Miskin atau Zuhud? June 25, 2009
Posted by panji prabowo in Tulisan Lepas.Tags: Dakwah, [Islam]
add a comment
Miskin atau Zuhud?
Edisi Liburan
Dalam sebuah diskusi, saya pernah berpendapat bahwa kalimat-kalimat seperti, “biar miskin asal bahagia” atau “uang bukanlah segalanya” dan sebagainya, adalah kalimat-kalimat yang diciptakan oleh orang-orang kaya, agar orang miskin tidak terlalu bersusah hati dan tidak terlalu iri terhadap mereka. Pendapat bercanda tentu saja. Namun ternyata kalimat-kalimat tersebut telah meresap betul ke dalam alam bawah sadar kebanyakan orang dan diakui kebenarannya oleh kebanyakan orang pula. Bukan maksud saya menentang kebenaran kalimat tersebut. Memang benar uang bukanlah segalanya, tetapi tak dapat dipungkiri uang memang dibutuhkan. Memang benar bisa saja menjadi miskin tetap bahagia tetapi bukannya lebih baik menjadi kaya dan bahagia. Frame berpikir bahwa menjadi miskin atau tidak beruang-memiliki uang maksudnya- adalah baik-baik saja, itulah yang saya tentang.
Melihat faktanya, kondisi ‘miskin tetap bahagia’ bak mendapat angin segar persetujuan dari para asatidz pada ceramah-ceramah yang konteksnya kesabaran. Bersabar dalam kesusahan, bersabar dalam kemiskinan, atau apapun itu, diartikan tetap berada dalam kesusahan kemudian sabar, atau semakin miskin atas nama kesabaran. Bahkan sampai ada kampanye untuk perang terhadap materialisme atau materialistik, dengan alasan Islam mengajarkan untuk zuhud. Padahal bukan itu poinnya melainkan sabar ketika susah atau miskin datang kemudian berjuang bahkan berperang untuk meninggalkannya.
Adapun tentang zuhud Imam Ghazali mengatakan orang zuhud itu adalah orang yang ‘punya dunia’ lalu meninggalkannya dengan sadar. Sedang orang miskin itu adalah orang yang ‘ditinggal dunia’. Jadi kalau kita bermiskin-miskin ria dengan alasan zuhud, itu salah. Atau jika ada mahasiswa islam ketika akhir bulan rajin puasa senin-kamis lantaran kiriman orang tua sudah habis, itu bukan zuhud, melainkan usahanya untuk memaksimalkan kondisi keterbatasannya agar tetap mendapatkan pahala. Dari pada ga makan ga dapat pahala, mending puasa dan dapat pahala.(no offense J, hanya curhat T.T)
Jika kita menilik kehidupan Rasulullah saw, kehidupan sederhana beliau bukanlah karena beliau miskin tetapi karena pilihannya untuk zuhud, karena sesungguhnya beliau sangat kaya-raya. Bagaimana tidak? Rasulullah diusia 8 tahun sudah mulai kerja dan mendapatkan gaji. Pekerjaan pertamanya menggembala kambing, diusia 12 tahun beliau sudah pulang pergi luar negeri ikut dalam bisnis keluarga, diusia 20 tahun Rasulullah sudah menjadi pengusaha dengan investornya adalah Khadijah. Ketika usia 25 tahun beliau menikahinya dengan mahar seratus ekor unta, jika dinilai dengan harga rupiah saat ini kira-kira 1 ekor unta seharga 10 juta, artinya beliau memberi mahar 1 Milyar ketika itu, seorang muda 25 tahun punya uang cash 1 Milyar,bagaimana tidak kaya. Perlu diperhatikan itu baru maharnya, tentunya yang disimpan masih lebih banyak. Walaupun Rasulullah SAW setelah menjadi Nabi mengatakan sebaik-baik wanita adalah wanita yang cantik dan mahar yang murah, itu sebagai sistem tapi dalam tradisi jahiliyah itu status.
Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam pernah pula bersabda, “Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas/ lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit”(HR. Ibnu Hibban). Tempat tinggal yang lapang adalah parameter stabilitas dan kendaraan yang nyaman adalah parameter mobilitas. Dua poin indikator kebahagiaan tersebut bisa diperoleh tidak hanya dengan kesabaran dalam kemiskinan dan kesusahan tetapi juga dengan perjuangan untuk mengakhirinya dan menjadi kaya, kemudian bersyukur dan hidup dalam kesederhanaan.
