jump to navigation

Erotomania November 1, 2009

Posted by panji prabowo in Dari media, Tulisan Lepas.
Tags:
add a comment

Baru saja saya selesai nonton film perancis berjudul  “A La Folie..Pas Du Tout“, durasi 90 menit. Film itu bercerita tentang seorang wanita yang jatuh cinta dan terobsesi pada seorang pria, dan menyangka pria tersebut juga mencintai wanita tersebut. Padahal pria tersebut bahkan tidak mengenalnya. Si wanita tersebut bahkan sampai meneror dan hampir membunuhnya pria tersebut. In the end of the movie dijelaskan ternyata wanita tersebut sakit jiwa, penyakit yang umum dikenal dengan EROTOMANIA.

Saya tertarik dengan hal tersebut, Jadinya saya googling dan mencari beragam informasi tentang psychological disorder, erotomania ini.

***

Erotomania adalah jenis khayalan di mana orang yang bersangkutan percaya bahwa orang lain jatuh cinta dengannya. Pertama kali ditelaah oleh psikiater asal perancis yang bernama Gaetan Gatian Clerambault, yang menyusun sebuah makalah yang membahas tentang gangguan kepribadian macam ini pada tahun 1921. walau referensi awal yang sejenis dengan gangguan ini telah ada dalam tulisan Hipokrates, Erasistratus, Plutark, dan Galen. Dalam dunia psikiatri sendiri referensi sejenis ini telah ada pertama kali dalam tahun 1623 dalam sebuah risalah berjudul Maladie d’amour ou melancolie erotique yang ditulis oleh Jacques Ferrand, dan juga disebut sebagai “old maid’s psychosis”, “erotic mania” dan “erotic self-referent delusions” sampai kemasa sekarang dimana disebut sebagai bentuk dari Erotomania atau de Clerambault’s Syndrome.

Inti utama dari bentuk sindrom ini adalah si penderita memiliki suatu khayalan atau delusi keyakinan bahwa ada orang lain, yang biasanya memiliki status sosial yang lebih tinggi, secara sembunyi-sembunyi memendam perasaan cinta kepadanya. Para penderita selalu yakin bahwa subjek dari delusi mereka secara rahasia menyatakan cinta mereka dengan isyarat halus seperti bahasa tubuh, pengaturan perabot rumah, atau dengan cara lain yang kemungkinan tidaklah mungkin (jika yang menjadi sasaran adalah seorang public figure maka akan diartikan secara salah oleh penderita, terhadap sesuatu yang tertulis dalam media massa tentang orang tersebut). Sering kali orang yang menjadi objek dalam delusi, hanya memiliki sedikit sekali hubungan atau bahkan tidak berhubungan sama sekali dengan sang penderita. Walau demikian sang penderita tetap percaya bahwa sang objek-lah yang memulai semua hubungan khayal itu. Delusi Erotomania sering ditemukan dalam sebuah gejala awal dari sebuah gangguan delusional atau dalam konteks Skizofrenia.

Terkadang subjek yang berada dalam delusi tidaklah pernah ada dalam dunia nyata, nemun yang lebih sering terjadi, subjek adalah publik figur seperti penyanyi terkenal, aktor, aktris, politikus, selebritis dll. Erotomania juga disebut-sebut sebagai suatu penyebab perilaku Stalking yaitu suatu bentuk perilaku memperhatikan orang lain tanpa sepengetahuan orang yang diperhatikan, lalu perlahan melakukan suatu upaya pendekatan yang bersifat mengganggu, biasanya dengan obsesi bahwa korban adalah orang yang perlu ditolong atau bahkan dimusnahkan. Selain itu Erotomania juga disebut sebagai penyebab dari bentuk suatu tindakan yang mengganggu orang lain.

Percobaan pembunuhan terhadap Mantan Presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan oleh John Hinckley, Jr. dilaporkan telah diakibatkan oleh erotomania yang diderita Hinckley, yang merasa bahwa artis Jodie Foster akan membeberkan kepada publik bahwa ia cinta kepadanya setelah ia membunuh sang presiden. Hinckley sendiri terbebas dari jeratan hukum karena didiagnosa memiliki gangguan jiwa (skizofrenia).

