Da’wah Bil Hikmah December 24, 2008
Posted by panji prabowo in Dari media, Tulisan Lepas.Tags: Dakwah, [Islam]
add a comment
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk,” (QS An-Nahl [16]: 125).
Kewajiban dakwah ada pada setiap pundak umat Islam tanpa terkecuali. Umat Islam, sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya, dituntut untuk melakukan dakwah di mana pun ia berada. Dakwah tidak hanya terbatas di atas mimbar masjid. Di sekolah, pasar, terminal dan semua tempat adalah medan dakwah.Seorang guru berdakwah mengajak para muridnya hidup di jalan Allah Swt. Seorang pedagang bisa berdakwah dengan menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam berdagang. Seorang pejabat bisa berdakwah dengan menerapkan nilai dan moral Islam dalam mengelola negara dan menghimbau masyarakat untuk mentaati norma-norma agama. Pendek kata, semua orang bisa berdakwah sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya.
Dalam al-Quran banyak ayat yang berkaitan dengan dakwah, baik menyangkut materi, metodologi, subjek maupun objeknya. Secara bahasa, dakwah berarti memanggil, mengajak, atau menyeru. Menurut Muhammad al-Wakil dalam Ushuhlu ad-Dakwah Waadabu ad-Duat, dakwah artinya “mengumpulkan manusia dalam kebaikan dan menunjukan mereka kepada jalan yang benar dengan cara amar ma’ruf nahi munkar.” Sandaran dari pendapat ii merujuk pada firman Allah Swt yang berbunyi, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung,” (QS Ali Imran [3]: 104).
Ayat tersebut merupakan landasan umum mengenai dakwah: amar ma’ruf nahi munkar. Tak diragukan lagi bahwa ajaran tentang dakwah merupakan bagian integral agama Islam. Di samping tuntutan agar hidup secara Islami, kita juga dituntut untuk menyebarkan ajaran Islam kepada seluruh manusia. Dalam praktiknya, dakwah seringkali menghadapi hambatan atau tantangan bahkan kegagalan. Kendala-kendala itu sebenarnya bukan karena materi atau substansinya, tetapi karena metode atau caranya yang kurang tepat. Tidak sedikit substansi dakwahnya bermutu, karena tidak tepat cara penyampaiannya, menjadi sulit dimengerti atau ditolak oleh umat.
Metode Dakwah
Pepatah arab menyatakan “ath-thariqatu ahammu min al-maddah” (cara atau metode penyampaian lebih penting dari subtansi yang disampaikan). Kata mutiara ini mengajarkan bahwa metode atau cara dalam menyampaikan sesuatu lebih penting dari substansi yang disampaikan. Misalnya, dakwah dalam bentuk nasihat yang baik jika disampaikan dengan perkataan yang menyakitkan hati atau menyinggung harga diri cenderung akan ditolak. Alih-alih menyadarkan seseorang akan kesalahan yang dilakukannya, nasihat yang disampaikan dengan perkataan yang menyakitkan akan menimbulkan perasaan tidak senang, bahkan menimbulkan sikap bermusuhan.
Begitu juga dengan penggunaan kekerasan dalam dakwah. Metode ini tidak akan mencapai tujuan dakwah. Bahkan penggunaan kekerasan dalam berdakwah kontraproduktif bagi tercapainya tujuan dakwah. Medote kekerasan dalam berdakwah bukannya membuat masyarakat semakin bersimpati terhadap Islam, tapi malah membuat masyarakat takut pada Islam (islamophobia) dan menjauhi Islam. Islam pun dianggap sebagai agama yang menakutkan karena selalu mengandalkan jalan kekerasan.
Karena itu, sikap lemah-lembutlah yang semestinya dikedepankan oleh para dai dan muballigh dalam berdakwah. Jika para dai dan muballigh berdakwah dengan cara yang kasar, maka mereka akan dijauhi oleh masyarakat. Para dai dan muballigh seharusnya menghiasi diri mereka dengan keramahan, bersabar dari derita serta berkata-kata dengan lemah-lembut di mana saja sehingga dapat menambah orang yang mengikuti kebaikan dan menipiskan pelaku kejahatan, lalu orang-orang mendapatkan manfaat dari dakwah tersebut dan menerimanya.
Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw menghimbau umat Islam untuk senantiasa berlaku lemah-lembut dalam hal apa saja karena kebajikan diharamkan bagi orang yang tidak memiliki sifat lemah-lembut. Sabda Rasulullah Saw, “Barang siapa yang tidak memiliki kelemah-lembutan, maka diharamkan seluruh kebaikan bagi dirinya,”(HR Imam Muslim).
Akhlak Karimah
Dalam sebuah ayat Allah Swt berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.,” (QS An-Nahl [16]: 125).
Ayat ini menunjukkan tiga cara dalam berdakwah: hikmah, nasihat yang baik, dan dialog dengan cara yang baik pula. Berdakwah dengan hikmah, artinya dakwah dengan “contoh yang baik”, di dalamnya bisa tingkah laku atau tutur kata yang baik. Jika tingkah laku dan tutur kata itu diteladani, bisa menyentuh dan mengubah sikap orang lain, berarti di dalam terdapat hikmah.
Dakwah dengan hikmah jauh lebih efektif; tantangannya sedikit, tetapi dampaknya sangat besar. Kebanyakan orang lebih senang meneladani suatu kebajikan atas dasar kesadaran diri daripada dipaksa orang lain. Biarlah masyarakat melihat, menghayati, dan mengikuti prilaku baik itu.
Dakwah bil al-hikmah atau contoh yang baik bisa direalisasikan dengan budi pekerti yang baik (akhlak karimah). Kekuatan akhlak mulia dalam menarik simpati masyarakat untuk menerima dakwah sangatlah besar. Telah banyak bukti sejarah yang membenarkan hal itu, mulai sejak zaman Rasulullah Saw hingga zaman ini.
Kita ingat bagaimana Rasulullah Saw tidak marah saat seorang kaum musyrik meludahi beliau setiap pergi ke masjid. Suatu hari, ketika Rasulullah Saw pergi ke masjid, beliau merasakan keanehan karena orang yang setiap saat meludahi beliau setiap akan pergi ke masjid tidak ada. Sesampainya di masjid Rasulullah Saw menanyakan kepada para sahabat di mana orang itu berada. Lalu Rasulullah Saw memperoleh jawaban bahwa orang yang meludahi beliau jatuh sakit. Setelah mendengar jawaban itu, Rasulullah datang membesuk orang tersebut dan mendoakan kesembuhan baginya. Akhirnya, orang tersebut kemudian menyatakan diri sebagai Muslim.
Contoh lain keluhuran perilaku Rasulullah adalah kisah seorang pengemis Yahudi buta di pojok pasar Madinah yang selalu menjelek-jelekkan Rasulullah Saw. Setelah Rasulllah Saw meninggal dunia, Abu Bakar ash-Shiddiq mengunjungi Aisyah, anaknya yang juga isteri Rasulullah Saw. Sesampainya di rumah Aisyah, Abu Bakar bertanya kepada anaknya apa sunnah Rasulullah yang belum dikerjakan olehnya. Aisyah menjawab bahwa Rasulullah Saw setiap memberi makan pengemis Yahudi buta di pasar Madinah.
Abu Bakar pun bergegas menuju pasar Madinah menemui orang Yahudi tersebut yang tak henti-hentinya menjelek-jelekkan Rasulullah Saw. Namun, karena ingin mengukuti sunnah Rasulullah Saw, Abu Bakar tetap memberi makan Yahudi buta tersebut dengan cara menyuapinya. Namun alangkah kaget Abu Bakar karena saat menyuapi Yahudi tersebut berkata, “Siapa kamu? Orang yang biasa menyuapiku makan tiap hari terlebih dahulu melembutkan makanan sehingga mulutku tidak perlu mengunyah makanan”.
