kaya-raya. Bagaimana tidak? Rasulullah diusia 8 tahun sudah mulai kerja dan mendapatkan gaji. Pekerjaan pertamanya menggembala kambing, diusia 12 tahun beliau sudah pulang pergi luar negeri ikut dalam bisnis keluarga, diusia 20 tahun Rasulullah sudah menjadi pengusaha dengan investornya adalah Khadijah. Ketika usia 25 tahun beliau menikahinya dengan mahar seratus ekor unta, jika dinilai dengan harga rupiah saat ini kira-kira 1 ekor unta seharga 10 juta, artinya beliau memberi mahar 1 Milyar ketika itu, seorang muda 25 tahun punya uang cash 1 Milyar,bagaimana tidak kaya. Perlu diperhatikan itu baru maharnya, tentunya yang disimpan masih lebih banyak. Walaupun Rasulullah SAW setelah menjadi Nabi mengatakan sebaik-baik wanita adalah wanita yang cantik dan mahar yang murah, itu sebagai sistem tapi dalam tradisi jahiliyah itu status.

Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam pernah pula bersabda, “Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas/ lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit”(HR. Ibnu Hibban). Tempat tinggal yang lapang adalah parameter stabilitas dan kendaraan yang nyaman adalah parameter mobilitas. Dua poin indikator kebahagiaan tersebut bisa diperoleh tidak hanya dengan kesabaran dalam kemiskinan dan kesusahan tetapi juga dengan perjuangan untuk mengakhirinya dan menjadi kaya, kemudian bersyukur dan hidup dalam kesederhanaan.

Wallahu’alam bishowab

Aktivis Dakwah Kampu(ng) June 22, 2009

Posted by panji prabowo in Tulisan Lepas.
Tags:
add a comment

Aktivis Dakwah Kampu(ng)*

Edisi Liburan

Libur akhir semester genap, memang selalu menjadi hal yang ditunggu oleh mahasiswa indonesia pada umumnya. Tiga bulan libur merupakan waktu yang tepat ‘tuk istirahatkan diri, rekreasikan pikiran dan segarkan kembali raga, setelah berlelah-lelah kuliah. Satu tindakan yang mewakili semua kata-kata menyegarkan itu adalah MUDIK a.k.a. pulang kampung.

Tidak ada yang salah dengan pulang kampung. Malah pulang kampung memiliki nilai lebih bagi para Aktivis Dakwah Kampus (ADK). Bagi kader dakwah pulang kampung lebih dari sekedar istirahat, rekreasi, dan penyegaran namun merupakan kesempatan membuka ladang amal baru. Banyak yang mengatakan liburan dan pulang kampung sebagai momen untuk berdakwah kepada keluarga atau juga bersilahturahim dengan aktivis-aktivis dakwah di daerahnya untuk saling memberi semangat atau juga berdakwah di masjid dekat rumah dengan mangajar ngaji atau juga sekedar memperbaiki diri-menambah hafalan Alquran, dsb-.

Namun fenomena yang banyak terjadi justru sebaliknya, para aktivis dakwah yang getol berdakwah di kampus justru melempep saat berada di kampung. Jangankan berdakwah ke orang banyak atau keluarga, semangat dan kondisi rukhiyah pribadi pun malah cenderung menurun. Jangankan mengajak orang untuk berbuat baik, membawa diri untuk shalat berjamaah di masjid pun berat. Jangankan mengajari orang untuk mengaji, membaca buku untuk memperdalam ilmu saja malas.

Fenomena di atas dapat terjadi pada dasarnya karena luruhnya motivasi atau semangat untuk berdakwah. Semangat berdakwah di kampus timbul karena adanya lingkungan kampus kondusif, sehingga merangsang untuk melakukan aktivitas dakwah, serta adanya aktivis dakwah lain yang sama-sama berjuang, sehingga ketika di kampus seorang ADK tidak merasa sendirian. Tetapi dikampung berbeda ceritanya. Tidak ada orang yang bisa memberi semangat atau bahkan tidak ada yang tahu bahwa kita aktivis dakwah, maka pikiran bahwa ”tugas berdakwah bisa dinafikan dulu” atau ”libur dakwah dulu” bisa muncul. Jadinya luruhlah semangat dakwah itu, bahkan mungkin kefuturan yang menanti. naudzu billahi min dzalik.

Untuk menghindari hal tersebut diatas ada beberapa hal yang bisa dilakukan: pertama, tanamkan benar-benar prinsip Nahnu du’at qobla kulli syai’i (jadilah da’i sebelum sesuatu yang lain) kedalam diri ini ; Kedua, luruskan segala tujuan dakwah, bahwa segala yang kita perbuat hanya untuk Allah ta’ala. Sehingga ada atau tidak adanya orang yang melihat amalan dakwah kita, kita senantiasa akan tetap berdakwah ; ketiga, sesuai dengan sabda Rasulullah saw, Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya yakni nikmat sehat dan waktu senggang” (HR. Bukhari), sehingganya jangan sampai waktu liburan kita begitu kosong tanpa kegiatan yang bermanfaat, jadi buatlah rencana dan targetan selama liburan; keempat, ikatlah komitmen dengan teman atau sahabat kita dalam mencapai targetan liburan.

