Mengubah dengan kekuatan teladan April 29, 2009
Posted by panji prabowo in Tulisan Lepas.Tags: Kepemimpinan, [Islam]
1 comment so far
Rasulullah SAW gemilang menyeru ummat ke jalan-Nya, mengubah karakter ummat dari zaman kegelapan menuju jalan penuh cahaya yang ditempuh hampir 23 tahun. Salah satu pilar strategi keberhasilannya adalah karena Rasul memiliki kekuatan suri tauladan yang sungguh luar biasa. Yakinlah bahwa cara paling gampang mengubah orang lain sesuai keinginan kita adalah dengan cara menjadikan diri kita sebagai media atau contoh yang layak ditiru.
Karenanya, jangan bercita-cita memiliki anak yang santun, lembut, kalau kesantunan dan kelembutan itu tidak ada dalam diri orang tuanya. Jangan bercita-cita punya anak yang tahu etika, kalau cara mendidik yang dilakukan orang tuanya tidak menggunakan etika. Sangat mustahil akan terwujud ketika para pimpinan ingin anggotanya berdisiplin, padahal disiplin itu bukan bagian dari diri pimpinannya. Contoh sederhana, mengapa P4 gagal menjadi pedoman hidup yang jadi acuan bangsa Indonesia ? Karena tidak ada contoh tauladannya. Siapa sekarang pemimpin bangsa ini yang paling Pancasilais ? Susah mencarinya. Seumpama mata air di pegunungan yang sudah keruh tercemar. Kalau dari sumbernya sudah keruh, walau yang di bawah di bening-beningkan juga tidak akan bisa. Di hilir menjadi keruh karena di hulunya juga keruh.
Orang tua ingin anak-anaknya tidak merokok padahal ternyata orang tuanya perokok berat, bagaimana mungkin ? Para guru ingin murid-muridnya tidak mengganja, padahal ganja itu awalnya dari rokok, dan ternyata para guru merokok di depan murid-muridnya. Jangan-jangan kita yang menjerumuskan mereka ?
Di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta ada sebuah contoh menarik tentang mengapa anak-anak menjadi seorang perokok atau pengganja. Di salah satu dindingnya tergantung sebuah potret seorang ibu yang sedang menimang-nimang bayinya, dan ternyata si ibu ini melakukannya sambil merokok. Tidak bisa tidak. Perilaku si Ibu ini merupakan contoh bagi si bayi yang ada dipangkuannya.
Koalisi bukan bagi-bagi kekuasaan April 13, 2009
Posted by panji prabowo in Tulisan Lepas.Tags: Pemerintahan, Sosial-Politik
2 comments
13 april 2009.1pm.
Selepas Pemilu Legislatif Partai Politik sedang disibukkan dengan hitungan-hitungan angka, analisis strategi, koaliasi dengan siapa, aksi lobbi-lobbi atau juga yang sedang ngetren istilah “komunikasi politik”. Ya..semuanya berusaha mencari posisi yang paling tepat dan nyaman kedepannya, tentunya kalau bisa menang. Tentunya saya yakin sepenuhnya bahwa tujuan partai politik berusaha untuk menang adalah untuk memperjuangkan aspirasi yang diwakilinya, ideologi yang dibawanya, kemakmuran rakyat indonesia, bukan sekedar untuk meraih kekuasaan. Semoga saja..Aamiin…
Kemenangan Partai Demokrat, pada pemilu legislatif 2009 kemarin, membawa Partai Demokrat dan Susilo Bamabng Yudhoyono demikian kokoh dan gagah dalam bermanuver dan memposisikan dirinya, hampir semua partai berebut untuk mendekat kepada Partai Demokrat sekarang ini. Demikian gagah dibandign tahun 2004 lalu yang hanya memperoleh kurang- lebih 7%, yang untuk mengajukan SBY sebagai calon presiden, Partai Demokrat harus berkoalisi dengan banyak partai. Sehingga baru-baru ini SBY, dalam conferensi pers kemenangan partai demokrat, dengan tegas menyampaikan hal yang intinya bahwa kontrak politik atau komitmen untuk berkoalisi harus jelas dan diusahakan agar terpublish kemasyarakat luas. Wajar memang, dengan melihat pemerintahan selama 5 tahun terakhir, koalisis besar-besarran pada tahun 2004 lalu terlihat tidak kokoh bahkan saling tikam dibelakang, maka pernyataan tersebut tersirat mengatakan bahwa “sekarang gue menang, silakan koalisi ma gue, tapi lo nurut n kita buat kontrak yang jelas”. Gagah sekali bukan.
