Saya sama istri suka jajan martabak. Salah satu langganan kami itu “Martabak Sabar Menanti” di daerah ujung berung bandung. Persis disebrang pom bensin ujung berung, samping bank mandiri. Recommended.

Mengenai kulinernya pernah saya bahas di twitter dulu. Kali ini sy mau bahas dari sisi bisnisnya.

Nah ceritanya tadi sambil nunggu (kaitkan dg namanya “sabar menanti”), sy ngobrol2 sama si mamangnya. Dan luar biasa. Rata-rata sehari dia bisa jual 70 kotak. Minimal 60 kotak. Harga martabak disitu bervariasi antara 15-28ribu.

Saya coba hitung ambil yg plg murah aja
Omset harian : 15ribu x 70kotak = 1,05juta
Omset bulanan (30hari) : 1,05juta x 30hr = 31,5juta

Si mamang ga itung gaji karyawan krn yg ngerjain dia sendiri, kadang2 dibantu istrinya atau anaknya yang masih SD. Jadi pengeluaran cuma untuk alat+bahan+jatahpreman aja, hitung besar aja anggap 75%.

Jadi sebulan si mamang bisa dapet ±8juta. Itu baru itungan minimalis banget (ambil yg paling murah n operasional digedein). Itungan realnya bisa lebih gede lagi kayaknya. Dan waktu kerjanya cuma 5 jam sehari (17-22).

Yang masih dibawah itu. Ancang2 pindah profesi jadi tkg martabak ajah deh. Padahal sendirinya juga.. Hehe..


16 Mei 1998. Tiba-tiba kelas dibubarkan, dan para murid dipulangkan. Yang saya ingat cuma langit waktu itu gelap, bukan mendung, tapi gelap karena asap. Orang-orang bilang kerusuhan.

Waktu SD itu saya biasa pulang sama sepupu yang kelasnya diatas saya 1 tingkat. Biasa kami dijemput, cuma karena karena dipulangkan mendadak, jadi tidak ada yang jemput.

Jarak SD ke rumah dipikir-pikir pun tak terlalu jauh, cuma 2-3 KM paling. Jadilah kami berjalan. Cuma jalanan sepi, ruko-ruko pinggir jalan tutup semua. Tembok dan pintu-pintunya dipilox besar-besar dengan tulisan “MILIK PRIBUMI”. Walau waktu itu saya belum paham-paham banget apa maksudnya, tapi tetap saja terasa mencekam. Continue reading ‘16 Mei 1998-Ingatan Menolak Lupa’


bung karno

“JANGAN DENGARKAN ORANG ASING”
Itulah yang diucapkan Bung Karno di tahun 1957 saat ia mulai melakukan aksi atas politik kedaulatan modal. Aksi kedaulatan modal adalah sebuah bentuk politik baru yang ditawarkan Sukarno sebagai alternatif ekonomi dunia yang saling menghormati, sebuah dunia yang saling menyadari keberadaan masing-masing, sebuah dunia co-operasi, “Elu ada, gue ada” kata Bung Karno saat berpidato dengan dialek betawi di depan para mahasiswa sepulangnya dari Amerika Serikat.

Pada tahun 1957, perlombaan pengaruh kekuasaan meningkat antara Sovjet Uni dan Amerika Serikat, Sovjet Uni sudah berani masuk ke Asia pasca meninggalnya Stalin, sementara Mao sudah ambil ancang-ancang untuk menguasai seluruh wilayah perbatasan Sovjet Uni dengan RRC di utara Peking. Bung Karno sudah menebak Amerika Serikat dan Sovjet Uni pasti akan rebutan Asia Tenggara. “Dulu Jepang ngebom Pearl Harbour itu tujuannya untuk menguasai Tarakan, untuk menguasai sumber-sumber minyak, jadi sejak lama Indonesia akan jadi pertaruhan untuk penguasaan di wilayah Asia Pasifik, kemerdekaan Indonesia bukan saja soal kemerdekaan politiek, tapi soal bagaimana menjadiken manusia yang didalamnya hidup terhormat dan terjamin kesejahteraannya” kata Bung Karno saat menerima beberapa pembantunya sesaat setelah pengunduran Hatta menjadi Wakil Presiden RI tahun 1956.  Continue reading ‘Cita – Cita Bung Karno Tentang Minyak Indonesia Sangat Mulia’


Media Oh Media

11May13

Sebagai orang yang bergerak di bidang media, perlu ada satu hal yang saya beri tahu, bahwa media itu seni sekaligus bisnis.

Kita perlu trafik, jadi iklan mau bayar mahal. Ini bisnis. Kalau ada konten yang menarik trafik pasti bakal diulas habis, digoreng sana sini. Tambahin bumbu-bumbu biar lebih dramatis. Ini seni.

Apalagi kalau konsepnya advertorial, bahasa gampangnya titip berita.

Makanya sebenarnya yang fair itu ya sosial media atau citizen journalist. Karena si sosial (siapapun) yang sharing konten, dan tanpa mencari profit.

Walopun kayaknya sekarang juga udah mulai banyak yang main rekayasa di media sosial. Haha..


Setelah hari buruh, hari pendidikan. Ada apa ini? Mungkin cita-citanya agar buruh itu menjadi terdidik. atau yang terdidik itu menjadi buruh.

Mengenai yang kedua, ada diskusi menarik tadi siang. Seorang kawan bicara menyalahkan para sarjana-sarjana terdidik yang menjadi “buruh” perusahaan asing. Dia bilang percuma saja, ga nasionalis, mentalnya pragmatis.

Lalu saya tanya seharusnya bagaimana? Dia bilang lebih baik merintis usaha. Bisnis katanya. Buka lapangan kerja katanya.

Saya tanya, lalu apa gunanya kuliah kalau ilmunya ga dipakai? Dia bilang itu membentuk pola pikir saja. Continue reading ‘Dialog Hari Buruh Hari Pendidikan’




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers