Jaka Bluwo – Cerita Panji

Terkisahlah seorang pangeran, bernama Raden Panji Inu Kartapati, putra Raja Jenggala, jatuh cinta pada Dewi Anggraeni, seorang putri cantik dari pedesaan.  Prabu Lembu Amiluhur, ayah Kartapati, tak berkenan putra mahkotanya memperistri Anggraeni, karena ia sudah mempertunangkannya dengan Dewi Sekartaji, keponakannya, putri Kediri.  Inu Kartapati tetap mau menikah dengan Anggraeni yang amat ia cintai. Karena itu, Lembu Amiluhur, yang agak bengis itu, menyuruh Patih Brajanata membunuh Angraeni.
Melihat kekasihnya terbunuh, Inu Kartapati tak kuasa menahan duka. Ia peluk mayatnya berhari-hari, yang tetap berbau harum. Ia menangis patah harapan. Ia lupa pada makan, minum, dan tidur. Dunia sekelilingnya, termasuk ayah-bunda dan saudaranya tiada ia hiraukan. Kehidupan ini begitu kejam baginya. Ia menangis dan menangis. Anggraeni, yang tak bernafas lagi, tetap lekat di pangkuannya.
Pada suatu malam purnama, ia membawa mayat Anggreni masuk ke dalam sungai. Ia seolah mandi bersamanya. Ia tatap wajahnya, ia cuci rambutnya, ia kecup keningnya. Tanpa dirasanya, mereka hanyut bersama arus. Entah sampai ke mana. Pendududuk seluruh negeri heboh, Sang Pangeran telah hilang. Berbagai upaya pencarian dilakukan, tapi tiada satu pun yang berhasil. Prabu Lembu Amiluhur pun tumbuh sesalnya. Ia tak menyangka, terbunuhnya Angreni akan berakibat seperti itu pada anaknya. Negeri berkabung, karena hilangnya putra mahkota yang sangat dicintai seluruh rakyat.
***
Waktu berjalan. Hari, bulan, dan tahun berganti. Tapi, kemurungan negeri Jenggala tidaklah  pulih.
Suatu saat, di kala Raja sedang berunding dengan Brajanata, datanglah Raden Gunungsari, keponakannya , yang menyam paikan bahwa Sekartaji secara terpaksa akan dinikahkan dengan Raja Arnol dari Negara Blambangan. Karena, jika lamaran Raja Arnol yang sakti itu ditolak, maka Kediri akan digempur. Amiluhur makin muram, dan gusar. Ia kembali teringat pada anaknya, jika Kartapati ada, niscaya ia akan sanggup melawan Raja Blambangan itu. Karena tak kuasa melihat idaman mantunya dikawin paksa oleh Raja sakti yang serakah, ia hanya menyuruh Brajanata dan anaknya, saudara Kartapati untuk memenuhi undangan adiknya, Prabu Lembu Amisena, raja Kediri.
Salah seorang adik Inu Kartapati, bernama Panji Gagak Pernala, sangat ingin pergi ke Kediri, namun ia tidak mau membawa kedua istrinya, Dewi Mulat dan Dewi Pametan. Kedua istrinya itu langsung cemburu, karena Gagak Pernala memang terkenal nakal, suka menyeleweng. Melihat istrinya yang tetap ingin ikut, Gagak Pernala marah, bukan hanya menghardik melainkan sampai tega memulul mereka. Ia tinggalkan Mulat dan Pametan yang menangis berpelukan. Sadu Gawe dan Prasanta, dua orang panakawan Kartapati yang karena kehilangan majikannya kini mengabdi pada Gagak Pernala, pergi mengiringkannya, walau mereka tak senang melihat perbuatan majikannya yang baru ini.
Setelah ditinggal Sang Suami, Mulat dan Pametan bangkit dari sedih dan tangis. Dengan sakit campur dendam, mereka putuskan untuk dapat memberi pelajaran pada suaminya. Mereka berganti rupa, menyamar sebagai lelaki dengan nama Kelata Rupa dan Kelata Warna, dan segera berangkat ke Kediri untuk mengamati kelakuan suaminya dalam pesta perkawinan.
