Memanfaatkan Momentum December 29, 2007
Posted by panji prabowo in Tulisan Lepas.Tags: Dakwah, [Islam]
add a comment
Perubahan adalah side effect dari sebuah momentum. Artinya sebuah momentum akan mengakibatkan perubahan. Yang kadang berujung pada kebaikan kadang pula sebaliknya.
Mari sejenak kita lihat peristiwa atau momentum kalahnya jepang oleh pasukan sekutu pada tahun 1945, hal ini mengakibatkan perubahan status Indonesia dari negara terjajah menjadi negara merdeka. Stop sampai di sini. Apakah hal tersebut terjadi secara serta merta? Tidak, harus ada seseorang yang melihat dan menyadari sebuah peristiwa atau momentum adalah sebuah kesempatan dan memanfaatkan kesempatan menjadi itu menjadi gaya pendukung. Dalam hal ini Soekarno dan pemikir intelek pada masa itu, berhasil melakukannya, sehingga akhirnya membawa bangsa ini kepada kemerdekaan.
Kemampuan melihat momentum sebagai kesempatan dan memanfaatkannya sebagai gaya positif. Kemampuan tersebutlah yang harus diadaptasi gerakan dakwah dan harus terinternalisasi ke setiap kadernya. Karena pada hakikatnya fungsi gerakan dakwah adalah ‘menerjemahkan nilai-nilai ke dunia fakta’-Anis matta-, tentunya nilai islam tidaklah bertentangan dengan realisasinya. Kita harus yakin akan hal ini karena islam adalah rahmatan lil alamin.
Jika kita dapat melihat momentum yang tepat dan mensinergiskan dengan nilai-nilai Islam yang akan diangkat, tentu proses penerjemahannya atau kadar keberterimaannya kepada objek dan sasaran dakwah kita akan optimal.
Untuk membentuk kemampuan tersebut, setiap kader dakwah harus mampu berpikir kritis terhadap permasalahan dan peristiwa yang terjadi; kemudian mampu melihatnya tidak hanya dari satu sisi, tapi dari berbagai sisi; lalu menganalisanya menjadi satu kesimpulan induktif; kemudian merumuskannya kedalam gagasan yang terintegrasi ke dalam risalah kebenaran; yang terakhir adalah membawa gagasan tersebut ketataran realita.
Hal ini sangatlah penting, karena apabila bukan dari seseorang sisi kita yang mampu melihat dan menyadari momentum adalah kesempatan dan mampu memanfaatkan kesempatan itu menjadi gaya pendukung untuk mengangkat nilai-nilai kebenaran, maka seseorang dari sisi lain akan siap melakukannya, dan nilai yang diangkat pun sebaliknya.
wallahua’lam
5 Bola Kehidupan December 23, 2007
Posted by panji prabowo in Dari media, Tulisan Lepas.Tags: Renungan, [Islam]
1 comment so far
Bayangkan hidup sebagai suatu permainan ketangkasan dimana kita harus memainkan keseimbangan 5 buah bola yang dilempar ke udara.
Bola-bola tersebut bernama : Pekerjaan, Keluarga, Kesehatan, Teman dan Spirit dan kita harus menjaga agar ke-5 bola ini seimbang di udara.
Kita akan segera mengerti bahwa ternyata “Pekerjaan” hanyalah sebuah bola karet. Jika kita menjatuhkannya maka ia akan dapat memantul kembali.
Tetapi empat bola lainnya yaitu Keluarga, Kesehatan, Teman dan Spirit terbuat dari gelas. Dan jika kita menjatuhkan salah satunya maka ia akan dapat terluka, tertandai, tergores, rusak atau bahkan hancur berkeping-keping.
Dan ingatlah mereka tidak akan pernah kembali seperti aslinya. Kita harus memahaminya benar dan berusaha keras untuk menyeimbangkannya
Bagaimana caranya?
- Jangan rusak nilai kita dengan membandingkannya dengan nilai orang lain. Perbedaan yang ada diciptakan untuk membuat masing-masing diri kita special.
- Jangan menganggap remeh sesuatu yang dekat di hati kita, melekatlah padanya seakan-akan ia adalah bagian yang membuat kita hidup, dimana tanpanya, hidup menjadi kurang berarti
- Jangan biarkan hidup kita terpuruk di ‘masa lampau’ atau dalam mimpi masa depan. Satu hari hidup pada suatu waktu berarti hidup untuk seluruh waktu hidupmu.
- Jangan menyerah ketika masih ada sesuatu yang dapat kita berikan. Tidak ada yang benar-benar kalah sampai kita berhenti berusaha.
- Janganlah takut mengakui bahwa diri kita tidaklah sempurna. Ketidaksempurnaan inilah yang merupakan sulaman benang rapuh untuk mengikat kita satu sama lain.
- Jangan takut menghadapi resiko. Anggaplah resiko sebagai kesempatan kita untuk belajar bagaimana menjadi berani.
- Jangan berusaha untuk mengunci cinta dalam hidupmu dengan berkata “tidak mungkin saya temukan”. Cara tercepat untuk mendapatkan cinta adalah dengan memberinya, cara tercepat untuk kehilangan cinta adalah dengan menggenggamnya sekencang mungkin, dan cara terbaik untuk menjaga agar cinta tetap tumbuh adalah dengan memberinya ’sayap’.
- Jangan lupa bahwa kebutuhan emosi terbesar dari seseorang adalah kebutuhan untuk merasa dihargai.
- Jangan takut untuk belajar sesuatu. Ilmu pengetahuan adalah harta karun yang selalu dapat kita bawa kemanapun tanpa membebani.
Dan akhirnya :
MASA LALU adalah SEJARAH , MASA DEPAN merupakan MISTERI dan SAAT INI adalah KARUNIA. Itulah kenapa dalam bahasa Inggris SAAT INI disebut “The Present”.
Free your heart from hatred? Free your mind from worries. Live simply.? Give more. Expect less.
dikutip dari: http://www.dudung.net
UAS December 17, 2007
Posted by panji prabowo in Ceritaku.Tags: Kuliah
add a comment
UAS yang bertubi-tubi akhirnya datang juga..Teman2 mohon doanya…
Selasa, Probabilitas dan Statistik
penilaian dikelas ini, secara distribusi. jadi pasti bakal ada yang ga lulus. Denger dari tahun lalu, 1 kelas 30 org lulus, 31 org gagal.. tolong doanya…T.T
Rabu, Konversi Energi dan Sistem Logika Digital
Klo bisa konsentrasi ngerjainnya sih, lumayan, cuma waktu belajarnya aja yg agak sempit..
jadi teman2,klo kalian peduli dan sayang padaku..tolong doakan agar aku sukses di semua UAS ini, dan mendapatkan hasil yang terbaik..
Aamiiin
tentang sahabat December 16, 2007
Posted by panji prabowo in Tulisan Lepas.Tags: Renungan, Teman2
4 comments
Tentang sahabat
“Wa’alaikumussalam..
Ya..Jalan ini memang panjang dan melelahkan dan seolah semua persoalan menumpuk tak terselesaikan. Namun bukankah..
‘Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya’
Ini adalah kerja peradaban…”
Kubaca penggalan e-mail dari sahabatku ini, tersentak ku tersadar, alhamdulillah aku masih di jalan ini. Menyenangkan rasa bila melihat masih banyak orang-orang yang peduli dan berjuang di jalan Allah. Rasanya itu sudah lebih dari cukup untuk melenyapkan penatku.
Kita tidaklah sekuat yang kita banggakan, tak pernah sehebat prasangka kita sendiri, tak pernah setangguh bayang-bayang idealisme. Tak perlu sesumbar untuk memuji ketangguhan diri, karena sesungghunya hati ini sudah menolak untuk menerima hal itu. Hanya seonggok manusia kerdil yang begitu angkuh, yang menolak mempunyai sahabat untuk menemaninya walau sebatas doa.