Kemudian Abu Bakar berkata kepada pengemis Yahudi buta itu bahwa orang yang bisa memberinya makan tiap hari telah tiada. Abu Bakar juga mengatakan bahwa orang yang biasa memberinya makan tiap hari adalah Rasulullah Saw. Betapa terkejut Yahudinya tersebut mengetahui bahwa orang yang menyuapinya adalah Rasulullah Saw; orang yang setiap hari dijelek-jelekkannya. Akhirnya pengemis Yahudi buta itu masuk Islam.
Dua peristiwa di atas adalah sekelumit contoh bagaimana ampuhnya akhlak mulia menarik minat seseorang untuk hidup di bawah naungan ajaran Islam. Karena itu, dakwah bi al-hikmah patut dikedepankan sebagai metode dakwah. Wallahu a’lamu bis shawab
Memaknai Ujian December 23, 2008
Posted by panji prabowo in Tulisan Lepas.Tags: Dakwah, taujih, [Islam]
add a comment
Ba’da tahmid dan shalawat
Saudaraku, Sesungguhnya ujian dalam kehidupan adalah sebuah keniscayaan, Allah berfirman dalam AlQrur’an surat Al Baqarah ayar 214 :
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.
Ujian kehidupan tidak seperti ujian yang sering kita hadapi bersama di kelas-kelas, yang dapat diprediksi, dapat diduga, bahkan diberitahu waktu dan bahannya. Ujian kehidipan tidak diberitahu kapan datangnya dan apa bahannya, unpredictable. Yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, maka ketika ‘soal’ uijan itu datang, apa pun itu, kita bisa menghadapinya.
Kesengsaraan dan malapetaka adalah salah satu ujian dari Allah, maka kuatkanlah diri. Bentuk pribadi yang tangguh dan sabar dalam menyikapinya. Yakinkan dalam hati bahwa pertolongan Allah itu dekat, maka berusahalah untuk menggapainya yaitu dengan mendekatkan diri pada Allah.
Bentuk ujian yang lain adalah berupa kesenangan, sepert yang difirmankan Allah dalam surat Al-Imran ayat 14 :
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
Ujian kesenangan kadang justru lebih berbahaya dari ujian kesengsaraan, karena melenakan, karena sering membuat lupa, karena malah mengikis iman. Karena itu, kuatkanlah yakinkanlah bahwa semua yang kita peroleh merupakan titipan Allah semata tak ada yang kita dapatkan sendiri, tidak ada yang hasil usaha kita sendiri, semuanya adalah atas izin Allah SWT.
Saudaraku, Allah akan memberikan ganjaran yang sebesar-besarnya dan derajat yang setinggi-tingginya bagi mereka yang sabar dan lulus dalam ujian kehidupan ini. Tentunya ujian tidaklah pernah mudah, karena ujian yang mudah tak mungkin pulan akan mendapatkan ganjaran yang hebat. Usaha yang kuat untuk hasil yang besar. Di sinilah letak hikmah sebuah ujian, yakni kita harus tetap bersabar dalam menjalani ujian kehidupan ini, baik diuji dengan kesengsaraan maupun dengan kesenangan, demi menggapai jannah-Nya.
dia telah pergi December 21, 2008
Posted by panji prabowo in Ceritaku.Tags: Diri, Keluarga
1 comment so far

“Asw…mas,mengko mati k’tabrak mbl td sore!!
Baca sms dari adikku ini, langsung hilang moodku, tadi mw makan sambil nonton fly me to the moon malah jadi tidur-tiduran ga penting. Sedih banget.
Kucingku yang ini namanya mengkokomeng felix alexander II. walaupun bukan yang paling lucu, tp dy paling manja..selalu yang nyapa aku paling dulu, dipintu kalo aku pulang ke jakarta, ngikuti aku terus di rumah, kayak dy “kangen lho,kok jarang pulang sih” T.T
Hmm..sedih bgt, karena wktu kutanya adikku, ternyata dy udh langsung dikubur, jadi ga sempet liat lagi.