Wallahu’alam bishowab

*terinspirasi dari curhat seorang kawan lama

Mars Gamais ITB March 31, 2009

Posted by panji prabowo in Gamais, Syair.
Tags: , ,
6 comments

Cipta : Ma’mun Salman Zainudin Teknik Kimia (TK) 1999

Derap berderap melangkah maju kedepan

Tak akan gentar hadapi semua penghalang

Barjuta rintangan yang ada di hadapan

Tak kan hentikkan langkah tuk terus berjuang

Reff :

Walau lelah walau perih tetap kulalui

Darah peluh air mata semua tak berarti

Jalan terjal penuh duri tetap ku arungi

Karena jihad ini kan selalu hidup di hati

Menjaga satu tujuan Allah Yang Esa

Teladani panutan Rasul yang mulia

Jadikan Al-Quran pedoman kita

Satu dijalan jihad fisabilillah

GAMAIS ITB melangkah maju kedepan

Tak pernah gentar hadapi semua penghalang

Meski berjuta rintangan terus menghadang

Takkan henti langkah hingga syahid menjelang

Kembali ke Reff

Menjaga satu tujuan Allah Yang Esa

Teladani panutan Rasulullah yang mulia

Jadikan Al-Quran pedoman hidup kita

Satu dijalan jihad fisabilillah

Allahu akbar…Allah Yang Maha Besar…

Allahu akbar…Allah Yang Maha Besar…

Allahu akbar…Allah Yang Maha Besar…

Bergerak…bergerak ….GAMAIS ITB Bergerak…

__________________

Syukron Jazakumullah khairan Katsiran buat kang ma’mun, lagu ini bikin ane semangat terus..

Adab Interaksi March 26, 2009

Posted by panji prabowo in Tulisan Lepas.
Tags: ,
3 comments

MENGENDALIKAN SYAHWAT

“Jangan kamu dekat-dekat pada perzinaan, karena sesung-guhnya dia itu perbuatan yang kotor dan cara yang sangat tidak baik.” (QS. Al-Isra’:32)

Sahl bin Sa’d berkata: Rasulullah saw bersabda : “Siapa yang menjamin untukku apa yang ada diantara dua janggutnya dan dua kakinya maka aku menjamin untuknya sorga.” (HR. Bukhari)

MENJAGA KEMALUAN

Adab berpakaian dalam Islam :

1. Hendaknya ikhwan menahan seluruh auratnya dan demikian juga dengan akhwat.

“Katakanlah kepada orang-orang mu’min laki-laki: hendaklah mereka itu menundukkan sebahagian pandangan-nya dan menjaga kemaluannya; karena yang demikian itu lebih bersih bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahameneliti terhadap apa-apa yang kamu kerjakan. (An-Nur : 30)

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah Menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda Kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf 7:26)

Tidak boleh menggunakan pakaian yang membentuk dan tipis sehingga menampilkan aurat.

“Sesungguhnya termasuk ahli neraka, yaitu perempuan-perempuan berpakaian tetapi telanjang, yang condong kepada maksiat dan menarik orang lain untuk berbuat maksiat. Mereka ini tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya.” (Riwayat Muslim)

2. Tidak berpakaian dengan maksud sombong

Rasulullah saw. bersabda: Allah tidak melihat dengan pan-dangan rahmat terhadap orang yang menurunkan sarung lebih dari mata kaki karena sombong.” (HR. Bukhari, Muslim)

3. Ikhwan tidak menyerupai akhwat dan demikian sebaliknya

Rasulullah saw. pernah menghitung orang-orang yang dilaknat di dunia ini dan disambut juga oleh Malaikat di antaranya ialah laki-laki yang memang oleh Allah dijadikan betul-betul laki-laki, tetapi dia menjadikan dirinya sebagai perempuan dan menyerupai perempuan, dan yang kedua, ialah perempuan yang memang dicipta oleh Allah sebagai perempuan betul-betul, tetapi kemudian dia menjadikan dirinya sebagai laki-laki dan menyerupai laki-laki (HR. Thabarani)

4. Ikhwan tidak menggunakan perhiasan emas dan sutra

Umar bin Alkhotthob r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Kamu jangan memakai sutra. Maka siapa yang memakainya di dunia, tidak akan memakainya di akherat. (Bukhari, Muslim)

Anas r.a. berkata: Rasulullah saw. telah mengizinkan bagi Azzubair dan Abdurrahman bin Auf memakai sutra karena keduanya menderita sakit gatal-gatal. (Bukhari, Muslim)

Tujuannya adalah untuk pendidikan moral yang tinggi demi menjaga sifat keperwiraan laki-laki dari segala bentuk kelemahan serta untuk memberantas sifat bermewah-mewah.

5. Tidak berpakaian seperti pakaian spesialis yang dipakai oleh orang-orang kafir seperti Yahudi, Kristen dan penyembah-penyembah berhala. Ummat ini baik yang laki-laki ataupun perempuan harus mempunyai ciri-ciri tersendiri baik dalam hal-hal yang nampak maupun tersembunyi.