***
Di Kediri, suasana orang kerja mulai ramai, mempersiapkan penyelenggaraan pesta perkawinan Sekartaji dengan Raja Arnol, yang akan berlangsung beberapa minggu kemudian. Pintu gerbang dihiasi,  jalan  menuju istana dirapikan, dilengkapi dengan deretan umbul-umbul, bendera, dedaunan, dan lentera yang terpancang di sepanjang pinggirnya. Di suatu bukit, di luar  kota Kediri, pun terjadi kesibukan lain. Di situ dibangun perkemahan megah untuk rombongan calon pengantin laki-laki dari Blambangan.
Ketika Gagak Pernala tiba di istana, ia memilih untuk membantu mempersiapkan bahan makanan di dapur, bersama para putri. Sedangkan Brajanata, ditugaskan untuk membantu Gunungsari dalam mengatur tempat dan perlengkapan upacara lainnya.
Di dapur itu ada sorang raseksi, Tambang Tinangkur namanya, adik Raja Arnol, yang menyiapkan bahan makanan khusus, yang sesuai dengan selera abangnya. Demi melihat Gagak Pernala yang memang tampan, ia langsung jatuh cinta. Segera ia mengeluarkan kesaktiannya, merapalkan jampi-jampi kemat-keramat, sehingga ia tampak sebagai putri yang amat cantik di mata Gagak Pernala. Ketika mereka bertemu pandang, Gagak Pernala pun langsung tergoda. Berkenalanlah mereka, bergurau, dan bercinta.
Semua orang yang hadir tak habis pikir, mengapa Gagak Pernala mencintai seorang raseksi yang berwujud buruk, kotor-menjijikkan itu. Tapi, Gagak Pernala tak peduli dengan cebiran bibir orang sekelilingnya. Tiada pula ia mengindahkan terguran dan nasihat Sadu Gawe dan Prasanta. Baginya, “putri” Tambang Tinangkur cantik tiada tara, ramah dan membahagiakan. Ia telah terkuasai oleh kekuatan kemat Tambang Tinangkur. Berdua lantas bergegas meninggalkan dapur, pergi ke pertamanan di belakang istana untuk memadu cintanya. Lupalah mereka pada tugasnya. Tidak pula mereka peduli, telah “melangkahi” calon pengantin.
***
Kembali pada kisah Raden Panji Inu Kartapati. Setelah berhar-hari terbawa arus sungai, ratapan Panji  berganti dengan do’a bercampur keluh: “Dewa… konon Engkau maha pengasih. Aku telah bersumpah pada Angreni, untuk bersama sehidup-semati. Kini sukmanya telah melayang ke hadapanmu. Mengapa aku kau biarkan hidup? Cabutlah nyawaku, oh… Dewa, agar aku tak melanggar sumpah sendiri.” Dewata akhirnya turun. Ketika mereka sampai di muara, pada kegelapan malam di bulan tua, mayat Angreni seketika lenyap dari pangkuan Inu, berganti bisikan suci, suara tanpa rupa: “Kartapati, engkau lelaki setia. Aku buka jalan baru untuk kembali bersamanya. Tapi engkau harus berpisah terlebih dahulu. Jadilah kau seorang petani! Angreni akan menitis pada Sekartaji, putri Kediri, yang berganti nama Chandrakirana.” Seketika itu Kartapati berubah wujud. Hidungnya membesar bulat, dahi menjorok, pipi kembung, hingga matanya hampir tak tampak. Pakaian kerajaannya pun berubah menjadi sarung compang-camping.
Panji beranjak dari sungai, menelusuri pesisir. Tibalah ia di pinggir dusun, di mana tinggal sepasang kakek dan nenek, Kaki Wakul dan Nini Wakul, petani miskin yang tak punya sanak-saudara. Panji dengan rupa baru itu, yang tampak seperti orang terbuang, tolol, tanpa tempat tinggal dan bahkan tanpa nama, diajak masuk ke gubug berlantai tanah dan beratap rumbia. Setelah dikasih minum dan makan sekadarnya, ia diaku sebagai anak-angkat, dengan diberi nama Jaka Bluwo.  Dinamakan demikian, karena memang ia bermu ka tak lumrah.
Namun demikian, Jaka Bluwo ternyata punya keistimewaan dalam bertani. Bukan saja karena ia rajin bekerja di ladang, tapi benih apa pun yang ia tanam, segera tubuh dengan subur. Kebun Kaki dan Nini yang semula gersang di wilayah pantai, menjadi lebat menghijau. Hasil panen berlimpah ruah. Sejak itu, berkecukupanlah hidup mereka bertiga. Jaka Bluwo pun menjadi putra kesayangan.