Koalisi pada hakikatnya bukan sekedar bagi-bagi kekuasaan, seperti politik yang tujuannya bukan hanya memperoleh kekuasaaan. Jika partai politik yang ada sekrang memahami hal ini, maka niscaya kesejahteraan rakyatlah yang menjadi tujuan dan landasan geraknya. Artinya jika ternyata untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, bisa dengan merekonsoliasi ide dan pemikiran masing-masing partai politik, maka mengapa tidak. Jika pun paska pemerintahan nanti atau pemilu 2014 nanti rekonsoliasi ide ini tidak dianggap lebih baik daripada ide awal partai politik itu sendiri, maka itulah saatnya berpisah jalan. Tidak ada teman yang abadi dan tidak ada musuh yang abadi.
Berdasarkan hal tersebut, arah saya adalah menjelaskan landasan-landasan yang diperlu diperhatikan partai politik untuk berkoalisi. Pertama adalah kemiripan ideologis. Hal ini sangat penting adanya, karena kemiripan ideologis bisa membuat ide awal partai politik setelah rekonsoliasi tidak terpental begitu jauh, serta bisa mengokohkan jalannya pemerintahan kelak; Kedua adalah pencapaian partai poltik tersebut. Konkritnya saya berbicara tentang jumlah perolehan kursi atau persentase kemenangan. Hal ini juga penting, karena jika Gol utama adalah mensejahterakan rakyat dan jalannya adalah dengan memperoleh kemenangan, maka koalisi dengan partai politik yang besar, artinya perolehan suaranya besar adalah mutlak; Ketiga adalah komitmen. Bukan hanya untuk memperoleh kemenangan tapi untuk menjalankan pemerintahan bersama-sama selama 5 tahun, tidak menikam dari belakang, tidak talak 3 sebelum pemerintahan usai. Hal ini begitu sederhana namun begitu sulit; keempat adalah prediksi masa depan. Maksud saya disini adalah penjelasan ide ‘berpisah jalan’ di pemilu berikutnya yang pernah saya sebutkan sebelumny. Jika partai politik itu besar, secara kualitas dan kuantitas, maka ide memimpin bangsa tidak selesai hanya dalam satu perputaran pemerintahan. Secara konotatif ‘ingin menang’ atau ‘ingin berkuasa’ diputaran pemerintahan berikutnya. Karena itu, bagi partai politik menjadi penting untuk mengukur diri dan memprediksi masa depan sebelum berkoalisi dengan siapa, apakah diperputaran roda pemerintahan berikutnya bisa memimpin, jika berkoalisi dengan partai tersebut?
Analisis Instan Hasil Pemilu Legislatif 2009 April 12, 2009
Posted by panji prabowo in Tulisan Lepas.Tags: Pemerintahan, Sosial-Politik
add a comment
Jakarta, 10 April 2009.10.50pm.
Pesta demokrasi Indoneisa baru saja diselenggarakan, dengan cukup sukses pada 9 april kemarin. Dengan hasil quick count LSI (per 10 januari,pukul 10.48pm) , 10 parpol besar seperti di bawah ini :
- Partai Demokrat : 20.9%
- PDIP : 14.6%
- Golkar : 14.3%
- PKS : 8.6%
- PAN : 7.5%
- PKB : 6.8%
- PPP : 5.1%
- Gerindra : 4.8%
- Hanura : 3.5%
- PKPB : 1.6%
Dari hasil diatas,ada beberapa poin yang menarik perhatian saya, diantaranya; meningkatnya partai demokrat menjadi 3 kali lipat dari perolehan popular vote di tahun 2004; munculnya 2 partai baru, Gerindra dan Hanura, yang dapat menembus 10 besar, bahkan melewati ambang batas parlementary tresshold; adanya 3 partai Islam, PKS, PKB dan PPP, dalam 10 peringkat teratas hasil quick count ini. Ketiga poin tersebut yang akan saya coba bahas, dengan presepsi saya sendiri tentunya, pada tulisan saya kali ini.
Meningkatnya Suara Partai Demokrat (PD)
Pencapaian suara partai demokrat kali ini memang sangat luar biasa, bila dibandingkan dengan pencapaian di pemilu 2004 yang hanya sekitar 7,6%, maka sekarang ini hampir 3 kalinya. PD berhasil melampaui 2 partai besar, yang memimpin pada tahun 2004, yaitu Golkar dan PDIP. PD hampir unggul di semua daerah pemilihan, hal ini membuktikan bahwa kemengan PD dalam pemilu legislatif kali ini adalah mutlak.
Keberhasilan PD kali ini, bisa dikatakan sebagai tanggapan positif dari masyarakat terhadap pemerintahan kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan juga kemampuan PD yang berhasil meyakinkan masyarakat bahwa kesuksesan pemerintahan adalah keberhasilan dari PD semata. Bukan bermaksud menafikan kedekatan caleg-nya dengan masyarakatnya atau pun kekuatan partainya, tapi melihat karakteristik umum masyarakat Indonesia, yaitu melihat tokoh atau figur, maka bisa saya katakan 80% kemenangan PD kali ini, dipegang oleh Susilo Bambang Yudhoyono.