Wallahu’alam bishowab
Aktivis Dakwah Kampu(ng) June 22, 2009
Posted by panji prabowo in Tulisan Lepas.Tags: Dakwah
add a comment
Aktivis Dakwah Kampu(ng)*
Edisi Liburan
Libur akhir semester genap, memang selalu menjadi hal yang ditunggu oleh mahasiswa indonesia pada umumnya. Tiga bulan libur merupakan waktu yang tepat ‘tuk istirahatkan diri, rekreasikan pikiran dan segarkan kembali raga, setelah berlelah-lelah kuliah. Satu tindakan yang mewakili semua kata-kata menyegarkan itu adalah MUDIK a.k.a. pulang kampung.
Tidak ada yang salah dengan pulang kampung. Malah pulang kampung memiliki nilai lebih bagi para Aktivis Dakwah Kampus (ADK). Bagi kader dakwah pulang kampung lebih dari sekedar istirahat, rekreasi, dan penyegaran namun merupakan kesempatan membuka ladang amal baru. Banyak yang mengatakan liburan dan pulang kampung sebagai momen untuk berdakwah kepada keluarga atau juga bersilahturahim dengan aktivis-aktivis dakwah di daerahnya untuk saling memberi semangat atau juga berdakwah di masjid dekat rumah dengan mangajar ngaji atau juga sekedar memperbaiki diri-menambah hafalan Alquran, dsb-.
Namun fenomena yang banyak terjadi justru sebaliknya, para aktivis dakwah yang getol berdakwah di kampus justru melempep saat berada di kampung. Jangankan berdakwah ke orang banyak atau keluarga, semangat dan kondisi rukhiyah pribadi pun malah cenderung menurun. Jangankan mengajak orang untuk berbuat baik, membawa diri untuk shalat berjamaah di masjid pun berat. Jangankan mengajari orang untuk mengaji, membaca buku untuk memperdalam ilmu saja malas.
Fenomena di atas dapat terjadi pada dasarnya karena luruhnya motivasi atau semangat untuk berdakwah. Semangat berdakwah di kampus timbul karena adanya lingkungan kampus kondusif, sehingga merangsang untuk melakukan aktivitas dakwah, serta adanya aktivis dakwah lain yang sama-sama berjuang, sehingga ketika di kampus seorang ADK tidak merasa sendirian. Tetapi dikampung berbeda ceritanya. Tidak ada orang yang bisa memberi semangat atau bahkan tidak ada yang tahu bahwa kita aktivis dakwah, maka pikiran bahwa ”tugas berdakwah bisa dinafikan dulu” atau ”libur dakwah dulu” bisa muncul. Jadinya luruhlah semangat dakwah itu, bahkan mungkin kefuturan yang menanti. naudzu billahi min dzalik.
Untuk menghindari hal tersebut diatas ada beberapa hal yang bisa dilakukan: pertama, tanamkan benar-benar prinsip Nahnu du’at qobla kulli syai’i (jadilah da’i sebelum sesuatu yang lain) kedalam diri ini ; Kedua, luruskan segala tujuan dakwah, bahwa segala yang kita perbuat hanya untuk Allah ta’ala. Sehingga ada atau tidak adanya orang yang melihat amalan dakwah kita, kita senantiasa akan tetap berdakwah ; ketiga, sesuai dengan sabda Rasulullah saw, “Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya yakni nikmat sehat dan waktu senggang” (HR. Bukhari), sehingganya jangan sampai waktu liburan kita begitu kosong tanpa kegiatan yang bermanfaat, jadi buatlah rencana dan targetan selama liburan; keempat, ikatlah komitmen dengan teman atau sahabat kita dalam mencapai targetan liburan.