Erotomaniac cenderung yang dimulai dengan hal-hal yang sederhana, seperti ungkapan kasih sayang yang halus kepada sasarannya kemudian sampai hal-hal di luar kendali dan dapat menyebabkan ekspresi kemarahan , frustasi dan kekerasan ketika ditinggal pergi atau diabaikan dan korban terus menegaskan kurangnya minat. Anehnya seorang penderita erotomania tidak bisa sama sekali untuk melihat korban (orang yang dirasa menyukainya) tidak menyukainya.

Penyembuhannya dapat dilakukan dengan cara, menegaskan bahwa orang yang dianggap menyukainya tidak tertarik untuk melanjutkan hubungan dengan yang menderita, lalu dilakukan terapi, alam konteks skizofrenia dan dapat diobati dengan antipsikotik atipikal.

***

Diakhir film tersebut ada kalimat menarik yang diungkapkan penderita Erotomania

Bien que mon a mour soit fou,ma raison calme les trop vives douleurs

de mon coeur en lui disant de patienter, et d’esperer toujours..

Walau cintaku gila, akal sehatku menenangkan rasa sakit dalam hatiku

Dia memberitahuku untuk bersabar dan terus berharap..

Kompromi Budaya October 23, 2009

Posted by panji prabowo in Tulisan Lepas.
Tags: ,
add a comment

KOMPROMI BUDAYA

Dialogi Nasionalisme dan Globalisasi

What’s in a name?

That which we call a rose by other name

would smell as sweet.

(William Shakespeare – Romeo and Juliet)

Dalam dunia nyata tentunya perihal nama tidak sesederhana picisan shakespear itu, karena nama adalah identitas. Identitas bisa menjadi sebuah perwujudan ciri dan karakteristik dari siempunya nama tersebut. Begitu juga dengan budaya, budaya adalah identitas bangsa. Itu berarti budaya merupakan karakteristik atau cerminan sebuah bangsa. Karena itu keterjagaan budaya bangsa adalah simbol sekaligus parameterisasi dari rasa nasionalisme masyarakat bangsa tersebut.

Keterjagaan budaya bangsa inilah yang mulai luntur di negeri kita tercinta ini. Budaya bangsa tak lebih dari penambah nilai pariwisata yang bisa menghasilkan devisa. Lihat saja Angklung dan Reog Ponorogo dianggap tak berharga sosial sama sekali, terkecuali ketika negeri jiran Malaysia mau mengklaim keduanya. Baru masyarakat mulai ribut, itu pun hanya segelintir. Lihat juga kesenian tari tradisional Indonesia, sedikit sekali pemuda-pemudi yang tertarik untuk mempelajarinya. Jangankan mempelajari, menontonnya dalam pagelaran seni pun malas, lebih memilih konser musik RnB atau orkestra. Akhirnya sanggar-sanggar tari yang kumuh pun merasa cukup puas tersingkir dipinggiran kota.

Lihat juga keadaan proyek-proyek memoriabel sejarah dan budaya. Museum. Entah untuk meninggalkan kesan historik dan lampau atau bukan, spasial ruangnya dibiarkan berdebu dan tampak suram. Satu yang pasti keadaan seperti itu sangat membuat orang semakin enggan untuk mengunjunginya. Sehingga pesan sejarah dan budaya juga tinggal menjadi celoteh guru-guru kesenian dan sejarah di SMA.

Tipologi Globalisasi dan Krisis Budaya

Bicara tentang krisis budaya dan nasionalisme takkan pernah lepas dari sebuah kata Globalisasi. Karena terang-terangan globalisasi secara massif menimbulkan kesan budaya lokal menjadi sesuatu yang ketinggalan jaman,menjadi sesuatu yang ‘ga gaul’. Sedang globalisasi menawarkan sebagai hidup bergaya, hidup gengsi, dan sebagainya.