Suatu hari, Bluwo merengek, meminta Kaki dan Nini melamar putri Kediri, yang bernama Chandrakirana. Tentu saja permintaan itu mengejutkan mereka, karena dianggap mustahil terkabul. Jaka Bluwo diminta untuk tidak memimpikan suatu yang tak mungkin tercapai. Itu seperti pungguk merindukan bulan. Walau permintaan itu mereka lakukan juga, pikir Kaki dan Nini, Raja akan menganggapnya sebagai penghinaan, yang bisa membuat mereka bertiga dihukum mati. Tapi, Jaka Bluwo sungguh meminta. Jika orang tuanya tak mengabulkan, katanya, ia akan bunuh diri. Akhirnya, walau dengan sangat waswas, Kaki dan Nini terpaksa menuruti permintaan Bluwo.
***
Istana adalah istana, tempat yang hanya boleh dimasuki para priyayi. Ketika Bluwo dan orang-tuanya datang ke pintu gerbang, hulubalang segera menghardik, mengusir mereka untuk segera menjauh. Untuk meyakinkan hulubalang bahwa mereka bertiga bukanlah orang gila, Bluwo harus memberi jaminan kepalanya sendiri. Jika lamarannya kelak ditolak Raja, ia bersedia dipancung lehernya.
Ketika Kaki membeberkan niat mereka di depan Raja, Sang Prabu bimbang keheranan. Kemarahannya tumbuh, karena putrinya yang jelita dilamar oleh orang sehina itu. Tapi harapan lain pun tumbuh, karena ia benci pada calon menantunya, Raja Arnol yang kasar, seorang raksasa sakti berwajah mengerikan. Ia penasaran pada Bluwo. Untuk menguji kesungguhan dan keistimewaannya si Pelamar, ia bilang bahwa ada syarat yang sangat berat untuk maskawinnya: mas-intan-berlian selengkapnya untuk busana pengantin, dan seperangkat gamelan Lokananta dari Kahiyangan, yang bisa berbunyi sendiri.
Jaka Bluwo sanggup memenuhi semua permintaan itu. Secara menakjubkan, seketika itu juga satu peti perhiasan lengkap muncul di hadapan Raja, dan suara gamelan pun terdengar mengalun walau entah di mana letaknya. Bertambahlah harapan Raja, karena ia tahu bahwa yang ada di hadapannya itu bukanlah orang sembarangan. Kemudian ia bilang bahwa masih ada satu lagi yang musti dilakukan Bluwo, yakni mengalahkan Raja Arnol yang kini telah menjadi calon pengantinnya. Jaka Bluwo juga menyanggupi permintaan itu, segeralah ia minta diri untuk menemui Raja Arnol di perkemahannya.
***
Raja Arnol berpesta ria, menari‑nari, minum-minum, dengan para patih dan ribuan tentaranya, karena tiga hari mendatang ia akan menjadi pengantin, memperistri putri idaman yang cantik tiada banding.  Tiba‑tiba datang Jaka Bluwo, menyeruak, membelah gumpalan barisan tentara raksasa yang sedang mabuk. Ia meminta Arnol membatalkan pernikahan, dan segera kembali ke negaranya, karena ia sendiri yang akan menjadi suami Candrakirana.  Tentu saja Arnol menjadi menjadi murka seketika. Jaka Bluwo yang berparas buruk itu dicaci maki. Pedang lepas dari sarungnya, berkelebat menebas Bluwo. Tapi Bluwo pandai berkelit bagai kilat. Meloncat sambil menerjang. Sekali gerak, seratus tentara tergeletak. Sebagian mati, sebagian menggeram terhuyung, sebagian lagi lari terbirit-birit.
Semua patih pun tersingkir, tak ada yang mampu mengalahkan Bluwo yang hanya sendirian itu. Tapi Arnol tetap bulat niatnya. Nafsu sudah terlanjur, impian nikah tak bisa pudar. Ia memang raja sakti. Perkelahian sengit pun terjadi. Tapi Jaka Bluwo tetap unggul. Arnol akhirnya roboh tak berkutik. Pasukan Blambangan yang masih hidup bubar, tunggang-langgang meninggalkan rajanya yang gugur. Ada yang lari, ada yang jalan terhuyung, ada yang merangkak.