Wallahu’alam bishowab
*terinspirasi dari curhat seorang kawan lama
Pesan Persaudaraan dalam Hadits June 20, 2009
Posted by panji prabowo in Dari media, Tulisan Lepas.Tags: [Islam]
1 comment so far
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum Muslimin untuk menegakkan persaudaraan (ukhuwah). Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai hadits juga memerintahkan ummatnya untuk melakukan hal yang sama. Di bawah ini adalah beberapa hadits yang menjelaskan kedudukan ukhuwah dalam Islam:
Lillahi Ta’ala
Semangat persaudaraan di antara sesama Muslim hendaknya didasari karena Allah semata, karena ia akan menjadi barometer yang baik untuk mengukur baik-buruknya suatu hubungan. Rasulullah bersabda, “Pada hari kiamat Allah berfirman: Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari yang tiada naungan selain naungan-Ku ini, aku menaungi mereka dengan naungan-Ku.” (Riwayat Muslim)
Dalam hadits lain Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang bersaudara dengan seseorang karena Allah, niscaya Allah akan mengangkatnya ke suatu derajat di surga yang tidak bisa diperolehnya dengan sesuatu dariamalnya.” (Riwayat Muslim)
Dalam keterangan yang lain Nabi Muhammad menjelaskan, “Di sekeliling Arsy terdapat mimbar-mimbar dari cahaya yang ditempati oleh suatu kaum yang berpakaian dan berwajah (cemerlang) pula. Mereka bukanlah para nabi atau syuhada, tetapi nabi dan syuhada merasa iri terhadap mereka.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami tentang mereka.” Beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai, bersahabat, dan saling mengunjungi karena Allah.” (Riwayat Nasa’i dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu)
Tidak Saling Menzhalimi
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, tidak menzhalimi atau mencelakakannya. Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya sesame Muslim dengan menghilangkan satu kesusahan darinya, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan di hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (Riwayat Bukhari dari Abdullah bin Umar RA)
Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki, melakukan najasy (semacam promosi palsu), saling membenci, memusuhi, atau menjual barang yang sudah dijual ke orang lain. Tetapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak menzhalimi, dan tidak membiarkan atau menghinakannya. Takwa itu di sini (beliau menunjuk ke dadanya tiga kali).”
Ibarat Satu Tubuh
Persaudaraan dalam Islam memperkuat ikatan antara orang-orang Muslim dan menjadikan mereka satu bangunan yang kokoh. “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu tubuh; apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuh akan sulit tidur dan merasa demam.” (Riwayat Muslim)
“Orang-orang Muslim itu ibarat satu tubuh; apabila matanya marasa sakit, seluruh tubuh ikut merasa sakit; jika kepalanya merasa sakit, seluruh tubuh ikut pula merasakan sakit.” (Riwayat Muslim)
Merasakan Lezatnya Iman
“Barangsiapa ingin (suka) memperoleh kelezatan iman, hendaklah ia mencintai seseorang hanya karena Allah.” (Riwayat Ahmad)
Mengenal Baik Sahabatnya
“Jika seseorang menjalin ukhuwah dengan orang lain, hendaklah ia bertanya tentang namanya, nama ayahnya, dan dari suku manakah ia berasal, karena hal itu lebih mempererat jalinan rasa cinta.” (Riwayat Tirmidzi)
Demikian sebagian kecil dari nash hadits yang menjelaskan tentang persaudaraan. Semoga kaum Muslimin dapat secara konsisten memenuhi syarat-syarat, hak-hak, dan kewajiban bersaudara dalam Islam.
* [Ali Athwa, dari buku Fiqh Ukhuwah karangan Abdul Halim Mahmud/http://www.hidayatu llah.com/ ]
Kisah Siti Khoiyaroh* June 3, 2009
Posted by panji prabowo in Tulisan Lepas.Tags: Ekonomi, Renungan, Sosial-Politik
2 comments
Gedebuk! Tangis melengking Siti Khoiyaroh (4 tahun) terasa menyayat. Tubuhnya terempas ke aspal. Rombong bakso ibunya, Sumariah, jatuh terjungkal.
Tubuh mungil Siti melepuh tersiram kuah bakso mendidih dan bara arang. Sementara tubuh Sumariah tertahan jambakan tangan kasar petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya. Tangis Sumariah dan Mat Naki, suaminya, menjadi-jadi setelah menanti selama delapan hari, si mungil kesayangannya mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Dr Soetomo, Surabaya.
Nasib naas juga menimpa seorang pekerja seks komersial (PSK) di Tangerang. Takut dikejar petugas Satpol PP, ia menceburkan diri ke sungai, menyelamatkan diri. Perempuan malang ini tewas tenggelam.
Kekerasan negara
Itulah sejumput kecil deretan nasib rakyat miskin yang tersingkirkan dari jalanan kota di seantero negeri. Berbagai kekerasan negara terhadap kaum marjinal—rakyat yang melata mempertahankan hidupnya, yang tidak tahu pasti apa yang bisa dimakan esok—terus terjadi.
Khoiyaroh, si mungil yang melata di jalanan kota bersama ibunya mencari sesuap nasi, harus terenggut nyawanya akibat kekerasan negara melalui tindakan Satpol PP atas nama penertiban perda terhadap pedagang kaki lima yang dikategorikan liar, mengganggu keindahan kota. Begitu pula nasib malang sang PSK.