Globalisasi juga menyangkut nilai dan pola hidup kita. Lewat globalisasi, gagasan-gagasan seperti HAM, demokrasi, ekonomi pasar, pola-pola konsumsi, dan beragam kebiasaan relatif tertentu, disebarkan dan diminati dimana-mana. Model ini sangat menjanjikan bagi kesejahteraan sehingga peminatnya sangat banyak dan tersebar di seluruh dunia.Namun demikian peran dominan nilai-nilai perealisasian diri dan kejsejahteraan materil yang berkaitan dengannya mengakibatkan berkurangnya makna bentuk-bentuk sosial tradisional.

Bentuk lain dari globalisasi adalah persaingan bebas. Dalam hal persaingan tentunya sudah jelas, ada pihak yang diuntungkan ada pihak yang dirugikan, ada pihak yang menang ada pihak yang kalah. Dalam hal lapangan kerja misalnya, yang beruntung adalah pekerja-pekerja yang memiliki keterampilan yang tinggi, kapasistas keilmuan yang mumpuni, sehingga kelompok-kelompok pekerja yang berasal dari masyarakat daerah yang kinerjanya relatif rendah semakin termarjinalkan. Meskipun demikian, harusnya globalisasi bisa menjadi pemicu orang untuk belajar lebih, bersaing lebih, dan mengoptimalkan segala potensinya. Tetapi kenyataannya belum seperti itu.

Globalisasi menyentuh setiap orang karena dampaknya pada kehidupan ekonomis, menghadapkan setiap individu pada nilai-nilai, wawasan-wawasan dan kesadaran akan alternatif lain yang memukau. Hubungan antara pria dan wanita, individualisme, konsumsi sebagai makna hidup, kemungkinan hidup tanpa tatanan eksternal keagamaan dan adat, janji kebahagiaan dan status dalam pesona nikmat konsumsi yang ditawarkan, bisa menimbulkan krisis indentitas.

Akibat kebingungan identitas itu maka kelas atas cenderung bertindak tidak jujur, sedangkan kelas bawah menanggapi konflik dengan kekerasan. Tradisi bagi mereka diganti dengan hukum persaingan dan budaya kongkalikong. Orang kehilangan pegangan pada etos hidup yang pernah dimilikinya. Sangat kentara dalam kelakuan di jalan raya terhadap lalulintas.

Akibat konsumerisme adalah sebuah budaya instan. Orang merasa tidak bahagia apabila keinginan untuk membeli produk terbaru tidak langsung terpenuhi. Telpon genggam model terbaru, T-Shirt yang dibeli di Factory Outlet, kerudung model ‘Ketika Cinta Bertasbih’, baju koko style-nya band religi, dan banyak lagi contoh lainnya. Harga diri tergantung dari penampilan dan kemampuan untuk memamerkan merk terbaru. Sikap instan itu kemudian akan berefek orang tidak akan lagi mampu menangani frustasi dan menurunkan daya juang hidup. Sehingga mudah sekali seorang muda bunuh diri hanya karena tidak dibelikan sepeda motor ‘terbaru’ oleh orang tuannya.

Singkat cerita, globalisasi mengikis budaya bangsa yang bersahaja, kemudian merubahnya menjadi budaya komsumtif, budaya saling serang, budaya kasar, budaya malas dan rendahnya daya juang. Transformasi kultural ini pada hakikatnya pendangkalan semua dimensi kehidupan yang mencuat sebagai gaya hidup dan berujung pada matinya solidaritas dan kebersatuan antarawarga Negara. Dan kembali nasionalisme dipertanyakan.

Menilik Sebentar Kompromi Ideologi dan Budaya Bernama Pacasila

Perihal budaya, bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural, terdiri atas berbagai komunitas dengan sistem nilai, pandangan moral, dan kepercayaan-kepercayaan yang berbeda. Bagaimana bangsa seperti itu bisa ditata dengan cara yang acceptable bagi semua,  yang oleh semua komunitas yang sangat beraneka latar belakang itu dianggap adil? Itulah yang menjadi pertanyaan mendasar bagi para perumus dasar Negara kita : Muhammad Yamin, Soepomo dan Soekarno. Ke-legowo-an mereka bertiga akhirnya dapat menciptakan sebuah kompromi antar komunitas dan kompromi ideologi dan budaya, bernama Pancasila.