Huuhuuhuu…Selamat tinggal mengko…
Antara Pemimpin dan Manajer December 17, 2008
Posted by panji prabowo in Gamais, Tulisan Lepas.Tags: Dakwah, Diri
add a comment
Dalam artian kata kerja, memimpin dan memanajemen tidaklah sama, memimpin berarti mengarahkan sedangkan manajemen berarti mengatur, maka fungsi pemimpin dan manajer pun berbeda. Jika dikatakan pemimpinlah yang melihat dari langit, maka manajerlah yang menapakkan kakinya di bumi. Jika dikatakan pemimpin adalah penentu visi dan tujuan, maka manajer lah yang membuat misi dan strategi. Jika seorang pemimpin adalah orang yang melihat kesempatan dan membuat kebijakan, maka manajer adalah orang yang melihat visibilitas dan berupaya agar kebijakan itu berjalan.
Dalam konteks pelaksanaan kebijakan atau kegiatan sebuah organisasi, pembagian peran antara pemimpin dan manajer setidaknya meliputi empat hal:
Creating Agenda – Membuat agenda
Pada tahap pembuatan agenda atau perencanaan agenda atau produk kegiatan, pemimpin berperan dalam membentuk mimpi bersama dan memberi arahan capaian besarnya, sehingga para bawahan atau staff memiliki gambaran arah dan tujuan yang akan dicapai. Sedangkan manajer, berperan sebagai perencana langkah atau strategi, membuat timeline kerja dan rencana anggaran, sehingga visibilitas agenda tersebut dapat dilihat dan mampu dicapai secara sistemik.
Developing Resources for Achieving Agenda – Mengembangkan Sumber Daya untuk Menwujudkan Agenda
Pada tahapan ini, pemimpin berperan dalam hal komunikasi dan fasilitasi, artinya pemimpin berperan sebagai pemersatu dan pemererat ikatan tujuan dan kebersamaan antar anggotanya. Sedangkan peran manajer adalah organizing resource dan establishing system. Pengorganisasian sumber daya terkait dua hal; pertama adalah staffing, melihat kesesuaian kapasitas staf dengan tugas yang akan didelegasiakan; kedua adalah resource, melihat kebutuhan agenda akan sumber daya terkait dana dan jaringan. Menetapkan sistem berarti menyiapkan sistem yang paling sesuai untuk pemenuhan tujuan dari kegiatan tersebut dan juga mengantisipasi kontingensi atau ketidakpastian yang akan terjadi.
Execution – Pelaksanaan
Tahapan ini adalah tahap puncak dari sebuah agenda, maka tidak jarang bawahan dan staff telah kehilangan semangat dan tujuan, kerena itu pemimpin harus bertugas untuk memotivasi, mendukung, dan menginspirasi para bawahannya, agar tetap memiliki mimpi bersama yang harus diwujudkan. If your actions inspire others to dream more, learn more, do more, and become more you are a leader (John Quincy Adams). Sedangkan manajer harus memegang fungsi controlling, pengontrol agar pelaksanaan kegiatan tetap berjalan sesuai dengan planning dan menuju capaian, dan problem solving,artinya mengantisipasi dan menyelesaikan masalah yang timbul yang menjauhkan dari tujuan, pada saat pelaksanaan agenda. Pelaksanaan adalah tahapan yang paling esensial dari sebuah program, sehingga masing-masing, pemimpin dan manajer harus menjalankan perannya dengan sangat baik.
Outcome – Hasil atau Capaian
Pada tataran hasil, pemimpin harus bisa melihat ketercapaian tujuan, sehingga bisa memberikan penghargaan terhadap kerja dan kinerja para staff-nya. Pemimpin juga harus mampi mengevaluasi kegiatan, sehingga bisa menghasilkan mimpi atau ide baru untuk mengatasi kekurangan, bisa berupa produk baru. Manajer berperan untuk menindaklanjuti hasil yang telah dicapai dan juga memproduksi atau menjalankan kegiatan lagi dengan hasil yang lebih baik secara konsisten.