Tindak kekerasan Satpol PP Kota Surabaya bukan hanya terhadap Khoiyaroh. Belum lama ini, istri seorang jurnalis sebuah surat kabar di Surabaya mengalami naas, terkena operasi penertiban kartu tanda penduduk (KTP). Sang istri wartawan didapati tidak membawa KTP. Tanpa ampun, dia diangkut ke Kantor Satpol, dituduh sebagai PSK yang sedang mencari mangsa.
Sang suami pun mencak-mencak. Penjelasan bahwa perempuan itu istrinya dengan bukti KTP yang beralamat sama tidak digubris petugas Satpol PP. Bisa dibayangkan aib yang suami-istri ini terima. Kasus ini memicu unjuk rasa wartawan Surabaya terhadap Satpol PP dan pemerintah kota. Meski telah dilaporkan ke polisi, kelanjutan perkara ini tak jelas juntrungan-nya.
Berbagai tindakan ala premanisme petugas Satpol PP dalam melaksanakan penertiban di sejumlah kota akhir-akhir ini sungguh mencuatkan ironi. Nasib Khoiyaroh adalah gambaran telanjang sebuah tragedi wong cilik, pada saat semua politisi di negeri ini menepuk dada sebagai pejuang dan pembela ekonomi kerakyatan. Bahkan, semua calon presiden dan wakil presiden yang akan bertarung Juli mendatang pun pidato berbusa-busa mengukuhkan diri sebagai pembela ekonomi kerakyatan, membela wong cilik, antineoliberalisme.
Siti Khoiyaroh yang melata bersama ibunya dari subuh hingga larut malam menapaki jalanan kota, berjualan bakso, adalah pelaku ekonomi kerakyatan. Merekalah rakyat yang benar-benar rakyat, yang mengalami ketidakberdayaan akibat termarjinalisasi, terdevaluasi, terampas, dan mengalami pembungkaman.
Tewasnya Siti Khoiyaroh akibat tindak kekerasan ”polisi perda” adalah paradoks, sekaligus ironi terhadap pembelaan ekonomi kerakyatan. Penyingkiran wong cilik dari denyut ekonomi kerakyatan di jalanan kota adalah sama dengan memberikan stempel pada dahi mereka, ”Anda adalah pesakitan karena bukan bagian dari pasar”. Bukankah ini sikap neolib?
Terampas dan terbungkam
Para pedagang kaki lima, pekerja sektor informal, bahkan PSK, pun adalah segelombang rakyat yang berjuang keras untuk bertahan hidup dari hari ke hari tanpa berniat merecoki negara. Namun, atas nama peraturan daerah dengan misi ketertiban dan keindahan kota, atas nama ekonomi pasar, supermarket, hipermarket, mal, para aktor ekonomi kerakyatan itu adalah borok yang harus disingkirkan.
Sumariah, ibu Siti Khoiyaroh, mengalami keterampasan dan pembungkaman atas nasibnya. Ia tidak saja kehilangan rombong bakso tumpuan hidupnya, tetapi juga putri semata wayangnya. Inikah bukti ekonomi kerakyatan yang dipidatokan para pemimpin? Di manakah suara pembela wong cilik yang dikampanyekan para politisi itu?
Saat semua orang berseru, singkirkan neoliberalisme dari visi dan misi para calon pemimpin negeri, Satpol PP di seantero negeri secara telanjang justru menunjukkan, mereka adalah ujung tombak penegakan neoliberalisme, paham yang mendewakan ”fundamentalisme pasar” sebagai hukum yang paling hukum. Sedangkan pelaku ekonomi kerakyatan—pedagang kali lima, pekerja sektor informal di jalanan kota—bukan bagian dari pasar.
Di benak mereka, pasar sebenarnya adalah mal, supermarket, hipermarket, dan sejenisnya. Itulah yang harus dibangun, dilindungi pemerintah, dan diberi tempat terhormat. Lantas, Sumariah, si pedagang bakso dan berlaksa-laksa pedagang jalanan lain yang merayapi penjuru kota, cuma sejenis kutu yang dianggap mengganggu keindahan dan ketertiban kota. Di manakah gaung pidato pembela ekonomi kerakyatan para pemimpin itu harus dirumahkan? Mungkinkah pidato itu berumah di rombong Sumariah?
*Penulis :
Hotman M Siahaan-Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga, Surabaya
Alasan Prabowo memilih Mega.. June 1, 2009
Posted by panji prabowo in Joke.1 comment so far

just jokes…hehehe