Berdasarkan pandangan ideologis, Pancasila bisa dikatakan mewakili setiap elemen ideologi yang berkembang dan dibawa oleh para pemikir Indonesia pada saat itu. Sila pertama, ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’, mewakili ideologi Islam. Sila kedua, ‘Kemanusiaan yang adil dan beradap’, mencerminkan Internasionalisme/Marxisme. Sila ketiga, ‘Persatuan Indonesia’, mencerminkan Nasionalisme. Sila keempat, ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan’, mewakili tradisi bangsa. Sila kelima, ‘keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’, mewakili sosial demokrasi.

Masing-masing komunitas ideologis tersebut merelakan sebagaian dari cita-cita mereka untuk mencapai cita-cita merdeka, penciptaan satu Negara dari Sabang sampai Merauke, dimana semua suku, semua ras, umat beragama dan komunitas budaya dapat hidup bersama dengan baik, dengan kewajiban dan hak-hak yang sama, tanpa harus melepaskan cita-cita dan keyakinan masing-masing.

Salut buat mereka bertiga, terutama soekarno yang menemukan kembali istilah pancasila itu. Sehingga bangsa Indonesia tidak perlu mengalami huru-hara besar diawal kemerdekaan atau mungkin tidak jadi merdeka hanya karena tidak mau mengalah ketika meramu dasar negara tersebut.

Ada pula kebingungan kita akan arti Pancasila saat ini adalah akibat penyalahgunaan Pancasila selama 32 tahun masa orde baru. Karena pada masa itu, Pancasila nyata-nyata didekonstruksi, bukan dari isi tapi dari pemaknaan. Di masa orde baru munculah Pancasila sebagai ideologi, padahal ideologi selalu merupakan sebuah ajaran. Dan Pancasila bukanlah ajaran, Pancasila merupakan sederetan nilai dari berbagai macam ideologi dan budaya, seperti telah dijelaskan di atas.

Akan tetapi, dekonstruksi Pancasila sebenarnya pada masa itu adalah pemanfaatannya untuk membernarkan kekuasaan sebuah kelompok terbatas atas seluruh bangsa. Orde baru memakai Pancasila untuk melegitimasi pegangan eksklusif dan tak terbantahkan pada kekuasaan[1]. Itulah fungsi Pancasila pada masa orde baru.

Terlepas dari dosa orde baru tersebut, konsentrasi saya adalah pada bagaimana bangsa ini, kita pernah membuat sebuah janji dan perjanjian, kompromi ideologi dan budaya yang ramuannya begitu beragam, baik dari luar maupun tradisi bangsa. Halus dan penuh dengan kompromi dan toleransi. Tidak pernah nenek moyang kita mengalami revolusi budaya seperti di Cina yang memakan korban 20 juta orang tewas karena kelaparan dan pembantaian.

Epilog Penutup

Saya tidak menentang globalisasi, karena tulisan ini bisa saya buat dengan bantuan perangkat lunak dari perusahaan multinasional dari USA. Saya dapat informasi mengenai kompetisi menulis ini dari Electronic Mail yang dikirimkan kawan saya. Untuk membaca saya memakai kaca mata yang merupakan brand sebuah negeri di eropa. Keluar rumah saya memakai jaket jeans style-nya Harley Davidson. Berjalan memakai sepatu merk USA punya, walaupun saya tidak tahu itu asli atau imitasi. Di saku celana saya terdapat telepon genggam yang pastinya tidak berasal dari produksi negeri ini. Saya dapat mengetahui apa yang terjadi di seluruh dunia secara instan adalah efek dari globalisasi juga. Terimakasih untuk globalisasi.