***
Sekarang kita kembali pada Panji Gagak Pernala dan Tambang Tinangkur, yang sedang bermesraan di pepungkuran, pertamanan belakang istana.  Setelah sekian lama berjalan, kemat Tambang Tinangkur luntur jua. Wujud yang sesungguhnya tampak oleh Gagak Pernala.  Demi terlihat wanita yang sedang digaulinya itu adalah seorang raksesi, ia terkejut, jijik dan ngeri. Segera ia lari menghindar.  Tambang Tinangkur mengejar lelaki pujaannya, dengan nafsu cinta yang membara.
Gagak Pernala bertemu dengan Kelatawarna dan Kelatarupa yang baru tiba di Kediri. Dengan terengah-engah Pernala menceritakan kisahnya, dan meminta bantuan mereka berdua untuk melindungi dirinya dari kejaran Tambang Tinangkur. Tapi, Kelatawarna dan Kelatarupa malah memarahi  Pernala, mengatakan bahwa menyiksa kedua istrinya itu adalah dosa besar, yang layak mendapatkan hukuman. Pernala dipukuli oleh mereka berdua, akan ditangkap untuk “dimangsa” Tambang Tinangkur.
Pernala masih bisa lolos, walau terus dikepung oleh tiga orang. Ia memang pengecut, tapi pandai menghindar. Bertemulah ia dengan Jaka Bluwo, yang segera dirangkulnya untuk minta bantuan.  Jaka Bluwo menyanggupi, asalkan ia diberi upah dengan sumping yang dipakai Perna la.  Walau pada awalnya Gagak Pernala ragu—karena sumping itu bukan miliknya sendiri, melainkan titipan abangnya, Panji Inu Kartapati—tapi tiada pilihan lain kecuali menyetujui permintaan Bluwo, yang segera bertandang, berperang dengan ketiganya.  Tambang Tinangkur tak kuat menahan pukulan Bluwo. Ia lari sambil menjerit kesakitan, kembali ke Blamban gan. Sedangkan Kelatawarna dan Kelatarupa, ketika terkena tamparan Bluwo, seketika berubah kembali menjadi Dewi Mulat dan Dewi Pametan.
Ketika Gagak Pernala melihat bahwa yang berwujud dua satria musuhnya tadi tak lain adalah istrinya sen diri, ia langsung mendekat dan memeluk keduanya. Ia bertobat, minta maaf atas kekhilafan dan kebengisannya dulu, dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.
Jaka Bluwo menghampiri, menagih upah pada Gagak Pernala. Pernala segera memberikan sumping yang dipakainya.  Dan, setelah Jaka Bluwo memakai sumping itu, yang tak lain adalah miliknya sendiri, seketika itu pula ia berubah wujud, kembali menjadi Panji Inu Kertapati.  Semua orang terkejut, haru campur gembira, ketika melihat orang yang dicari sejak lama itu tiba‑tiba muncul di hadapan mereka.  Demikian juga para panakawan setia, Sadugawe dan Prasanta, berdatang sembah dan merangkul majikannya yang sudah lama dirindu kan.
***
Raja Kediri, yang sejak Bluwo berperang dengan Arnol selalu memperhatikan dari jauh, sangat senang demi melihat yang menjadi Jaka Bluwo itu tak lain adalah keponakannya sendiri, yang dari dulu ia inginkan untuk menjadi mantunya.  Ia segera memanggil Candrakirana untuk sama-sama menemui Kartapati, mengajak mereka semua ke dalam istana. Persiapan pesta tak mubadir. Yang rusak karena perang, segera diperbaiki. Hari pernikahan diundur seminggu, untuk menjemput Prabu Lembu Amiluhur dari Jenggala.
Keramaian menjadi bertambah, karena Lembu Amiluhur tak datang dengan tangan hampa, melainkan dengan berbaris-baris pembawa makanan, diiring oleh hampir seluruh rakyatnya, lengkap dengan rombongan keseniannya. Pesta pernikahan Inu Kartapati dengan Candrakirana, selama tujuh hari tujuh malam, bukan hanya riuh-meriah, melainkan disertai keceriaan dan kesyukuran: semua merasa seperti menemukan kembali impiannya.

***
Diceritakan oleh Dalang Warsad dari Desa Gadingan, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Agustus 1994, diringkas, disadur oleh Endo Suanda, 2003. Telah diterbitkan dalam Buku Topeng, Paket Pelajaran Kesenian UPI Bandung.

Sumber : http://www.tikar.or.id/

About these ads

Apa komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s