Gerindra dan Hanura
Fenomena PKS dan PD pada tahun 2004 sebagai partai yang melejit, dari tataran partai kecil menjadi partai menengah, kembali terulang pada 2 partai lain pada pemilu 2009 kali ini, yakni Gerindra dan Hanura. Sekalipun tidak sesignifikan PKS dan PD pada tahun 2004, yang mendapat 7% lebih. Namun tetap saja fenomenal, karena menurut saya, ketokohan 2 pimpinan partai ini, yakni Prabowo Subianto dan Wiranto adalah tokoh-tokoh yang mampu menandingi ketokohan Susilo Bambang Yudhoyono. Dan juga hal ini membuktikan eksistensi Gerindra dan Hanura sebagai partai baru, tapi memiliki mesin politik dan kader yang cukup kuat.
Pada pemilu 2009 kali ini, ada sistem parlementary tresshold, yakni sistem dimana yang memberlakuakan bahwa parpol harus melebihi perolehan 2.5%, untuk bisa mengirimkan caleg-nya ke gedung DPR-MPR. Dan luar biasanya Gerindra dan Hanura, sebagai partai baru mereka, bisa mengungguli 17 partai lama, yang perolehannya dibawah 2.5%. Dengan sistem parlementary tresshold ini juga memungkinkan perolehan Gerindra dan Hanura meningkat saat dikonversi menjadi kursi di DPR.
Partai Islam
Jika melihat penjumlahan 3 partai islam 10 besar, yakni PKS, PKB dan PPP, serta partai Islam yang dibawah peringkat 10 besar, seperti PBB dan juga PKNU, maka perolehan partai Islam sekitar 21% lebih. Yang ingin saya cermati disini adalah bahwa keprcayaan masyarakat terhadap partai-partai Islam bahkan jauh lebih besar dari kepercayaan masyarakat terhadap kesuksesan pemerintahan 2004-2009 yang direpresentasikan oleh kemenangan PD. Hal ini yang harusnya bisa diperhatikan oleh para pemimpin partai Islam tersebut, bahwa kemengangan umat Islam bisa terwujud bila Islam bersatu.
Sedangkan secara umum hasil pemilu legislatif 2009 kali ini, menurut saya membuktikan 1 hal, yaitu kecenderungan masyarakat Indonesia untuk memilih adalah berorientasi pada partai-partai besar yang sudah menokoh dan mungkin memiliki idealisme tertentu. Sehingga partai-partai kecil yang kurang menokoh akan tersingkir juga, lebih lagi sekarang setelah ada sistem parlementary tresshold, yang akan membuang partai yang pencapaiannya dibawah 2.5%.
Sehingga saran dan prediksi saya mungkin, ditahun-tahun mendatang partai politik di Indonesia jumlahnya di bawah 10, yang membedakan hanya idealisme yang dipegang partai tersebut, tidak seperti sekarang, hampir tidak bisa dibedakan idealisme yang satu dengan yang lain. Mungkin juga 9 partai yang lolos parlementary tresshold sekarang itu adalah partai-partai Indonesia mendatang.
Wallahu’alam…
Perempuan Setara April 2, 2009
Posted by panji prabowo in Dari media, Tulisan Lepas.Tags: Sejarah, [Islam]
add a comment
Oleh: KH. A. Mustofa Bisri*
Sang Pemimpin gundah gulana. Gosip kejam itu telah menguasai seluruh kota. Istri sang pemimpin digosipkan “ada main” dengan salah seorang anak buahnya. Istri yang digosipkan itu adalah perempuan muda yang sangat ia cintai dan
sangat mencintainya, anak sahabatnya yang sangat ia cintai pula.
Karena tidak ada bukti maupun saksi, sang pemimpin hanya dapat meminta pendapat para tokoh-tokoh pembantunya mengenai kebenaran dan tidaknya gosip tersebut. Payahnya, beberapa tokoh yang dimintai pendapat, ada yang tampak membenarkan meski banyak yang terang-terangan menolak dan memustahilkan. Bahkan pro dan kontra tentang masalah ini nyaris menimbulkan fitnah.
Sang pemimpin (Rasulullah, Nabi Muhammad SAW) akhirnya menemui sang istri yang sudah beberapa hari, atas permintaannya, berada di kediaman kedua orangtuanya. Sang istri (sayyidatina Aisyah r.a.) yang sudah dua hari dua malam tidak tidur itu sedang ditunggui kedua orangtuanya (sayyidina Abu Bakar Shiddiq dan Ummu Ruman), saat sang pemimpin masuk dan duduk di dekat pembaringan.