Namun demikian, bangsa ini tidak boleh terbuka lepas terhadap globalisasi yang berakibat pada kehilangan identitas diri dan meluruhnya nasionalisme. Juga bangsa ini tidak perlu saklek dengan kekhususan budaya bangsa sehingga takut modernisasi, yang menganggap modernisasi adalah nyeleneh dan penodaan pada budaya. Masyarakat bangsa ini harus tetap berada ditengah-tengah, diantara keduanya. Membuka diri terhadap kemajuan dan mempertahankan jati diri bangsa bukan hal yang kontrposisi, keduanya beriringan, keduanya pararel. Toh, bangsa kita ahli meramu dan berkompromi.

***


[1]Franz Magnis Suseno, Berebut Jiwa Bangsa

Jejaring Internasional dan Maksimasi Manfaat Google Translate October 8, 2009

Posted by panji prabowo in Gamais, Tulisan Lepas.
Tags: , ,
add a comment

Jaringan internasional GAMAIS ITB sudah berkembang dengan sangat baik. Selama tahun 2009 ini terhitung 3-4 kali GAMAIS ITB kedapatan kunjungan dari berbagai kampus dan mahasiswa dari beragam Negara. Kunjungan dari NGO (Non Government Organization) keislaman dari Malaysia, kunjungan dari mahasiswa dan dosen dari Negara timur tengah, kunjungan dari mahasiswa eropa yang sedang meneliti tentang pergerakan islam di kampus, kunjungan dari dosen universitas dari Malaysia, beberapa kali korespondensi dengan mahasiswa dari universitas di Singapura. Bahkan tanggal 10 Oktober 2009 besok, GAMAIS ITB mengadakan TAN (Ta’lim Antar Negara) secara live (video conference) dengan NTU di SIngapura, YIMSA (lembaga keislman) di Australia, Nagoya University di Jepang.

Sebagai efek dari meluasnya jaringan GAMAIS ITB dan juga menyikapi visi ITB, serta peran aktif menghadapi globalisasi, merupakan kewajiban bagi setiap kader GAMAIS ITB untuk senantiasa membangun jaringan dengan beragam pihak, meningkatkan kapasitas intelektual dan khasanah pengetahuan akan isu-isu keislaman nasional dan internasional.

Dunia maya (internet) memegang peran yang sangat penting dalam hal tersebut. Internet adalah jawaban dari keterbatasan kita akan jarak dan biaya dalam membangun dan mengelola jaringan. Internet juga menjadi tempat yang dituju ketika orang-orang memiliki pertanyaan-pertanyaan tentang segala sesuatu. Misalnya saja Islam. Tentunya kita tahu betapa menyesatkannya beberapa konten-konten tentang Islam di dunia maya tersebut. Islam terorislah, Islam inilah, Islam itulah. Mengapa seperti itu? Karena yang mengisi konten-konten Islam di dunia maya tersebut adalah orang yang ingin menjatuhkan Islam. Karena itu kita perlu mengambil peran di dunia maya dan mengembalikan citra baik Islam. Jadi secara singkat dapat dikatakan ada dua fungsi internet yang bias kita manfaatkan, pertama adalah membangun jaringan dan kedua adalah pencitraan Islam.

Dalam konteks internasional membangun jaringan dan pencitraan islam pun harus dilakukan ala internasional. Perihal media saya sudah tidak khawatir, karena semakin kesini semakin banyak kader yang telah mempunyai personal website ataupu weblog ataupun sekedar akun OSN (Online Social Networking), namun perihal bahasa masih ada beberapa pertanyaan. Agar buah pikiran dan tulisan keislaman kita bisa dipahami secara luas, maka kita harus menggunakan bahasa internasional pula. Lalu kendala bahasa pun menakuti kita.