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia itu dari golongan mereka.” (Riwayat Thabrani)

MENJAGA PANDANGAN

Adab pergaulan dalam Islam :

1. Pergaulan hendaknya diniatkan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah

“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling taqwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat 49:13)

2. Hendaknya ikhwan menahan sebagian pandangannya dan demikian juga dengan akhwat.

Hendaklah menundukkan pandangan dari apa yang diharamkan oleh Allah SWT. Karena pandangan dapat membangkitkan nafsu birahi dan merangsang pelakunya untuk terjerumus ke dalam dosa dan ma’shiat. Oleh karena itu Al-Qur’an memberikan peringatan keras terhadap pandangan liar.

“Katakanlah kepada orang-orang Mu’min : “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; dan demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An Nur [24]:30)

Sabda Rasulullah saw :

“Pandangan itu merupakan salah satu anak panah iblis”

Dua mata itu berzina dan zinanya mata ialah melihat” (HR. Bukhari)

Salah satu keringanan Islam adalah Dia membolehkan melihat yang sifatnya mendadak pada bahagian yang seharusnya tidak boleh.

“Dari Jarir bin Abdullah, ia berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah saw. tentang melihat dengan mendadak. Maka jawab Nabi: Palingkanlah pandanganmu itu!” (HR. Muslim)

“Hai Ali! Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun yang berikutnya tidak boleh.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)

Perempuan melihat laki-laki tidak pada auratnya, hukumnya mubah, selama tidak diikuti dengan syahwat atau tidak dikuatirkan akan menimbulkan fitnah.

Sebagian ulama yang extrimis menganggap, bahwa perempuan sama sekali tidak boleh melihat anggota laki-laki yang manapun. Mereka membawa dalil hadis yang diriwayatkan oleh Nabhan bekas hamba Ummu Salamah, bahwa Rasulullah saw. pernah berkata kepada Ummu Salamah dan Maimunah yang waktu itu Ibnu Ummi Maktum masuk ke rumahnya. Nabi bersabda : pakailah tabir. Kemudian kedua isteri Nabi itu berkata: “Dia (Ibnu Ummi Maktum) itu buta!” Maka jawab Nabi: “Apakah kalau dia buta, kamu juga buta? Bukankah kamu berdua melihatnya?”

Tetapi dari kalangan ahli tahqiq (orang-orang yang ahli dalam penyelidikannya terhadap suatu hadits/pendapat) mengatakan: Hadis ini tidak sah menurut ahli-ahli Hadis, karena Nabhan yang meriwayatkan Hadis ini salah seorang yang omongannya tidak dapat diterima.

Kalau ditakdirkan hadis ini sahih, adalah suatu sikap kerasnya Nabi kepada isteri-isterinya karena kemuliaan mereka, sebagaimana beliau bersikap keras dalam persoalan hijab.

3. Ikhwan tidak memegang akhwat dan demikian sebaliknya

Rasulullah saw. pernah bersabda sbb: “Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi, lebih baik daripada dia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya.” (Riwayat Thabarani, baihaqi dan rawi-rawinya thabarani adalah kepercayaan)

Jauhi saja perempuan/laki-laki yang tidak menjaga adab ini.

4. Ikhwan dan akhwat harus menjaga jarak; sebaiknya sebatas dimana mereka tidak mencium wewangian dari lawan jenisnya

“Siapa saja perempuan yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka perempuan tersebut dianggap berzina; dan tiap-tiap mata ada zinanya.” (Riwayat Nasa’i, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

5. Tidak “berdua-duaan” baik dalam zhahir maupun batin.

Sebaiknya jika hendak melakukan pertemuan yang cukup lama, ikhwan membawa teman ikhwannya dan akhwat pun membawa teman akhwatnya. Teman disini ditujukan agar dapat mengingatkan jika dia bergaul melewati batas.

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah saitan.” (Riwayat Ahmad)

6. Segala bentuk pergaulan jika membangkitkan nafsu syahwat, maka itu adalah haram

MAHRAM

Laki-laki hanya boleh melihat muka dan kedua telapak tangan perempuan yang memang ada rukhsah untuk dinampakkan. Larangan ini dikecuali-kan untuk 12 orang :

1. Suami

2. Ayah, baik dari pihak ayah ataupun ibu

3. Ayah mertua

4. Anak-anak laki-lakinya. Termasuk juga cucu, baik dari anak laki-laki ataupun dari anak perempuan

5. Anak-anaknya suami.

6. Saudara laki-laki, baik sekandung, sebapa atau seibu

7. Keponakan.

8. Sesama perempuan yang seagama baik yang ada kaitannya dengan nasab ataupun orang lain

9. Hamba sahaya

10. Keponakan dari saudara perempuan

11. Orang-orang yang ikut serumah yang tidak ada rasa bersyahwat

12. Anak-anak kecil yang tidak mungkin bersyahwat ketika melihat aurat perempuan

Maraji’

Yusuf Qardhawi, Halal dan Haram dalam Islam