Banyak orang yang bilang bahwa sahabat itu adalah orang yang saat kita terbang dia terbang bersama kita dan saat kita jatuh dia jatuh bersama kita. Atau dalam redaksi yang lebih baik saat kita tertawa dia tertawa dan saat kita menangis dia menangis. Tapi menurut saya, sahabat itu orang mengingatkan kita agar kita bersyukur saat kita bahagia dan mengingatkan kita agar bersabar saat kita bersedih. Kalau dua-duanya jatuh, siapa yang nolong siapa??
Kita bukanlah malaikat yang jauh dari kemaksiatan. Kita juga bukanlah Rasul yang terpelihara dari dosa. Dan yang pasti kita tidak ingin menjadi syaitan yang mengabdikan dirinya pada neraka. Kita manusia adalah malaikat bersayap satu, baru bisa terbang dengan gagah bila bersama. Dalam kebersamaan yang saling mengingatkan.
Kita butuh sahabat, kita butuh teman yang senantiasa mengingatkan kita. Bukannya tidak boleh berjalan sendiri, namun saat semakin derasnya hujan dan angin yang bertiup, bukankah kehadiran sahabat dapat lebih membantu memegangi payung yang nyaris terbawa angin?
“Ya..jalan ini panjang tapi syurga menunggu kita di ujungnya..
Tetap Semangat…Cayo..”
Amanah December 16, 2007
Posted by panji prabowo in Tulisan Lepas.Tags: Dakwah, [Islam]
add a comment
Amanah
Sekiranya seorang manusia dipanggil sebagai seorang penyapu sampah, dia harus menyapu sama sebagaimana Michelangelo melukis atau Beethoven memainkan muziknya, ataupun Shakespeare menulis puisinya. Dia harus menyapu dengan begitu baik sekali sehingga semua yang terdapat di syurga dan dunia akan berhenti dan berkata disinilah tempat tinggal seorang penyapu sampah yang paling hebat, yang telah melakukan kerjanya dengan baik sekali.
Dakwah adalah sebuah kapal layar, yang penggeraknya adalah tiupan semangat serta ‘aziimah;tekad para pelayarnya, yang tujuannya adalah kejayaan islam . Setiap manusia dalam kapal ini memiliki perannya tersendiri, ada yang menjadi kapten kapal, ada yang menjadi navigator, ada yang menjadi juru masak, ada yang menjadi penjaga buritan, dan sebagainya. Dan peran-peran tersebut harus tersinergiskan dalam sebuah hirarki yang baik.
Agar kapal layar itu tetap dapat berlayar dengan lancar, setiap orang harus menjalankan perannya dengan maksimal. Juru masak tentunya harus mengurus hal masak-memasak bukan menentukan arah kapal,yang menjadi tugas navigator, walaupun bukannya tidak mungkin juru masak tersebut juga mumpuni dalam hal tersebut. Tapi karena juru masak itu telah sadar betapa penting tugas memasak yang ia lakukan, sehingga ia melakukannya dengan maksimal.
Pada taraf tertentu peran dapat dipadankan dengan amanah. Dalam menjalankan amanah, kita pun harus profesional dan maksimal, walaupun mungkin sering terkesan kecil dan tak berarti. Tapi harap diingat apakah motor dengan mesin terhebat pun dapat berjalan tanpa ban?
Fenomena yang sering terjadi saat ini adalah ‘pilih-pilih’ amanah, sehingga apabila seseorang diberikan amanah yang tidak disukainya yang terjadi adalah amanah itu tidak dikerjakan dengan baik dan akhirnya terbengkalai. Dan apabila fenomena ini terjadi di strata yang lebih tinggi, akan berakibat fatal pada keberlangsungan dakwah ini.
Karena itu agar dapat menjalankan amanah dengan maksimal, yang perlu dihadirkan adalah pemahaman tentang urgensi amanah tersebut, kemudian diperlukan sikap ikhlas dalam menjalankan amanah tersebut. Lalu buang jauh-jauh pikiran bahwa amanah yang kita emban adalah amanah yang kecil dan tak berarti. Dan yang paling penting adalah kemampuan para qiyadah untuk melihat potensi dan kapasitas jundinya agar amanah dapat terdistribusi dengan tepat. The right man in the right place.
Wallaahu a’lam.
**