Ternyata ada cara mudah untuk mengatasi itu. Hanya dengan menggunakan salah satu aplikasi google, yaitu google translate (http://translate.google.com/), kita bisa merubah personal web ataupun tulisan-tulisan kita dengan cepat ke dalam bahasa yang kita inginkan, walaupun terjemahannya tidak akurat sekali, jad harus disesuaikan kembali.(pp)

***

Sampel lihat di sidebar http://pastipanji.wordpress.com , read [pastipanji] in

Pengantar Ilmu Kajian* September 13, 2009

Posted by panji prabowo in Tulisan Lepas.
Tags:
add a comment

[PENGANTAR ILMU KAJIAN]

Teorema Kajian

Ilmu pengetahuan adalah suatu pernyataan yang berdasar atau memiliki rasionalsasi sehingga dapat dibuktikan secara empiris. Sedang kepercayaan adalah sesuatu yang diyakini tanpa perlu ada pembuktian empiris, tanpa proses rasionalisasi, dan umumnya bersifat sujektif dan implisit. Jadi pada dasarnya Ilmu pengetahuan hanya berangkat dari kepercayaan atau keyakinan terhadap sesuatu yang dilanjuti dengan keinginan untuk membuktikan sesuatu itu benar atau dengan kata lain ilmu pengetahuan merupakan bentuk rasionalisasi terhadap kepercayaan, sehingga kerpercayaan itu dapat diterima secara masal. Lihat saja proses penemuan hukum gravitasi oleh Newton, landasan dia meneliti hanya didasarkan pada keyakinan dan rasa ingin tahu. Dan proses transformasi dari kepercayaan menjadi ilmu pengetahuan disebut dengan kajian.

1

Kajian adalah proses rasionalisasi dan pembuktian empirik terhadap kepercayaan/ketidakpercayaan menjadi pemahaman/ilmu pengetahuan (Teorema Kajian[1])

Proses ini tidaklah berhenti dalam satu siklus, sehingga memungkinkan Ilmu pengetahuan yang telah diakui secara masal untuk dikaji ulang, secara terus-menerus, infinitive, tanpa batasan, berkembang sejauh ilmu pengetahuan bisa berkembang.

2

Kerangka pengkajiannya untuk setiap kesimpulan yang baru, tentunya semakin diperluas dengan menambah variabel uji, bahkan seringkali kontradiktif, dengan tujuan mencapai kebenaran hakiki.

Komponen Kajian

à    Data dan Dugaan (Asumsi)

Untuk mendapatkan konklusi baik diperlukan data dan informasi benar dan menyeluruh akan hal yang akan ingin dikaji. Mulai dari yang bersifat statis, karena merupakan prior information (informasi sebelumnya) dan tacit knowledge (pengalaman), serta yang bersifat dinamis, informasi kekinian dan realita lapangan.

Namun pada kenyataannya bahkan dalam sains, dugaan dan data masih sulit dipisahkan. Karena itu tidak dapat dipungkiri bahwa dugaan juga masih sangat berperan dalam mengkaji sesuatu, hanya saja perlu dilakukan analisa yang lebih dalam.

à    Logika dan Perasaan

Logika adalah kemampuan berfikir untuk mencapai kesimpulan, atau bisa juga dikatakan batasan rasionalitas atau batasan penalaran, tergantung penggunaannya hanya untuk mencerna informasi atau sekaligus menganalisis. Kemampuan ini bervariasi disetiap orangnya, tergantung tingkat evolusi otaknya dan juga pengetahuan yang dimilikinya. Karena hasil analisa tidak akan lepas dari premis-premis informasi yang tangkum menjadi pengetahuan yang konklusif.

Sedangkan perasaan adalah kemampuan mecerna dan mengolah informasi secara subjektif, terlepas dari bisa diterima atau tidak oleh logika. Seperti halnya dugaan, perasaan juga tidak mungkin lepas dan selalu terbawa dalam mengkaji sesuatu. Karena itu adalah bagaimana cara kita untuk memanfaatkan perasaan (intuisi) menjadi sebuah poin tambah dalam mencapai kesimpulan, dengan mempertajamnya. Namun dalam mencari kebenaran ilmiah, posisi perasaan tetap sebagai poin tambah, sehingga masih harus dibuktikan secara empirik.