“Aisyah, aku mendengar suara-suara begini-begitu tentang dirimu;” sabda Rasulullah kemudian, “apabila kamu tidak bersalah, Allah akan menyatakan kamu tidak bersalah. Bila ternyata kamu melakukan dosa, beristighfarlah kepada Allah dan bertaubatlah. Hamba apabila mengaku salah dan bertaubat, Allah akan menerima taubatnya.”
Mendengar sabda sang suami tercinta itu, sayyidatina Aisyah-yang selama ini terus menangis-seketika airmatanya terhenti dan berkata ditujukan kepada kedua orangtuanya, “Kalian jawablah Rasulullah.” Kedua orangtuanya menjawab, “Demi Allah, kami tidak tahu harus berkata apa.”
Sayyidatina Aisyah, sang istri belia itu pun berkata dengan tegarnya: “Sesungguhnya, saya tahu kalian semua telah mendengar omongan gosip ini, sehingga sudah tertanam dalam diri kalian dan kalian telah mempercayainya.
Kalau pun saya mengatakan kepada kalian bahwa saya tidak bersalah, kalian tidak akan mempercayai saya. Sebaliknya, bila saya mengakui perbuatan yang Allah tahu semata bahwa saya tidak melakukannya, kalian pasti
mempercayainya. Demi Allah, saya tidak menemukan contoh untuk kalian kecuali ayahnya Nabi Yusuf ketika berkata, Fashobrun jamiil wallaahul must’aanu ‘alaa maa tashifuun (Kesabaran yang baiklah pilihanku dan Allah sajalah
tempat memohon pertolongan terhadap apa yang kalian ceritakan).” (Bacalah kisah menarik yang menjadi sebab turunnya ayat 4 dan seterusnya di surah 24. al- Nur antara lain di kitab Nurul Yaqin oleh Syeikh Muhammad Khudhari Bek).
Menyimak kata-kata sayyidatina ‘Aisyah di hadapan tokoh-tokoh agung – Rasulullah SAW dan shahabat Abu Bakar Shiddiq sekalian-itu mungkin orang tidak mengira bahwa ketika itu usianya baru belasan tahun. Sayyidatina
Aisyah sepertinya memang disiapkan Allah menjadi contoh perempuan pendekar. Apabila Rasulullah SAW diasuh dan dididik langsung oleh Allah, maka sayyidatina Aisyah diasuh dan dididik langsung oleh Rasulullah SAW.
Maka, tidak heran bila dalam sejarah Islam, sayyidatina Aisyah yang lahir 8 tahun sebelum hijrah dan wafat tahun 58 H, dikenal sebagai perempuan paling alim. Menguasai ilmu-ilmu agama dan kesusastraan, bahkan ketabiban. Guru
dari banyak tokoh-tokoh ulama dan mufti yang menjawab masalah-masalah keagamaan dan kehidupan yang diajukan. Ia dianggap perempuan yang paling mengetahui tentang al-Quran dan Sunnah Rasul SAW; di samping penyebar
ilmu-ilmu agama terkemuka.
Sayyidatina Aisyah pun boleh dikata menjadi-atau tepatnya mungkin: dijadikan Allah-simbol penolakan terhadap stigma bahwa perempuan adalah kaum lemah, konco wingking yang hanya swarga nunut neraka katut. Ia merupakan bantahan telak terhadap opini bahwa yang hebat hanya laki-laki. Tanpa menuntut kesetaraan dengan kaum laki-laki, sayyidatina Aisyah telah menunjukkan kesataraan.
Di negeri kita sendiri, (dulu) banyak Muslimah yang mengikuti jejak sayyidatina Aisyah. Tanpa menggembar-gemborkan kesetaraan gender, mereka berbuat dan berkhidmah setara dengan kaum laki-laki. Sekedar contoh, Ibu Nyai Nur Chodijah yang merintis pondok pesantren puteri di Denanyar Jombang dan Ibu Rahmah Al-Yunusiyah di Sumatra Barat. Ibu Nyai Fatimah, Nyai Mahmudah Mawardi, Nyai Khairiyah Hasyim, dan Nyai Nuri Maksum yang mengajar santri-santri laiknya kyai-kyai. Nyai Sholichah Munawwarah aktivis sosial
yang tidak kalah gigih dari aktivis laki-laki.
Raden Ajeng Kartini, yang pernah ngaji dan berguru kepada Mbah Kyai Saleh Darat dan diperingati hari lahirnya tanggal 21 April, saya kira juga tidak hanya menuntut kesetaraan. Tapi, mengajak kaumnya untuk mensetarakan diri
dengan ilmu pengetahuan dan pencerdasan.
- Penulis adalah pemimpin Pondok Pesantren Roudhotut Thalibin, Rembang.