Dalam tataran praktiknya sering kali peran-peran di atas sering dilakukan secara tumpang tindih, sehingga tidak dipungkiri hasil yang dihasilkan sering jauh dari yang ditargetkan. Menjadi sebuah solusi adalah kemampuan manajerial dan kepemimpinan dimiliki oleh pemimpin sekaligus. Managerial Leadership,memilik kemapuan dalam mempengaruhi, memberdayakan dan mengontrol, memberikan motivasi dan dukungan, mengevaluasi dan menginspirasi, sehingga dengan ini permasalahan yang akan timbul bisa diantisipasi dan disolusikan dengan baik.
Rainy day make me smiles December 16, 2008
Posted by panji prabowo in Ceritaku.Tags: Diri
1 comment so far
Bandung memang luar biasa sepanjang tahun memang dingin dan lembab, tapi di musim penghujan hujan bisa terus menerus turun sepanjang hari sehingga dinginnya menjadi-jadi. Seperti sore kemarin, yang kutebak langit akan terus menurunkan airnya ke bumi parahiyangan ini sepanjang malam. Ternyata benar, karena pagi ini juga masih hujan. Dan karena memang harus menempel-nempel poster open recruitment kader gamais, maka subuh-subuh,hujan-hujan,dingin-dingin harus melarikan diri dari pergulatan dengan selimut dan bantal.tunggu saja!!kalian akan kudatangi lagi,jangan melarikan diri dulu…
Hujan memang tidak menyenangkan,karena aktivitas banyak yang terlambat dijalankan, akibat mobilitas yang terhambat. Sudah begitu dingin dan becek lagi, air hujan kalo nyentuh kulit, Beeehh..dinginnya minta ampun. Bikin repot dijalan karena beceknya. Ada payung sih, tapi anginnya juga kenceng, jadi percuma juga, tetap basah.
Dan yang paling tidak menyenangkan dari hujan adalah unpredictable, pernah suatu kali, pulang dari bandung selatan, tanpa diuga, ditengah hari yang cerah tiba-tiba hujan. Kontan kuminta temanku yang memboncengku untuk ngebut. Ngebut her, kita cari daerah batas hujannya. Karena ada satu teoriku bahwa hujan itu tidak mungkin terjadi secara serta merta di semua tempat. Diakibatkan karena awan pembawa molekul-moleku airnya tidak mungkin berada di semua tempat secara bersamaan, kalaupun begitu tapi tidak mungkin kepekatan awan dan kelembaban udaranya bisa rata di semua tempat. Jadi itulah dasar teoriku. Dengan melihat arah angin dan gerak awan,yang bergerak berlawanan dengan arah yang kami tuju, aku yakin daerah batas hujan itu, tidak jauh di depan.
Akhirnya sampai celana panjang ini basah, yang tak bisa kukenali apakah akibat siraman hujan atau cipratan dari kubangan air yang dilindas oleh kendaraan yang mendahului kami, daerah batas hujan itu tak jua tampak. Dan awan hitam makin pekat di atas kami.
Jadi wassalam untuk teoriku yang satu itu, karena eksperimen nyata telah membantahnya. Tapi kini,pagi ini aku punya teori lain tentang hujan, yaitu rintik hujan yang turun ke bumi memiliki pola tertentu, yang pastinya bisa dimodelkan secara matematis. Sehingga bila bisa memecahkan pola itu, maka aku bisa berjalan di tengah hujan, tanpa perlu kebasahan sedikitpun hahaha8x.. tapi kegagalan teoriku sebelumnya, telah memberiku ide untuk bereksperimen,untuk membuktikan teori ini. Entah faktor kelembaban udara, entah kepekatan awan, entah kecepatan angin, entah faktor lain apapun itu, tapi harus kueksperimenkan, walaupun dalam bayanganku jik aku menemukan pola itu, maka untuk menjalakannya aku harus mempunyai kecepatan cahaya. Itu urusan belakangan, yang penting ini dulu Tapi setidaknya ide ini, membuatku tersenyum menunggu hujan.