Cara Berfikir

Proses berfikir manusia adalah hal yang kompleks dan tidak mudah dijabarkan, namun pada umumnya adalah seperti gambar disamping.

3

Data dan Informasi yang terakumulasi akan di analisa oleh otak, kemudian menghasilkan menghasilkan kesimpulan. Kemudian kesimpulan ini akan jadi sebuah data lagi, yang kemudian akan dianalisa ulang lagi dengan bertambahnya informasi lain. Kurang lebih seperti itu.

Bentuk variasi analisis memungkinkan terjadinya variasi kesimpulan juga, berikut adalah beberapa bentukkan atau metode analisa,

à    Permodelan

Memodelkan permasalahan kebentuk yang sederhana atau bentuk lain yang mirip, sehingga solusi bisa terlihat. Dalam hal ini mengandalkan tacit knowledge / pengalaman yang baik.

à    Inversed Analysis[2]

Berfikir mundur, karena setiap kejadian adalah akibat dari kejadian lainnya, artinya berlaku hukum kausalitas / sebab-akibat. Kesimpulan atau solusi bisa diperoleh dari sebab kejadian tersebut.

4

à    Kontradiksi Dialektik

Membenturkan pendapat / pemahaman, dari sebuah tesis dibenturkan dengan antitesis, sehingga melahirkan sintesa baru. Sehingga memungkinkan dilahirkan kesimpulan yang valid. Konsep dialekta ini dibakukan pertama kali oleh Hegel[3].

Pada praktiknya sifat analisis tidak terpaku pada bentuk di atas, atau kaku berupa deduktif ataupun induktif, tapi memungkinkan mengintegrasikannya jadi sebuah proses berfikir baru.


[1] Panji Prabowo : 2008

[2] Dedy Kurniadi, Pada Kuliah TF4002-Kapita Selekta, Bab Ill Posed-Inversed Analysis : 2008

[3] Falsafatuna, ASH-Shadr

*dibuat oleh Panji Prabowo saat masih jadi Kepala Departemen Kajian Strategis GAMAIS ITB

Nasruddin dan Profesor September 5, 2009

Posted by panji prabowo in Dari media, Joke, Tulisan Lepas.
add a comment

Pada suatu hari, seorang profesor berkunjung ke Desa Hortu. Profesor itu sangat terkenal di seluruh negeri. Konon, ia menguasai berbagai ilmu dengan sempurna. Namun, Nasruddin meragukan hal itu. Dia pun ingin menguji kehebatan sang Profesor.

Ditemuinya Profesor itu, katanya, “Tuan Profesor, saya akan mengajukan satu pertanyaan kepada Tuan. Kalau Tuan tidak bisa menjawab, Tuan harus membayar saya sepuluh dirham. Kemudian Tuan boleh mengajukan satu pertanyaan kepada saya. Kalau saya tidak bisa menjawab, saya akan membayar Tuan satu dirham. Syarat itu cukup adil, mengingat Tuan adalah seorang yang terpelajar dan ahli dalam berbagai hal, sedangkan pendidikan saya tidak setinggi Tuan”.

Sang Profesor berpikir sejenak, lalu menyetujui usulan itu. Nasruddin tersenyum lalu mengajukan pertanyaannya, “Makhluk apakah yang memiliki tiga kaki?”.

Kembali sang Profesor berpikir, kali ini agak lama. Akhirnya dia menyerah. Katanya, “Aku tidak tahu”. Lalu, ia memberi uang sepuluh dirham kepada Nasruddin. Orang-orang yang berkerumun menonton “pertandingan” itu pun ikut berpikir, namun mereka tidak bisa menemukan jawabannya.

Selanjutnya Profesor itu balik bertanya, “Nah, sekarang giliranku bertanya. Makhluk apa yang berkaki tiga?”

“Saya pun tidak tahu, Profesor,” kata Nasruddin sambil menyerahkan kembali uang satu dirham, sedangkan yang sembilan dirham sisanya dia masukkan ke kantong bajunya”.